Temen kuliah saya namanya Krisno. Kami satu jurusan kendati beda kelas; saya golongan kelas A, dia di B—baik secara absensi maupun derajat hidup. Saya nekat bilang kami temen walaupun belum tentu dia berpikiran sama, apalagi kalau dikaitkan dengan fakta bahwa sampe sekarang saya gak tau nama belakang si kunyuk. Sebelum kamu ngecap Son Agia sebagai tipikal kawan bajingan, izinkan saya membangun sebuah alibi. Gak peduli sesering apa pun saya meluangkan waktu buat nyari tahu, nama belakang Aa Krisno akan tetap jadi satu dari delapan misteri terbesar yang kerap bikin saya susah tenang. Urutannya kira-kira di bawah tanda-tanda eksistensi alien dan tepat di atas kasus kematian Udin wartawan Bernas.

Ini bukan seperti dia sengaja nyembunyiin identitas diri, nggak. Orang ini cuma punya problem memakai nama samaran tertentu selayaknya bocah geng motor yang doyan nyorat-nyoret di rolling door warungnya Bu Asep. Contoh di Facebook:


Sama kuatnya dengan kepercayaan saya terhadap teori hegemoni Antonio Gramsci, saya juga sangat betul-betul percaya nama lengkap si jablay bukanlah Nao Atsushi Krisno. Dan tolong jangan tanya dari mana dia dapet hidayah untuk mengakhiri nama akunnya itu pake tanda kurung.

Teka-teki perihal siapa identitas asli Krisno sebenernya perlu disepelei, mengingat kawan-kawan seangkatan biasa manggil dia lewat sebutan simpel Kristun—dirujuk dari akronim ‘Krisno’ dan ‘kartun.’ Ada juga beberapa adik kelas yang secara sukarela menyebutnya Senpai Kris—panggilan yang selalu sukses bikin dia nahan senyum sekaligus memancing hasrat Son Agia untuk nge-bully anak-anak itu.

Dengan jaket Attack on Titan warna cokelat yang senantiasa dia pake ke kampus, wallpaper Ichigo Kurosaki yang terpampang di laptop dan ponselnya, serta nada dering OST Sword Art Online yang bunyi tiap kali nerima telepon, akan timbul kontroversi tingkat tinggi bila ada yang sembarangan menuduh Kristun sebagai titisan anak punk.

Saya sendiri bukan pribadi tanpa cacat semasa jadi mahasiswa. Nggak kehitung berapa banyak momen pilu yang kapan aja siap diungkit oleh kawan-kawan saya di grup Whatsapp, salah satunya nginjek tai manusia dengan rasio probabilitas sebesar 1:8 (waktu itu saya dan tujuh orang temen lagi jalan kaki bareng ke kampus).

Bersahabat dengan Sen— si Bagong Kristun, sekalipun tidak tergolong menyedihkan, saya kira layak dijadiin sorotan utama kalau-kalau ada yang nanya pengalaman paling aneh selama saya kuliah.

Kami berdua sama-sama penikmat anime. Namun beda dengan Senp— si Krisno Komodo, sisi lain saya ini kurang begitu terekspose di mata publik. Kegemaran saya nonton anime bisa diibaratkan seperti bayangan, dan adanya Kristun di kehidupan saya mau gak mau memosisikan dirinya sebagai cahaya. Semakin terang satu cahaya, makin gelap pula bayangannya. Itulah kenapa demi Allah saya gak pengen kalo sampe cahaya si Senpa— Chu Pat Kay kian bersinar.

Masalahnya satu: saya akan berpindah sosok dari cowok yang giat diskusi tentang bursa transfer Liga Inggris di jam-jam perkuliahan, menjadi pria yang seketika peduli soal siapa pengisi suara anime terbaik sepanjang masa tiap kali maen ke kosan Aa Bagong. Kenyataan bahwa dulu dia juga pernah ngajak Son Agia ke bioskop nonton Stand by Me Doraemon dan hadir di sejumlah festival Cosplay of course malah menambah rumit keadaan.

Spektrum kedekatan kami bahkan sudah sampai ke titik di mana ia rajin memprovokasi alter ego saya dengan cara dicekoki hal-hal bersifat trivial seputar negara Jepang. Misal sewaktu dia ujug-ujug ngasih tahu kalo ternyata . . .

“Perempuan di Tokyo rata-rata ngasih keperawanan ke temennya sendiri.”

“Bukan pacar?”

No.”

“Anjir ha ha ha,” saya jawab, tak luput sembari memprediksi di umur berapa anak ini bakal ilang keperjakaan. Tiga puluh? Tiga-tujuh? Empat puluh enam?

Pernah suatu hari saat kebetulan mampir ke kosannya, entah kenapa tiba-tiba tenggorokan saya berasa agak seret. “Cees, haus euy.”

