• • •
“Kita pun terus melaju,
Mengarung berlawan arus,
Kembali tiada henti menuju masa lalu.”

–F. Scott Fitzgerald
The Great Gatsby
• • •

Dia nyengir. Dari sekian bentuk ekspresi yang dapat manusia gunakan dalam komunikasi nonverbal, pada Kamis malam itu Jumanji memilih opsi nyengir sebagai bahan tunjang pencurahan emosi. Entah apa ia tahu pilihannya tersebut malah menguatkan persepsi kami betapa parasnya itu terlihat mirip tai. Ritme mengisap rokok yang cenderung kurang sesuai pedoman, tampak seirama dengan gerakan badan serta kedua tangannya yang tak beraturan–ciri umum orang nan jarang jadi pusat perhatian. Dida Limbad, yang kebetulan waktu itu duduk di samping saya, seketika malu dan menghentikan permainan gitarnya begitu ia sadar ada situasi tengah menanti.

Kami masih asyik bertanya-bertanya siapa dan problem macam apa sebenarnya yang ada di kepala Jumanji ketika salah satu bocah–motif dan pelaku agak blur–menyarankan patungan untuk jajan Bala-Bala Gengster di kawasan Ujung Berung. Setelah lima orang mendiamkan si kunyuk dengan iming-iming ancaman pembunuhan, barulah sang lakon bisa leluasa mengeluarkan satu pengakuan paling biasa yang pernah seseorang ucapkan di sebuah forum curhat. Dia bicara bukan saja dengan suara pelan tersendat, pun dengan nada yang sedikit goyang oleh ulah cengar-cengirnya.

“Ya intinya gitu, SMS-ku paling cuma dibales sekali-dua kali doang,” kata Jumanji. Mari kita pura-pura anggap orang Cigondewah ini lancar berbahasa Indonesia dengan kata ganti ‘aku’ supaya terasa lebih menjijikan. “Sedih gini.”

Intonasi yang ia pakai sewaktu melontarkan kalimat akhir tak kuasa bikin kami saling tengok satu sama lain, disusul heningnya atmosfer selama beberapa saat. Ini bukan gambaran rasa prihatin, tentu saja. Kami cuma sedang kewalahan mencari di mana letak ‘sedih’ yang dia maksud. Di Jalur Gaza? Bisa jadi.

Sebegitu dahsyatnya bahkan efek dilema yang ia picu sampai-sampai hanya tersisa seorang Dekol–individu tercakap di antara gerombolan para pecundang ini–yang entah bagaimana mampu menguasai diri dan berhasil keluar dari zona angker. “Oke, manéh sok ngabahas naon waé emang?”

“Banyak sih. Mulai dari ngucapin selamat pagi, nanya kabar atau kesibukan, jadwal kuliah besok–pokoknya yang sekitaran itu deh. Jujur aku gak berani jauh kalo dianya belum terbuka, Kol.”

Hai, met pagi!

“Oh, jadi manéh hayang apal pisan kabar awéwé nu unggal poé ku manéh panggihan?” Ugoy bertanya. “Beda euy turunan Habibie mah. Cerdas.”

Limbad kali ini ikut bersuara: “Terus ngapain lu segala nanya jadwal kuliah ke temen sekelas? Bego banget ih najis.”

“Ya abis mau gimana lagi, Bad? Aku kan cuma ngelakuin apa yang kemaren kalian bilang: banyakin basa-basi.”

Tak perlu meminta analisis seorang psikolog atau pakar komunikasi, reaksi masing-masing dari kami, tanpa terkecuali, adalah dengan sibuk mencari-cari cara ‘tuk meredam timbulnya suara tawa. Kami musti tetep lempeng, biar mati resikonya, agar dapat selalu konsisten menegakkan apa yang sejak lama kami pegang teguh: “Hiji curhat, répéh kabéh.” Maka wajar jika sulit menemukan secercah ketulusan hati yang tidak kami tepis lewat beragam dalih dan ironi yang faktanya memang sudah mendarah daging dalam kelompok ini.

