Lama gak nulis di blog, jari kerasa kaku di keyboard.

Tadi pagi saya ketemu Yuda.

Si Yuda ini temen sekampung saya; cuma beda RT. Kami sekolah di SD yang sama, bahkan pernah satu kelas. Dan biarpun di jenjang SMP-SMA sempet beda pergaulan, kami terbilang masih cukup deket. Main bola bareng, nyari ikan di selokan bareng, dan kalo gak salah pernah juga kami berantem cuma gara-gara hal sepele. Biasalah, darah muda.

Yuda dan saya memang bukan termasuk anak nakal, tapi bohong banget kalo ada ibu-ibu TGP (Tukang Gosip Pro) yang bilang bahwa kami layak masuk kategori bocah imut nan saleh dan baik hati.

Dipikir-pikir, saya gak inget kapan terakhir kali ketemu orang ini. Yang jelas, saya kaget begitu tau apa profesinya sekarang: TNI.

• • •

Jadi tiap Minggu pagi, di deket tempat tinggal saya ada semacam pasar jajanan. Lantaran di waktu dan tempat ini ada satu ritual di mana puluhan ibu-ibu bergoyang diiringi musik disko, makanya oleh warga, pasar ini disebut Pasar Senam—nama yang praktis. Mereka yang ingin agar tubuhnya tetep sehat dan bugar, berbondong-bondong dateng dan menirukan setiap gerakan sang instruktur yang mimpin jalannya senam. Ah ya, kadang saya juga ngeliat beberapa om-om berkumis yang ikut meramaikan. Antusiasme om-om ini keren banget—walaupun yang mereka pedulikan of course tubuh orang lain.

Sewaktu lagi jalan dan siap-siap mau joging, saya papasan sama Yuda yang kebetulan lagi ngantri beli bubur ayam. Dia manggil-manggil nama saya. Saya langsung kenal suaranya. Suara yang dulu pernah ngomong, “Eh tau gak? Orang yang jadi Dipsy (Teletubbies) kemarin meninggal, kehabisan napas pas make kostum.”

Sebetulnya saya udah denger soal kabar “tentara” ini dari salah satu temen SD, tapi jujur saya kira itu cuma hoax. Saya cenderung lebih percaya keberadaan Big Foot atau Loch Ness ketimbang kemungkinan dia mengabdi pada negara yang penuh dengan coreng-moreng ini (Aaaaaak Agia keren aaaaak!). Tai ah, bahkan mitos urban yang bilang kalo kita masih bisa temenan sama mantan pacar kedengeran lebih rasional bagi saya.

Daripada pikiran gak tenang, mending saya tanya orangnya langsung.

“Alhamdulillah, Gia. Kenapa, baru tau kau?” kata Yuda, mengungkap fenomena paling mencengangkan sedunia, sekaligus membocorkan aib kesatuan TNI.

“Berapa lama?”

“Tiga tahunan, kurang lebih.”

“Lagi bebas tugas atau gimana?”

Dia jawab, “Biasalah, rindu kampung halaman,” sambil ketawa ringan.

“Aduh gawat euy. Identitas bisa kebongkar ini mah.”

“Identitas?”

Aing kan teroris, anak buah Amrozi. Ulala.”

Lupa sejak tadi belum salaman, Yuda pun inisiatif ngulurin tangan sambil nanya kabar saya. Selang beberapa menit, kami sudah duduk bersebelahan, mangkuk bubur di masing-masing genggaman. Joging batal. Ulala.

Sebagaimana dua orang kawan lama yang reunian, di sini kami banyak ngobrolin masa-masa jadul, terutama yang menyangkut temen-temen SD dan anak-anak seangkatan kami di lingkungan ini. Di sela-sela percakapan, saya masih tetep nolak nerima kenyataan bahwa orang di samping saya ini merupakan anggota militer. Iya, rambutnya sekarang dicepak, cara duduknya ngedadak formal, wajahnya keliatan lebih resmi; belum lagi kaos warna ijo yang dia pake. Untung, begitu Yuda mulai ngejelasin soal kehidupannya selama jadi prajurit, barulah saya percaya kalo dia emang tentara beneran, bukan orang gila yang terobsesi jadi karakter Point Blank.