“Coba minum air keran, Son,” kata Krisno, ketawa. “Biar kayak orang Jepang.”

“Serius air keran?” Di titik ini saya udah positif seratus persen si buldog bakalan tetep perjaka sampe usia lima puluh. Sekarang tinggal nebak-nebak aja, jalur apa yang kelak akan dia ambil . . .

A) Nikah?
B) Saritem-kah?

Maaf, opsi C (jalur ngeseks with pacar) gak akan saya cantumin lantaran: [1] mengasosiasikan Krisno dengan istilah ‘pacar’ merupakan bentuk penghinaan paling keji terhadap tatanan bahasa Indonesia; [2] ngebayangin Kristun telanjang di depan wanita = ngebayangin Adolf Hitler curhat masalah keluarga ke orang Yahudi.

“Serius. Jangan salah tapi bro, air keran di Jepang mah bersih, gak kayak di kita. Soalnya udah ada program khusus sanitasi dari pemerintah sana.”

“Oke cukup,” kata Son Agia. “Intina mah kan aing menta cai keur nginum, goblog. Galon mana?”

Konklusi: jalur PSK. Pasti.

Supaya rada adil buat Krisno, jujur sih saya beneran salut sama sikap dia yang terbilang nyantai. Kefanatikannya terhadap sesuatu yang bagi sebagian kalangan dinilai cemen, nggak lantas bikin dia mengucilkan diri atau bahkan yang lebih parah lagi: bergaul atas dasar keterpaksaan. Padahal seandainya dia mau, saya yakin orang ini sanggup ngumpulin ribuan massa untuk berdemo di depan gedung DPR sambil ngibarin spanduk bertuliskan, “KECAM DISKRIMINASI!!! ANIME > FILM2 SUPERHERO MARVEL.”

Keberanian dia menamai Nao Atsushi Krisno (Lighto) di semua akun medsosnya juga patut diacungi jempol. Tanggapan jijik orang-orang rasanya tidak sebanding dengan penderitaan batin yang setiap detik harus dialami si siluman lipan, mengingat dari keempat kata yang dia susun sedemikian rupa itu, cuma ‘Krisno’ yang hingga kini belum pernah digunain sebagai nama tokoh utama dalam sejarah peranimean. Beban tuh.

Begitulah memang Kristun: cahaya menyebalkan yang tak kunjung sirna walau sudah saya paksa sekuat tenaga; pribadi sosial yang menolak bersekutu dengan hanya satu kroni tertentu; seorang analis yang aktif memberitahu orang lain bahwa mayoritas cewek di Tokyo berbondong-bondong ngasih keperawanan ke temennya sendiri—tiga kualitas fundamental yang timbul semata-mata karena ia nyaris menyukai semua orang, sebagaimana semua orang pun—kecuali perempuan pastinya—menyukai dan menghormati Senpai Kris.

Anjing, kelepasan.

Ganti topik.

Sebetulnya nggak sulit nentuin sepuluh anime (serial, bukan film) favorit saya sejauh ini. Bahkan tanpa mikir lama pun pilihan saya akan jatuh pada [1] Prince of Tennis, [2] Hunter x Hunter, [3] Cowboy Bebop, [4] Nana, [5] Gintama, [6] Samurai Champloo, [7] Kuroko no Basket, [8] Case Closed, [9] Yojouhan Shinwa Taikei, dan tentu [10] Dragon Ball.

Pertanyaannya, secetek itukah saya sampe-sampe memasukkan serial di atas dalam daftar sepuluh terbaik? Menyebut mereka favorit nggak bakal bikin orang kaget, sebab itu sama aja kayak ngomong Israel lagi musuhan sama Palestina, Agia Aprilian mirip model papan atas, manusia butuh makan, senyuman Agia terlampau manis.

Di postingan ini saya mesti nyusun daftar yang seenggaknya ngelibatin proses seleksi. Saya selalu beranggapan bahwa selera yang bagus itu memang ada. Logikanya jelas, ketika menyortir sesuatu, kita cenderung menggunakan akal sehat yang didukung oleh objektivitas serta sentimen dan sikap keras kepala, belum lagi filter yang luar biasa ketat. Sehingga manakala satu produk—dalam hal ini anime—berhasil melewati filter tersebut, maka otomatis akan terbentuk sebuah referensi yang amat keren. Setuju tidaknya masyarakat dengan preferensi kita, itu sih lain soal.

Ketimbang berargumen dengan tameng selera tiap orang itu beda-beda, lebih baik busungkan dada dan tanamkan sedikit arogansi dalam diri.

Dengan menyebut nama Krisno yang maha cosplay lagi maha otaku, inilah Top 10 Anime Versi Son Agia!