Tanpa ingin terdengar lebay, Asep Saepul Anwar merupakan salah satu sosok yang sangat saya waspadai sisi prediktabilitasnya. Ia punya banyak koleksi alias (sebut saja Atet, Kiwil, Mantit, Podol Grandong) dan siapa sangka, ‘Asep’ adalah sapaan yang justru jarang disematkan oleh ceesnya sepergaulan. Saya sendiri dari waktu ke waktu makin terbiasa menyebutnya Jumanji, meski secara ironis beliau mengaku asing dengan judul film yang jadi asal-usul panggilan ini.

Riwayat mengenai kapan awal mula ia kenal gadis bernama Arofi termaktub pada hari mereka resmi belajar Sosiologi, persis di waktu dan tempat ketika Arofi mulai mengenal pria bernama Agia beserta puluhan mahasiswa lainnya. Tanpa momen dramatis, tanpa insiden tabrak-menabrak, dan pastinya tanpa melibatkan adegan di mana dua insan aktivis berjuang dalam sebuah aksi demo. Mereka dipertemukan murni berkat takdir yang terikat melalui jalur administrasi.

Proses perkenalan yang jauh dari kesan eksklusif ini sebetulnya belum pantas disebut realita ngeri sebelum kita bandingkan dengan kenyataan bahwa, di Bandung ada sekitar tiga juta perempuan yang sama sekali tidak peduli untuk apa Asep Saepul Anwar hidup dan bernapas, dan siapa pun pasti berani taruhan dari total tiga juta itu terselip nama Arofi.

Seorang wanita manis, namun bukan yang sadar kalau dirinya manis; penyantun tulen, murah senyum juga rendah hati–dengan kata lain, jenis perempuan yang layak menerima lebih dari sekadar pertanyaan tentang jadwal kuliah. Dari mana dan kapan tepatnya Asep memperoleh hidayah serta motivasi sehingga dia pikir punya kans memacari Arofi adalah misteri yang hingga kini masih kami selidiki. Penggunaan peribahasa Bagai pungguk merindukan Bulan jelas termasuk perbuatan dosa. Si Podol Grandong akan jauh lebih cocok diibaratkan Stoke City yang ingin memenangi tujuh trofi Liga Champions secara berturut-turut.

Pelatihnya Benny Dolo.

Tapi biar sedikit adil, saya mesti akui bahwa memang mustahil sikap lancang itu lahir kalau bukan karena keisengan anak-anak dengan segala cie-cienya. Lelucon kampung yang semula kami kira bakal amblas sekilat cahaya–dan memang harus–nyatanya malah bablas sampai ke level di mana kami tak tega berhenti menyebar dusta, terutama setelah kami mengerti apa penyebab di balik perubahan Jumanji. Dan walaupun sering dia jengkel tiap kali kami sok-sokan berperan bak makcomblang, saya bisa lihat ada semacam kepuasan terpancar di wajahnya yang seolah berteriak amin. Sementara untuk Arofi sendiri, saya rasa beliau cukup ikhlas terlibat dalam permainan ini selama tidak menjurus pada situasi yang dapat merugikannya nanti, seperti misal: diajak ngobrol Asep.

“Masalah teknis sabenerna mah,” kata Dekol mengembalikan arah diskusi pada trek semula. Dari gesturnya bisa dipastikan ia sedang bersikeras meyakini bahwa Asep bukanlah balita berusia tiga. “Iraha rék wani ngobrol langsung, Tet?”

Butuh waktu hampir semenit sebelum kami anggap Jumanji ogah memberi jawaban. Saya gak tahu kenapa, tapi besar kemungkinan dia mengira bahwa Dekol adalah jelmaan Socrates yang tengah bertanya mengenai hakikat keadilan bagi setiap warga negara.