“Bintara. Pertama kita Pendidikan Dasar dulu, sekitar dua puluh bulan. Nah, yang lama itu Pendidikan Lanjutan sama dinasnya, Gia—bisa makan waktu sampe bertahun-tahun,” kata Yuda, intonasinya persis kayak dulu sewaktu dia ngejelasin ke saya tahap-tahap melakukan masturbasi—a.k.a. onani a.k.a. coli a.k.a. memanjakan diri sendiri.

“Nyogok? Koneksi?” kata saya, sambil nginget-nginget sabun merek apa yang dulu pernah direkomendasiin ama orang ini.

Ah, Shinzui Skin!

“Murni, bro. Alhamdulillah, doa kolot (orangtua) diijabat.” Yuda, yang tampak agak kesinggung sama pertanyaan saya barusan, ngelahap buburnya secara elegan—gestur ala militer, mungkin. Sekarang dengan posisi kami yang cukup deket, mau gak mau saya jadi bisa ngeliat tangannya yang lumayan kekar. Mirip salah satu pemain Smack Down . . .

. . . Mark Henry.

“Oh, gitu. Mantap,” kata Agia, bersikeras menahan diri untuk tidak bertanya-tanya mengenai penyebab membesarnya otot-otot itu: latihan fisik ataukah colay?

“Emang belum denger? Tahun kemarin kan pemerintah bikin program, Gia. Namanya Anti-pungli, kalo gak salah. Jadi sekarang praktek suap-menyuap udah gak lazim, sih.”

“Mantap,” kata Agia, si pria fantastis yang beberapa waktu lalu nganter sepupunya bikin SIM—nembak. Mungkin karena pengen cepet-cepet ganti topik pembicaraan, atau bisa jadi karena saya lagi pengen akting berengsek, saya pun nanya: “Eh, di sana ada Rambo gak?”

“Rambo? Maksudnya?”

“Rambo, coy, Rambo—Sylvester Stallone. Vietnam. First Blood. John Rambo.”

“Anjir, sugan teh naon. Teu rubah eta kalakuan.” Yuda paham, walau ekspresinya tetep datar.

Roger that. Fire in the hole! Fire in the hole!

Maneh sehat?”

Seinget saya, pas zaman SMP, gampang banget bikin anak ini ketawa belingsatan. Dulu dia ngefans berat sama apa-apa yang keluar dari mulut saya, termasuk air liur. Tapi sekarang oh sekarang, ada tembok penghalang bernama wibawa.

“Nanya ah dikit, Yud,” kata saya.

Mangga.”

“Seumpama nanti ada Perang Dunia III nih, Indonesia kira-kira lawan mana?”

“Canda terus.”

“Serius, cees. Ada kemungkinan perang gak? Lawan negara mana? Singapur? Malaysia? Australi? Taiwan?”

“Kemungkinan pasti ada,” kata Yuda, akhirnya menyerah setelah saya tatap matanya lama-lama. “Tapi jujur, kurang tau euy masalah ginian mah. Tergantung sikon, kayaknya; ada konflik gede, bisa jadi ada perang. Skala prioritas juga berpengaruh.”

“Islandia, cees? Costa Rica?”

Singkat dia jawab: “Ah ngaco.”

Dilihat dari gelagatnya, Yuda terkesan waspada bukan main. Mungkin dia takut rahasia negara bocor. Mungkin dia pikir saya mata-mata ISIS. Mungkin dia pikir saya perdana menteri Korea Utara. Mungkin dia pikir saya reinkarnasi dari Adolf Hitler. Mungkin dia ngira saya peduli. Jelas dalam situasi kayak gini, saya mesti cari cara supaya dia paham kalo tadi Agia Aprilian cuma bercanda. Sayangnya, Yuda termasuk golongan mayoritas yang percaya bahwa nasionalisme bukan sesuatu yang pantes dibercandain.

Berhubung udah banyak pembeli lainnya yang ngantri, ditambah dengan sinyal batuk tukang bubur yang sama sekali enggak enak didenger (“Ehemmm…”), kami pun terpaksa cau.