 1. SPACE BROS. 
Manusia condong tertarik pada banyak hal, luar angkasa salah satunya. Hamparan luas yang belum tereksplorasi secara utuh membuatnya terkesan sangat eksotis sekaligus misterius. Di tengah gonjang-ganjing ada tidaknya alien yang sampai saat ini masih seksi diperbincangkan, sisi nyata luar angkasa pun sebetulnya belum jamak diketahui, lebih-lebih oleh orang awam.

Anime sendiri setahu saya baru menelurkan dua serial bertemakan luar angkasa dengan unsur realisme: Planetes [2003] dan Space Brothers. Khusus judul terakhir, bukan suatu kebohongan kalo saya bilang anime keluaran 2012 tersebut telah becus menyajikan sebuah atraksi yang relatif gemilang.

Space Brothers mengisahkan tentang sepasang adik-kakak yang sewaktu kecil pernah sama-sama berjanji menjadi astronaut. Di saat adiknya sudah bersiap jadi orang Jepang pertama yang menginjakkan kaki di Bulan, Mutta, sementara itu, sudah sekian lama melupakan janji yang dulu mereka sepakati. Tayangan berjumlah 99 episode ini memuat pesan klise yang sejak lalu sering kita denger di mana-mana: gapailah impianmu.

Lika-liku perjuangan Mutta dan kepribadiannya yang mudah menggaet simpati pemirsa—tanpa kudu ngerasa iba—lebih dari sekadar cukup untuk dijadikan daya pikat Space Brothers. Jayalah selalu astronaut!


 2. SAKIGAKE!! OTOKOJUKU 
[SISWA KELAS 1 SMA OTOKOJUKU]
MAN OF THE MATCH: SI BOTAK NAZI

Sesekali mampirlah ke Otokojuku, sekolahan yang dihuni ratusan siswa SMA drop out di berbagai penjuru. Tapi tolong jangan pernah samakan sekolah ini dengan institusi pendidikan lain, karena mustahil di sana kalian akan menemukan ekskul, kantin, perpustakaan, wali kelas penuh perhatian, atau sekumpulan murid yang lari keliling lapang saat pelajaran Penjaskes. Dalam rangka memperkuat nyali, harga diri dan kejantanan, plus menumbuhkan gairah masa muda berbasis ideologi nasionalisme, Otokojuku mendidik para siswanya dengan metode paling brutal nan maskulin.

Mungkin bagi laki-laki yang pernah mondok di pesantren seperti saya (surprise!), sensasi nonton Sakigake!! Otokojuku nggak beda jauh kayak ngeliat kumpulan album berisi foto-foto jadul. Ingatan saya ngedadak mundur ke zaman SMP di mana telapak tangan milik ustadz acap kali menempel di pipi; telinga yang tak henti mendapat intimidasi dari mulut beringas para kakak kelas; begitu pula pasangan kayu rotan dan paha, yang lama kelamaan akan kami anggap seperti Romeo dan Juliet saking seringnya mereka berpagut mesra sampai-sampai meninggalkan satu bekas.

Saksikanlah Otokojuku dan tonjolkan sisi maskulinitasmu! Ah tapi sebelumnya, mari kita setop kebiasaan nge-chat pake emotikon ke sesama pria.


 3. TENTAI SENSHI SUNRED 
Selain Gintama, Tentai Senshi Sunred akan selalu jadi senjata andalan Son ‘tuk membungkam siapa saja yang berani mengklaim punya tontonan terkocak—tak terkecuali mereka yang menyodorkan Danshi Koukousei dan Cromartie High selaku lawan tanding.

Jauh sebelum One Punch Man nongol dan digilai secara lebay oleh para penggemarnya, ada satu pahlawan super bernama Red—parodi Ranger Merah—yang selain jago mukul, ia juga kompeten dalam urusan malak duit, nindas orang, minta makan, dan berkhotbah selagi ngerokok pada lawan berantemnya. Berhubung kisah Saitama cs. baru tayang satu musim, terus terang aja saya belum sanggup nentuin mana yang lebih seru di antara dua anime ini, tapi satu hal saya jamin: Sunred seribu kali lebih lucu.

Koreksi, maksud saya tujuh ribu.

Jarang-jarang kita bisa ngeliat segerombolan penjahat yang sopan, rukun bertetangga, rajin beres-beres rumah, jago masak, atau minta tolong ke Pahlawan buat ngebenerin robot monster yang nantinya bakal ia hajar-hajar juga. Dan nggak setiap hari pula kita menjumpai tokoh superhero yang punya keseharian mabok, nyetel TV, maen judi, maupun kena semprot pacarnya gara-gara nolak pergi belanja.

Tentai Senshi Sunred adalah sebuah pertunjukan yang memang ingin memuncaki genre humor dan berhasil secara spektakuler.