“Jieun simpel wéh, cees. Syarat interaksi sosial aya opat, satuju? Nu ngirim, nu narima, substansi jeung pidbék. Aksi berdampak reaksi–sifatna nyaéta dinamis. Matak teu heran pidbék biasana nyesuaikeun jeung substansi si pengirim. Jadi mun sakirana manéh hayang meunang réspon nu gedé, wayahna manéh gé kudu nawarkeun sesuatu nu leuwih kongkrit.” Dekol, sekilas melirik Ugoy seperti seorang bawahan minta petuah sang komandan, bertanya, “Solusi lain?”

“Mun modar sakalian, kumaha?” Ugoy.

“Wanjing…” Saya.

“Buset…” Limbad.
“Goy…” Andri.

“Kok gitu…” Jumanji.

“Ari geus kumaha deui, Usman?” tanya Ugoy. “Percuma ayeuna méré solusi ari siana blah-bloh kawas kieu mah. Urang nanya yeuh, prosedur kahiji ngadeukeutan awéwé naon?”

“Awak seungit?” Andri.

“Nyakuan duit dong.” Son Agia.

“Boga beungeut ciga si Engkos.” Coki.

“Bawa permen Relaxa.” Limbad.

“Éta mah engké keur cipokan atuh Limbad, goblog.” Dengan segelas kopi di tangan kanan, Ugoy membetulkan posisi sila selagi tangan kirinya ia gunakan untuk mengisap tembakau. Entah siapa lagi selain saya yang setuju bahwa orang ini seratus persen sudah menyerupai dukun kejawen. “Kanyamanan,” katanya. “Haté awéwé mah teuas di mana-mana gé, cuy; ibaratkeun portal nu disegel. Salaku lalaki daék teu daék urang kudu boga konci sangkan bisa asup ka jero. Carana? Kanyamanan. Sok ayeuna mungkin teu, aya awéwé nu ngarasa nyaman pas ku sia béré SMS selamat pagi? Nya da si Arofi téh budak PAUD.”

“Tolol emang dia.” Limbad.

The Next B. J. Habibie bertanya, “Terus gimana dong?”

“Kieu wéh, Tet,” kata Ugoy. “Aya sih sabenerna mah jalan alternatif–lewat tukang. Leuwih babari deuih, teu kudu sagala muka segel maké konci. Sekelas Arofi gé dijamin bakal leuleuy tah. Daék manéh? Eh, tapi da moal mungkin kétang.”

“Kenapa?”

Ugoy bilang masalahnya terletak di wajah dan kami pun sontak terbahak. Kejam, tapi toh semua sepakat memang itu balasan paling sepadan untuk Jumanji, terutama karena dialah sebetulnya selama ini yang terlalu keasyikan menyandang gelar sebagai pionir pembolak-balik emosi.

Predikat yang merekat kuat sebagai ‘manusia bulan-bulanan’ ini tentu tidak sembarangan muncul, terlebih di mata kami ia nyaris selalu memandang dirinya rendah–suatu gejala inferior yang secara tidak langsung mensponsori keahlian kawan-kawannya di bidang caci maki. Faktor sampingannya pun tak kalah sedap: Jumanji punya segudang fitur yang lazim dimanfaatkan oleh para oknum sebagai sarana pelecehan—berkulit gelap, non-ganteng, tahan banting.

Satu peristiwa terngiang paten di ingatan saya ketika salah satu teman kami berhalangan hadir mengikuti Ujian Tengah Semester. Namanya Deri, alias Ugoy, alias Shrek, alias Winnie the Pooh, alias bajingan yang menurut data statistik paling gencar menginjak-injak martabat Asep. Begitu ditanya alasan kenapa dia mangkir di hari sepenting UTS, jawabannya luar biasa brilian: “Rada migren euy, geus saminggu leuwih urang can ngahina si Atet.”

“Wah parah lo,” kata Maul.