Sabaraha, Mang?” tanya Yuda pada Sinyal Batuk.

“Semangkuknya enam ribu.”

Sang militer mengeluarkan dompet, mengambil selembar uang sepuluh ribu, lalu kemudian mengulurkannya pada Sinyal Batuk. Dan tepat di momen inilah kreativitas seorang Agia tiba-tiba muncul.

Saya keluarin dompet, ngambil uang dua ribu, terus saya kasih deh ke Sinyal Batuk. “Nah, jadi pas ya? Dua belas ribu,” kata saya, noleh ke arah Yuda.

Of course, seandainya bener dia seorang soldier yang siap sedia membela negara, dia juga pasti ngerti gimana caranya solider kepada teman, betul?

“Oh, sip.” Yuda, tanpa senyum.

“Mantap.” Agia Aprilian, senyum lebar.

Selama setengah jam berikutnya, saya sama Yuda ngelanjutin percakapan. Mirip adegan yang ada di film-film, kami berdua ngobrol sambil jalan kaki di tengah kerumunan orang. Ada latar musiknya? Of course ada! Musik senam, alias disko.

Pasar mulai keliatan rame. Anak-anak sibuk milih jajanan; para pejoging sibuk maen lompat tali; pedagang sibuk ngelayanin para pembeli; ibu-ibu fokus ngegerakin badan; bapak-bapak kumisan fokus pada ibu-ibu. Dan tolong jangan lupa, di antara mereka-mereka, ada saya yang fokus pengen ngetawain Yuda.

Info: belum lama ini saya ganti ponsel. Samsung GT-S6310 yang selalu setia nemenin saya dalam suka maupun duka selama hampir empat tahun, sekarang sudah hidup di dimensi yang berbeda dengan pemiliknya.

Meskipun dibeli dalam kondisi bekas, saya udah nganggep Sam sebagai partner terbaik. Kami adalah kawan seperjuangan: berbagai macam pengalaman manis maupun pahit pernah kami lalui; berbagai chat dan panggilan telepon dari sekian banyak wanita pernah kami terima. Mulai dari berita baik seperti, “Makasih ya, Kak Agia, udah mau nemenin hari ini. Seneng ☺” hingga yang berbau sial kayak, “Maaf, Kak, aku gak bisa ninggalin dia.”

Saya yakin, setiap kali nerima chat kayak di atas, si Sam pasti ikut ngerasain apa yang saya rasa—saking kuatnya ikatan emosional kami. Bahkan enggak jarang dia ngingetin saya supaya jangan ngebuka chat dari cewek yang punya niatan jahat (“Jangan dibaca, Bos, jangan! Hapus aja langsung, Bos! Nanti susah tidur lho, Bos!”).

Ceesku yang melegenda.

Karena kondisinya yang udah makin parah, dengan berat hati kami resmi berpisah. Sekarang peran krusialnya digantikan oleh sesosok handphone bernama Sony Xperia. Soal fitur dan segala macemnya, si Sony emang jauh lebih unggul: dia punya kamera depan; bisa masukin dua SIM; layarnya gede; sinyalnya 4G. Tapi maaf anjis, itu semua gak ngaruh. Saya gak pernah tertarik sama tampilan fisik—ehemm kecuali kriteria pacar.

Lagian siapa yang butuh kamera depan? Saya? Ulala. Pria macam apa yang pake kartu SIM lebih dari satu? Bukan Son Agia, pastinya.

Ternyata bener. Di hari pertama PDKT-an sama si Sony, saya langsung diterpa bencana.

Setahu saya, Sam punya tiga tombol utama: Menu, Home, Back. Jangan salah, di handphone Sony juga ada tiga, tapi bedanya, si tai gak punya tombol Menu. Saya stres dong. Gimana enggak, tombol ini pengaruhnya besar sekali di kehidupan saya. Kalo gak ada tombol Menu, mungkin Agia gak akan pernah jadi seperti sekarang. Tombol Menu merupakan salah satu alasan saya bisa bernapas. Selain berguna buat ngatur setting di beberapa aplikasi, tombol ini juga bikin hidup saya lebih praktis, cees!