 4. HONEY AND CLOVER 
Bau-bau intrik mesti terlibat apabila seorang cowok yang sejatinya kurang nafsu nonton cinta-cintaan, menasbihkan Honey and Clover sebagai bagian dari daftar favoritnya. Dalam ranah anime secara spesifik, saya sama sekali nggak anti ngonsumsi genre romance—sebaliknya justru: saya pengen belajar suka. Sempet saya jajal beberapa judul, termasuk yang katanya rugi kalo gak ditonton macam Clannad, Kimi ni Todoke, My Little Monster, Ao Haru Ride, Toradora! dan masih banyak lagi.

Bagai oase di padang pasir, datanglah Honey and Clover, satu dari segelintir kisah asmara yang kuat saya saksikan selama lebih dari lima episode. Di samping karena latar kampus dan keunikan masing-masing karakter, tayangan ini juga mampu menawarkan satu poin krusial yang gagal saya temukan di anime roman mana pun, yaitu (kekuatan) suara hati.

Boleh sebut ini angkuh, tapi saya selalu meyakini bahwa minimal di usia dua puluhlah seseorang baru bisa betul-betul paham dan punya kapasitas untuk memaknai apa itu afeksi, apa itu kekaguman, dan jalan keluar macam apa agar ketertarikannya pada satu individu dapat tersalurkan—atau barangkali terkamuflase—serasional mungkin.

Cerita cinta bocah SMA? Bau kencur, ceesku.


 5. LEGEND OF BLACK HEAVEN 
Lewat nama panggung Gabriel Tanaka, dulu Oji merupakan gitaris band rock yang sempat tenar di kalangan anak muda. Sekarang ia cuma seorang pekerja kantoran yang tengah mengalami krisis paruh baya dan menjalani keseharian super monoton bersama keluarganya. Hidup Oji tahu-tahu berubah saat seorang alien seksi memberitahukan bahwa dialah sang Juru Selamat, dan dengan adanya perang antar galaksi yang tengah berlangsung, kepiawaian bermain gitar Oji akan jadi penentu bagi keselamatan penduduk Bumi.

Metafor, metafor, metafor. Seluruh komponen terkait fantasi di sini jelas hanya sebatas imajinasi yang muncul di kepala si tokoh utama—setidaknya menurut saya. Ada semacam korelasi gamblang antara pertempuran yang terjadi di luar angkasa dengan apa yang sedang dihadapi Oji dalam realitas kehidupannya.

Banyak hal saya suka dari Black Heaven, seperti bagaimana upaya MC mengikis jarak dengan sang anak, usahanya memperbaiki rumah tangga, serta penokohan Yoshiko (istri Oji) yang membuat penonton tidak lantas memihak pada siapa pun. Saya selaku personel sebuah band vakum bernama GDS [Green Day Sosiologi—red] juga bisa memahami dampak rindu yang Oji rasakan pasca bandnya bubar.

Oiya terakhir saya mau tanya, apakah video ini layak disebut kandidat opening anime terkeren sepanjang masa? Of course, setan!


 6. KEKKAISHI 
Meski sempet tampil saban sore di ANTV, saya mengapresiasi Kekkaishi bukan semata rasa suka berkedok tipuan nostalgia. Hampir mustahil mengatakan anime ini sejajar dengan serial shōnen-fighting lain seperti Soul Eater atau bahkan Ueki tanpa dikira sebatas luapan pretensi, itu saya ngerti. Hanya saja satu hal yang sering ngeganjel pikiran saya adalah bagaimana bisa kisah pertempuran Yoshimori melawan ayakashi, dengan segala keseruannya, luput dari jangkauan penggila kartun?

Padahal bicara segi premis dan eksekusi, Kekkaishi memiliki potensi besar untuk minimal keluar dari reputasi medioker. Ada alasannya kok kenapa serial ini rutin saya tonton ulang. Pertama, kevariatifan sistem bertarung. Kedua, punya latar belakang cerita yang kuat. Tiga, nihil karakter nyebelin (pencapaian langka bagi genre shōnen). Empat, BGM. Lima, tayangan filler yang jauh dari stereotip membosankan.

Mandeknya Kekaishi di episode 52 sudah sewajarnya jadi salah satu pemicu kebencian saya terhadap dunia ini.


 7. DEATH PARADE 
Gak semua orang mampu ngejawab pertanyaan, “Gimana rasanya hampir mati?” Lagi pula ini remeh-temeh kalau kita bandingkan dengan misteri kenapa manusia ciut akan kematian itu sendiri. Mereka yang mengenal agama mungkin punya alasan cukup eksklusif; konsekuensi siksa kubur, misal. Ada pun di lain pihak yang mengaku takut koit karena belum siapnya mereka meninggalkan orang-orang tersayang. Dan mari jangan lupakan kelompok periang berikut gagasan sederhananya: “Masih pengen nikmatin hidup.”