“Huuh parah ih Ugoy mah,” kata Jumanji, barangkali girang baru kali ini dia merasa terbela. Ia lantas mengambil sebatang rokok yang ditempelkannya ke mulut sebelum kemudian berkata, “Korek mana, Ul?”

Maul mengangkat tangan sebagai indikasi belum adanya hasrat menjawab pertanyaan, dan mau tak mau ini tampak seperti seolah si Jumanji baru saja melakukan tindak pencemaran nama baik. “Bentar, apa lo bilang tadi?”

“Pinjem korek.”

“Bukan, sebelumnya.”

“Si Ugoy parah?”

Saya bersama kawan-kawan lain pun kompak menyeringai, tahu persis kata mutiara apa yang akan segera keluar dari mulut bedebah asal Bekasi.

“Lah, yang parah mah elu, nyet. Tega amat lo bikin si Ugoy ngulang mata kuliah cuma gara-gara sakau pengen ngatain lo,” Maul berkata seraya menyerahkan korek lalu gereget menatap kami: “Bukan maen dah ni anak.”

Gatal rasanya membicarakan Ugoy tanpa secuil pun menyinggung rekam jejaknya selaku agen penista. Lewat manuver sunyi, berbisa sekaligus mematikan, anak ini sempat main perasaan dengan Dini Jenong–populer di kalangan mahasiswa Fisip sebagai perempuan yang dulunya aktif menduduki jok belakang motor Dekol. Walau besar keinginan saya ‘tuk berasumsi bahwa ini tak serumit yang dibayangkan, fakta adanya pihak yang jadi tumbal di sini justru hanya akan membuatnya kian kompleks. Dan lagi, tukang judi saya jamin bakal bangkrut andai mereka nekat memprediksi Dekol sebagai korban belot, ketimbang mempertaruhkan uang pada satu nama yang telanjur sudah akrab dengan nasib sial.


Saya termasuk satu dari sedikit orang yang tahu. Hak istimewa ini—jika boleh diistilahkan demikian—saya terima bahkan dari sumbernya langsung, dan dalam periode yang terbilang ekstrim pula: beberapa jam sebelum Jumanji hendak ia jejali dengan ribuan penjelasan serta rentetan ucapan maaf. Mungkin, sekali lagi mungkin, demi memberi ruang pada aneka macam rongsok yang ingin ia tanam di otak, Ugoy rupanya harus lebih dulu mengosongkan area di mana akal sehat dan teori sebab-akibat tersimpan.

Suatu malam saat kami berdua antri di sebuah warung nasi goreng, ia mengaku bahwa hubungan tersebut timbul di luar wewenang mereka selaku makhluk Allah. Kepada Son Agia, dengan penuh kesadaran ia menjabarkan konsep asmara yang datang karena terbiasa. Tentu saja selain sarat akan omong kosong, repetan ini juga terasa semakin geli lantaran diucap oleh seorang pria yang tampangnya lumayan identik dengan sosok jenglot. Saya bahkan sempat curiga kalau bukan karena koleksi video ‘Antropologi’ di laptopnya, Ugoy niscaya akan menyelipkan kalimat suci kun fayakuun.

Menuding saya tidak resah sama saja memfitnah, karena bagaimana pun saya mengenal Jumanji sebaik saya memahami tabiat asli Deri. Dan oleh sebabnyalah pantang bagi saya bertindak seakan-akan memegang otoritas sebagai pengendali moral. Maka sewaktu Ugoy mengkronologikan cerita dari A sampai Z, saya putuskan untuk diam dan diam–itu pun saya perbuat sambil tertawa dan menikmati masakan buatan mas-mas Jawa.

“Inget manéh pas si Jenong gering?” tanya Ugoy. Saya jawab ya, dan lanjut dia berkata: “Nah, urang jeung si Atet kan ngalayat ka imahna, naék motor boncengan.”