Setali tiga uang. Egois tidak egois, brengsek atau bukan, cinta kemanusiaan maupun antipati—dalam situasi normal, tak ada seorang pun yang sudi bersua maut. Tengok gladiator—hajar atau dihajar. Hilang sekejap moralitas jika sudah berurusan dengan nyawa. Entah apa yang hendak seseorang perbuat di kala dihadapkan pada dua pilihan antara mati atau membunuh, katakanlah, penyandang HIV. Merengek? Mendadak ingat dosa? Pasrah selagi mengingat orang-orang tercinta? Ah, godaan untuk tetap hidup rupanya jauh lebih menjanjikan, teman-teman. Kasus sejenis ini boleh kita daulat sebagai bukti konkret bahwa semistis apa pun kematian, masih mustahil bisa menyaingi tingkat kemisteriusan manusia beserta sisi gelapnya. Agia tampan.


 8. KAIBA 
Kaiba—kreasi seni yahud yang bikin saya terpukau lewat model animasi kekanakan dan terbius ke dalam cerita melalui formula yang maha jenius. Anime ini jelas bukan tipikal tontonan yang bisa kamu bawa santai. Kecuali rela otak terkena risiko mencret, saya rasa diperlukan sedikit perhatian ekstra agar dapat mencerna substansinya secara perfek.

Saya coba jelasin: Kaiba mengenalkan dunia distopia yang luar biasa kompleks di mana masyarakat diberi kebebasan mutlak untuk mengganti tubuh maupun memorinya—asalkan uang turut andil. Persoalannya ialah, kesenjangan ekonomi kaum borjuis dan proletar di sini kelewat jauh, sehingga bentrokan antar kelas pun tak terelakkan. Si kaya menghabiskan harta mereka untuk membeli tubuh keluaran teranyar dan terkeren, sementara rombongan miskin terpaksa menjual ingatan/kenangan indah mereka tentang sesuatu demi menafkahi keluarganya.

Orang berduit kepengen jago kalkulus? Ya gampang, tinggal cari aja makhluk kere yang ahli matematika, Niki Setiawan contohnya. Si jomblo a.k.a Reyhan Ismail ngebet pengen dipeluk cewek? Tenang, tampilan fisik bak selebritas tersedia di pasaran, Rey, begitu pun sifat penyayang.

Sekilas secara permukaan, plot sentral Kaiba sebetulnya tergolong biasa: sesosok lelaki amnesia yang berusaha mengembalikan ingatannya dan mencari tahu siapa wanita di balik foto liontin. Terkesan seperti sinopsis novel-novel Philip K. Dick? Memang. Oleh sebab itu serial ini paling cocok buat mereka yang ngerasa klop nonton Ghost in the Shell dan jatuh hati pada gaya animasi khas Yuasa Masaaki.


 9. GANKUTSUOU 
Jutaan terima kasih pantas tersemat kepada mendiang Alexandre Dumas. Berkat novel legendaris beliaulah kita dikaruniai sebuah hiburan kelas dewa bercorak fiksi ilmiah ala-ala kartun Jepang dengan titel Gankutsuou. Tanpa maksud mengesampingkan nilai estetisnya, anime produksi Gonzo ini tahu persis kapan ia harus berjalan pelan, joging santai, dan maen lompat tali sebelum akhirnya melesat dengan satu entakan tak terduga.

Penokohan Tuan Monte Cristo yang solidnya kebangetan—dia karismatik, manipulatif, elegan, penuh percaya diri—tak pelak jadi fokus nomor satu saya selama menonton. Dan lagi, biarpun terdapat banyak skema menarik dan efektif yang mengelilingi kehidupan para pemeran pendukung, tapi ayo kita amini sama-sama: candu paling lezat dari Gankutsuou terletak pada aspirasi sang lakon dalam membasmi keserakahan kaum aristokrat demi mengejar apa yang sejak lama ia idamkan—revenge.

Atau saya aja barangkali yang terlalu rumit, karena jika ditilik baik-baik, kedahsyatan drama Gankutsuou terjalin ketika seluruh elemennya melebur jadi satu kesatuan.


 10. BERSERK (VERSI ‘97) 
Seumpama ada orang asing tiba-tiba nyamperin dan berbisik ke telinga saya: “Fenomenal, ya Allah!” alih-alih lapor petugas Dinas Sosial, saya malah bakalan ngira dia lagi girang ngomongin serial animasi berjudul Berserk. Memang iya cara berdongengnya yang mendekati sempurna seakan mampu mengajak umat manusia untuk hijrah jadi makhluk sinting.

Di Berserk gak ada satu pun segmen yang bikin kita gatel untuk mengkritisi, saking setiap adegan serta dialognya terkesan intensional dan nyaris memiliki tujuan. Dan tidak sekali pun, saya ulangi, tidak sekali pun alur cerita anime ini berpotensi membuat kita gagal paham, terlepas dari betapa beratnya tema filosofis yang coba diangkat. Kesaktian storytelling tuh.

Beres! Ngomong-ngomong sehabis ditinjau ulang, saya akui daftar di atas masih bisa jauh lebih baik. Lagian bikin top-topan pake batasan sepuluh opsi itu sebenernya termasuk ide paling bloon dan gila. Bukan apa-apa, nyesek pisan anjrit gak bisa masukin judul-judul cadas lainnya kayak Baccano!, Fullmetal Alchemist, Cromartie High, Mushishi, Great Teacher Onizuka, Mononoke, Hajime no Ippo, Kino’s Journey, Cross Game, Welcome to the NHK, Rainbow, ERASED.

Saya tetep bangga sama pilihan ini, biar gimana pun. Sebagaimana saya katakan di paragraf lain, referensi yang lahir berkat hasil seleksi dijamin gak bakal mungkin jelek, syukur-syukur jika itu datang dari salah seorang SM (sampah masyarakat) yang terkenal jarang menggunakan kepalanya seperti Son Agia.

Maka lewat dogma sempit inilah saya berharap betul ada orang yang tanpa segan mau mendebat atau mengkritik atau sekedar meledek preferensi anime yang saya sebutin tadi.

Hancurkan doktrin tidak-pedean para tukang risau yang menggiring pikiran bawah sadar kita untuk percaya seolah selera masing-masing individu merupakan barang suci yang tak dapat diganggu gugat. Karena eh karena, pancaran keren seseorang akan tampak ketika dirinya tetap rileks pada saat menemukan orang lain berkata:


Ceesku gimana, punya anime favorit juga? Kasih tau dong ih apa aja! Sekalian kalau boleh saya pengen minta rekomendasi judul yang kira-kira mantep. Sangkyu!

NB: Sejauh ini belum ada yang sanggup nandingin OST Naruto secara keseluruhan. Sayang prestasi cemerlang itu harus tercemar oleh karakter-karakternya yang sungguh goblay.

17 KRITIK JAHAT

Tentai Senshi Sunred adalah anime paling bangke yang pernah kutonton, Agia. Barusan minggu lalu rewatch episode pertama sama ponakan dan dia ketawa-ketawa...

...karena nggak ngerti artinya soalnya full pake bahasa jepang dan subtitlenya Inggrisan. Wkwk.

Btw, judul dan tulisannya sungguh relate sekali ya. Saya salut.

Wow seneng rasanya ada yang sepemikiran gini. Kita doain aja May mudah2an nanti bakalan dilanjut ke season 3... eh tapi kayaknya mustahil deh. Season keduanya aja udah lewat 8 tahun.

Haha iya soalnya belum ada fansub yang bahasa indonesia kan. Kurang populer emang nih si Sunred. Salam buat keponakan neng Mayang!

Anying lu Son. Masa kesepuluh anime yang disebutkan kagak ada yang pernah saya tonton. Jam nonton anime lu kebanyakan sampe segitunya. Tapi salut sih karena anime yang lu tonton, bisa bikin artikel panjang sampe saya ketiduran pas bacanya. Kan koplak!

Berarti saya medioker sekali dalam menonton anime ataupun baca manga. Itu dari 10 enggak ada yang saya tahu. Wqwqwq.

Tapi seneng juga karena Gintama, GTO, HunterxHunter masih ikut disebut di daftar lainnya. :D

Saya juga hampir enggak pernah ngikutin anime yang romansa. Pengin coba suka, rasanya susah. Muahaha. Itu Ao Haru Ride sempet coba, tapi mendingan nonton live action-nya. Bisa lihat Tsubasa Honda. :3

Belakangan saya lagi ngikutin Manga Kingdom. Bukan dari Jepang sih, itu keluaran Cina. Ceritanya tentang sejarah Cina di zaman dinasti Qin ingin mempersatukan seluruh Cina. Sebetulnya saya kurang suka perang dan sejarah, anehnya entah kenapa bisa terbius. Kaget tau-tau udah baca sampai 500-an.

Sebenernya gak juga sih, din. Saya awal keranjingan nonton anime kira-kira taun 2011. Jadi referensinya masih dikit. Udah gitu cenderung selektif lagi. Haha sori nih tulisannya malah bikin kamu ngantuk. Kayaknya ini mah bukan karena kepanjangan, tapi cara bercerita saya aja yg kurang efektif. Lain kali mesti lebih lugas ini mah.

Kita cuma bisa ngarep semoga ada studio yang mau ngeremake GTO, yog. Mantep tuh. Wah tengkyu sarannya cees, insya Allah ntar mau nyoba nonton versi live action.

Waw cukup menarik. Tapi sayangnya cowok ganteng asal bandung ini gak doyan baca manga online. Gak kuat mata euy, layoutnya bikin bingung. Kalo versi cetak sih masih sanggup.

Kurang ajar banget One Piece sama sekali nggak disinggung acan.