Jumanji, dari informasi yang saya dapat, mendadak dirasuki arwah Valentino Rossi. Ia tunjukkan segala kekuatirannya pada Dini, sang gebetan, dengan cara memacu kendaraan di atas kecepatan seratus kilometer per jam. Berbagai hambatan remeh yang ia temui baik lampu merah maupun iring-iringan komunitas Ninja dilabraknya tanpa kompromi. Namun sayang di saat bersamaan, terdapat satu ancaman yang luput dari pengawasan. Menyamar sebagai penumpang, Deri terlihat sibuk mengirimi pacarnya sebuah SMS berisi: “Ini lagi di jalan, Yank.”

Kalem, kalem, kalem. Sepulang dari warung, cuma kata itu seingat saya yang terus menerus ugoy rapalkan sepanjang kami berjalan menuju kosan, tempat di mana segelintir kunyuk akan segera jadi saksi terjadinya perpaduan komedi (bagi saya dan anak-anak) dan tragedi (bagi Jumanji). Terus terang saya bisa paham sulitnya berada di posisi Ugoy. Ini, berani saya katakan, bukan semata soal konsekuen, apalagi menyangkut persahabatan. Ini semua tentang misteri bagaimana kelak Jumanji akan bersikap, yang bagi saya pribadi, justru merupakan intrik horor sesungguhnya.

Meski di awal kami setengah berharap dia akan menghajar Ugoy tepat di bagian mata, pada akhirnya ia cuma sanggup menampilkan satu pemandangan yang tak lagi asing. Selagi mulutnya aktif mengunyah pilus seharga seribuan, Asep hanya bisa mengangguk, mengurut jemari, dengan sesekali melempar cengiran sebagaimana sering ia lakukan.

Dari situlah menyeruak sebutan Tragedi Pilus Rumput Laut.

Untuk sekadar catatan: tolong jangan kerdilkan betapa krusial peran seorang wanita dalam kasus ini. Di saat dunia beserta isinya tengah kalap menghadapi krisis intoleransi, Dini Jenong–sahabat saya–telah sejak lama sukses mengentaskan satu konflik yang tingkat destruktifnya boleh jadi melebihi percekcokan antar umat beragama–sekalipun itu ia lakukan di luar nalar kesadaran. Hanya dengan bermodalkan virus merah muda bernama cinta, siapa mengira beliau mampu menenggelamkan segala bentuk ego maupun dendam yang dalam situasi normal, mestinya ia bercokol menjadi tirai penyekat di antara barisan tiga mantan.

Cukup luar biasa, saya kira.

Kocak, tapi luar biasa.

Saya agak kaget denger kabar Jumanji mau nikah. Tambah kaget lagi setelah saya disuruhnya ikut jadi rombongan penganten. Ketiga kalinya saya dibuat kaget yaitu saat orang ini mulai ngebahas soal pencapaian target. Dulu, dia bilang, kami pernah bertukar info mengenai kapan atau di umur berapa saya dan dia menargetkan kawin. Jujur aja walaupun inget momennya, saya beneran lupa angka berapa yang waktu itu kami sepakati masing-masing.

“Ente target dua-tujuh, Son,” katanya di Whatsapp. “Urang ayeuna jalan dua-lima, sesuai janji.”

Bisa aja nih nyombongnya, Podol Grandong.

Kendala teknis bikin saya nongol ketika tamu undangan lain udah pada pulang. Suasana senyap, kecuali lantunan marawis yang jadi satu-satunya pertanda acara resepsi belum selesai. Saya perhatikan antusiasme grup ini masih lumayan tinggi, seakan gak peduli kalo sebenernya penonton yang mereka punya cuma tinggal satu, yaitu cowok keren yang duduk manis di tengah deretan kursi kosong sambil meratapi nasib sehabis ditinggal oleh kawan-kawan dan hidangan prasmanan. Saya kemudian bangkit, nyundut rokok, memungut kunci motor dan jaket sebelum akhirnya inget tujuan awal dateng ke tempat ini.