Namun, harus saya akui dan aku sayai, gaya bahasa Agia memang oke. Bikin top ten anime aja bisa semenarik ini. Pede maneh.

Whoa, list-nya…. hahaha! Saya percaya ini list yang dibuat dari lubuk hati terdalam, bukan sekadar mau anti-mainstream. Dari list ini, saya sudah nonton nomor (3), (7), (8), dan (10). Kesan-kesan tanpa diminta:

-Sunred: langsung pengen ngakak inget anime ini. Geng penjahat superculun vs. jagoan supermadsu FTW. Ah, dan saya jauh lebih suka humor Sunred yang variatif dan membumi ketimbang satu joke yang diulang-ulang terus sampai mampus *//tidaksebutmerektapiAndapastipahammaksudsaya

-Death Parade: selalu suka tema-tema berbau kematian begini (#maafsayaorangnyasuram). Ngakak setiap nonton OP-nya yang jenius itu; awalnya kerasa amat sangat nggak nyambung sama animenya, tapi sebenarnya PAS banget. Lots of manly tears shed at the final episode & smile scenes.

-Kaiba: WHOA ADA JUGA YANG NONTON & SUKA INI. Brilian plotnya, indah musik & visualnya. Nggak sebagus Ping Pong atau Tatami Galaxy, tapi ini Yuasa favorit saya (*susahjelasinnya).

-Berserk: *langsung terngiang track Forces* Gilak lah bangun konflik, dunia & endingnya. Inilah akibatnya kalau perasaan pada sahabat lelaki jadi membabi buta tak terkendali /waitwhat

Wah sial, nggak ada yang bisa diledek/dikritisi…. semua itu saya suka, serius. Sisanya juga pernah saya dengar & ada di list yang pengen ditonton…. entah kapan.

Oke, seleramu sudah makin terendus bro, saya bisa lumayan pede ngerekomendasiin ini:

-Mouryou no Hako: mindfuckery murder mystery

-Kaiji: cerita survival/thriller tentang perjuangan bertahan hidup seorang pria yang tercekik utang

-Aoi Bungaku: antologi adaptasi dari cerita-cerita klasik empu sastra Jepang macam Akutagawa, Dazai, Soseki.

-Nana: persahabatan, cinta, ngeband, dan segala kegoblokan masa muda dari orang-orang yang akhirnya gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan

-Natsume Yuujinchou: Mushishi versi SMA, penekanan kalau manusia itu hidupnya pendek banget dan semua interaksi harus disyukuri, termasuk dengan orang random di Internet

-Giant Killing: drama sepakbola profesional di Liga Jepang (*iye bukan anak sekolahan lagi) dari, untuk, dan tentang orang yang cinta mati sama bola. Lebih seru baca komiknya sih.

-Bokurano: nonton aja pokoknya.

Segitu aja dulu yang keinget~

Sumpah awalnya one piece saya singgung di NB2, ris. Tapi langsung saya apus sebelum mencet publish. Nih kalo mau tau kata-katanya: NB2: Bahan renungan: Katakan Putus ➣ Putri yang Ditukar ➣ One Piece

Ha ha soalnya gak adil sih kalo dihina sementara saya aja baru pernah nonton sampe episode 30. Maaf-maaf aja nih cees, di antara the big three, cuma Bleach yang saya demenin. Naruto & One Piece tai.

cerita pembukanya kayaknya murni buat ngatain orang aja ya. hahaha

dari semua yg disebutin diatas, enggak ada yang gue tau.tapi kayaknya gue lumayan tertarik sama anime otokojuiku plus berserk. tapi yg malesnya adalah mencari file film yg ribet dicari. dan kalau novel GANKUTSUOU ini emang beneran seseru sesuai deskrepsi lu gitu ya? gue malah penasaran. tapi dari sekian daftar anime, yang bikin gue kaget adalah, elu beneran anak pondok juga?

Wow ada Aravena, salah satu user goodreads favoritku! Oke mari kita ngobrol, cees.

"Saya jauh lebih suka humor Sunred yang variatif dan membumi ketimbang satu joke yang diulang-ulang terus sampai mampus *tidaksebutmerektapiAndapastipahammaksudsaya*"

Of course saya paham maksud anda, tuan! Sebutin jangan nih, biar pada belingsatan tuh fanbase? Ha ha.

"Ngakak setiap nonton OP-nya yang jenius itu; awalnya kerasa amat sangat nggak nyambung sama animenya, tapi sebenarnya PAS banget."

Misal ada orang yang bikin list OPENING ANIME PALING KEREN SEKALIGUS MENIPU, saya bakalan teror dia seandainya OP death parade gak ditaro di tiga besar.

"Kaiba nggak sebagus Ping Pong atau Tatami Galaxy, tapi ini Yuasa favorit saya *susahjelasinnya*"

Gak perlu dijelasin, cees. Ngerti kok. Bahkan pas bikin tulisan ini pun sebenernya saya ngalamin paceklik — bingung milih antara ping pong atau kaiba.

"Berserk: Gilak lah bangun konflik, dunia & endingnya. Inilah akibatnya kalau perasaan pada sahabat lelaki jadi membabi buta tak terkendali."

Dimohon kepada tuan Griffith agar segera mengulang pertarungan lempar air bersama tuan Guts. *Eh ngomong2 bnyak yg bilang versi manganya lebih keren. Di kita rilis gak sih?

"Wah sial, nggak ada yang bisa diledek/dikritisi... semua itu saya suka, serius. Sisanya juga pernah saya dengar & ada di list yang pengen ditonton... entah kapan."

Haha bener-bener kawan seperguruan ini mah. Entah buku atau anime sering sepemikiran kita. Oiya jangan lupa ven coba juga kino's journey. Yang season 1 tapi, jangan yg 2018, kurang atmosferik.


Oke kalo begitu saya mau naruh harapan setinggi langit di rekomendasimu itu, cees.

Mouryou no Hako: "mindfuckery murder mystery"? Of course yang begini yang saya cari!

Aoi Bungaku: waktu dulu pernah denger beberapa kali. Mungkin sekaranglah saatnya saya coba.

Bokurano: sedang proses donlot.

Nana & Natsume Yuujinchou: menunggu Bokurano selesai didonlot.


Alhamdulillah udah nonton Giant Killing. Seenggaknya dua kali dalam sebulan saya ngurung diri di kamar untuk meratapi kebodohan umat manusia yang tak kunjung merilis season kedua anime ini.

Percayalah, saya sempet nimbang-nimbang mau nyelipin Kaiji ke tulisan ini. Tapi kayaknya dia lebih pas masuk 30 besar. TONEGAWAAAAAAA!!!!

Btw gak ada rencana bikin top 10 sendiri cees? Ya kali aja ada judul yang bisa saya hina gitu ha ha.

Ha ha sudah kuduga, seorang santri teladan macam Ahmad Fauzi pasti bakal tergiur nonton Otokojuku. Soal nyari tempat download, tinggal googling aja pake keyword Download [nama anime] batch, zi. Jadi biar downlotnya sekali jalan. Eh tapi otokojuku mah gak ada di situs download, adanya streamingan. Yoi, keren banget emang. Pernah nonton/baca the great gatsby? kalo suka, kemungkinan besar u juga bakal doyan Gankutsuou. Setting + ceritanya mantep.

Pernah dong cees, 3 tahun pas MTS. Itu juga jadi momen 3 tahun paling nyenengin selama saya idup. Banyak banget pengalaman yg gak bisa dilupain. Hidup santri!

saya mah jarang nonton anime, anime2 yang disebutin aja terasa asing. gak gaul emang. tapi pas SMA nonton naruto terus di kelas sama guru. naruto tai emang.

Baik, saya mengerti. Tapi mohon setidaknya kondisikan ava anda itu.

Wah anime, tapi saya sukanya anime yang grafiknya kekinian dan cerita tentang school life, tapi bodo amat ya gak ada yang nanya pula.

Jepang emang secara etika dia bagus banget sih emang, ya setiap negara punya kekurangan dan kelebihan, entahlah.

dari list anime yang tersaji di atas, belum ada yang saya tonton :(
mesti banyak meluangkan waktu lagi nie buat menyerap keseruan anime-anime di atas

"Of course saya paham maksud anda, tuan! Sebutin jangan nih, biar pada belingsatan tuh fanbase? Ha ha.."

Kagak usah, udah cukup kenyang saya dicekokin statement "lo terlalu serius dah, nikmatin saja lah" setiap saya ceramah soal borok-boroknya tuh anime.Statement paling ampuh buat mengakhiri semua argumen berbau anime kayanya.

Oh, tapi Mob Psycho lebih menarik. Udah coba yang itu?

"*Eh ngomong2 bnyak yg bilang versi manganya lebih keren. Di kita rilis gak sih?"

Nggak, sayangnya. Saya juga males sih kalo baca online scan sekarang. Tapi untuk tema sejenis yang juga yahud, saya bisa rekomendasiin Vinland Saga dan Historie. Carilah di toko komik bekas terdekat.

"Btw gak ada rencana bikin top 10 sendiri cees? Ya kali aja ada judul yang bisa saya hina gitu ha ha."

Hmm, dulu pernah bikin sih, cuma kayanya sangat perlu diupdate mengingat selera saya dulu.... yah begitulah. Sudah banyak berubah. Brb semedi dulu, nanti ta' kabari kalau sudah siap.

Blogku adalah kebebasanmu. Dipersilakan kepada para agen judi untuk berkomentar selincah-lincahnya.
EmotikonEmotikon