Bersender di kursi pelaminan, dia spontan nyengir begitu saya hampiri dan menyodorkan tangan. Saya lalu dikenalkan pada perempuan yang duduk di sebelah kiri, yang sosoknya sudah sangat familier berkat kebiasaan Asep mengunggah foto beliau di medsos dua kali dalam semenit selama hampir tiga tahun terakhir. Belakangan diketahui, Yuli yang akrab dipanggil Uwi ini ternyata adik kelas si Jumanji semasa SMP. Pembawaannya riang dan supel, bertolak belakang dengan teman saya yang cenderung pendiam dan goblok. Neng Uwi juga saya liat–

Oke, kita stop sampe situ. Brengsek banget saya ngomongin bini orang di blog.

SIRIK SETENGAH MATI
• • •
Saya pikir saya lebih suka menganggap Asep laksana atlet peraih perunggu. Dengan karakter condong abu, ia senantiasa rela menempatkan diri di antara sentimen durja dan gembira. Dia mungkin memang dirancang untuk gagap menentukan sikap antara bereuforia sebagaimana seorang kampiun, atau menahan tangis selayaknya si penuai medali perak.

Semua orang tahu ia bukan Jay Gatsby, yang oleh Tuhan diberkati berjuta ambisi serta obsesi demi mengejar apa yang mustahil ia cari. Dia hanyalah lelaki bernama Jumanji, bocah Cigondewah asli yang sukses menikah di usia dua puluh lima, prestasi yang secara otomatis akan membuat Tuan Gatsby sirik setengah mati.

Bisa jadi.

Perkara ngucapin selamat emang bukan spesialisasi saya, tapi untuk sekarang seenggaknya saya pengen sesumbar bahwa kebersamaan ini sedikit banyak merefleksikan tentang kerja keras, tentang loyalitas, dan lebih daripada itu, tentang dedikasi dan sukacita.

Teruslah makmur, ceesku!

Kutahu inayat menyongsongmu.

Meureun éta ogé.

• • •
NB: Kepada Neng Uwi, demi kemaslahatan bersama saya doakan semoga cepet-cepet punya keturunan. Bukan cuma buat nambah ibadah, saya yakin Neng juga pasti butuh penyegaran mata, betul? Denger-denger katanya orok itu lucu lho. Katanya. Silakan dicoba.

NB2: Prosesnya kudu ngelibatin si Asep tapi.
NB3: Masa iya sama temennya.
NB4: Komo jeung si Deri mah.

7 KOMENTAR

Blogku adalah kebebasanmu. Dipersilakan kepada para agen judi untuk berkomentar selincah-lincahnya.
SONAGIA.COMSONAGIA.COM

  1. Sepertinya saya memang butuh kamus bahasa sunda untuk membaca ini semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya paling tidak, hidup ini perlu juga basa basi. Saya juga butuh kamus hehehe

      Delete
    2. Fandi ama bang djangkaru klo perlu kamus sunda tinggal bilang aja. Saya jual deh pake imbalan foto selfie kalian berdua. Posenya saling megang dada di wc.

      Delete
  2. Itu judul kalimatnya si Philip K. Dick bukan, sih? Kayak pernah baca waktu itu.

    Pas baca nama Ugoy jadi inget temen yang manggil saya Agoy. Hahaha. Ejekan ke temen-temen akrab ini emang enggak ada lawan, ya. Tailah, sedih juga pas inget udah jarang maen bareng mereka lagi. Saya kangen ngatain beberapa dari mereka. Tapi kalau nasib mereka sekarang lebih cemerlang, yang ada malah saya jadi bahan hinaan. Wqwq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jogres tiga judul karya doi di sini.

      Ambil hape, cari nama kontak temen, chat, ajak ketemuan, kata2in sepuasnya. Solusi ampuh tuh cees.

      Delete
  3. Saya penasaran banget kayak apabitu si Arofi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kayaknya dia 1000% gak bakal penasaran kayak apa bang djangkaru ha ha.

      Delete