Tanpa berniat nyerah, saya ubek-ubek buku panduan, barangkali ada solusi supaya tombol ini balik lagi. Hasilnya nihil. Saya gak ngerti satu kalimat pun yang tertera di situ.

Misteri akhirnya terbongkar setelah saya baca artikel di internet. Rupanya sejak tahun 2013 pihak Android udah ngilangin tombol Menu.

Belum sempet saya bangkit dari keterpurukan, tiba-tiba si Sony bunyi. Nada dering I Love Rock ‘n’ Roll bergema di tengah-tengah kesunyian hati ini.

Adalah Candra yang nelepon saya. Candra, pemuda umur 24 yang punya kecenderungan sakit demam kalo foto selfienya belum dijadiin wallpaper hape.

Sumber: akun instagram si alay.

Saya angkat.

Dua detik kemudian, saya refleks pengen nonjok wajah Candra yang muncul di layar. Jaraknya sekitar lima senti. Dekat. Jelas.

Video call tai anjing.

“Son, di mana?”

“Tutup, Candra! Nelepon kayak biasa apa susahnya.”

“Hah? Maksudnya?”

“Ah, setan. Ada apa?”

“Posisi lagi di mana?”

“Di rumah. Denger nih, Can—”

Let’s go ah, nongkrong.”

“Denger dulu—“

“Anak-anak udah pada kumpul, Son. Kata si Adam—“

Aing teu paduli. Sekarang denger nih, cees. Video call sekali lagi, nyawa melayang.”


Oh Sony, kau memang tidak ada apa-apanya dibandingkan pendahulumu.

Miss you, Sam.

Oiya, hampir lupa. Salam blogger!

29 Kritik Jahat

Wakakakak. Random sekali hari Minggu-mu, Cees! Pertemanannya juga kalem bener. Nanya masuknya nyogok kagak tanpa rasa takut. :))

Kayaknya soal pungli emang masih ada deh. Cuma, nggak sebanyak 5 tahun yang lalu aja kalau dibandingin. Bikin SIM pakai biro jasa gitu sama aja nembak, kan? Kemarinan temen habis bikin ehe.

Geli sekali ngajak nongkrong aja mesti video call. XD

Hebat juga punya temen tentara. Dia LDR-an sama cewek pake surat-suratan gak? Dear John, cees.

Eh itu Big Foot sama Loch Ness kepikiran dari mana? 😂

Btw, Son Agia itu marga Son dari Son Goku atau Son yang artinya anak laki-laki?

Yuda sudah berubah ya, bang. Udah bukan Yuda yang suka colay. Hiks terharu :') Ternyata emang orang kalau masuk TNI gitu pembawaannya jadi lebih tenang. Temenku juga ada yg gitu. Kalau lagi reuni, dia banyak diemnya. Langkahnya penuh wibawa. Kayaknya emang ditatar biar begitu.

Btw, aku malah lebih suka Sony daripada Samsung. Preferensi orang beda-beda ya, bang. Yang penting tetap satu jua. Tsah.

Welcome back to blog, menyusulku kah? *bukan modus operandi*

Wkwk nyogok apa orang dalem. Masih adaaa, banyak malah tapi keren hasil sendiri. Wih hebat ya bisa ngerubah sikap a.k.a kepribadian gitu *prok

Wah kang, saya juga kalo di vc suka males jadi gak diangkat :v lebih nyaman chatting meskipun doi lebih nyaman sama cowok lain dibanding sama saya.

((CANDA TERUS))

😂😂😂😂😂😂😂😂

Kenapa pas baca cerita soal keintiman kalian, di pikiranku jadi keputer lagu Wake Me Up When September Ends dah. Mhuahahahahahahaha. Hmmm. Yuda yang dulu bukanlah Yuda yang sekarang. :')

Oooh jadi itu hape barunya makanya ganti nomor. Yuhuuuuuuu bisa nih kita video call, Agia. Wkakakaka.

ANJIR AKU NGAKAK KERAS PAS ADEGAN CANDRA VIDEO CALL SAMA KAMU HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAK. Temenku sih juga suka video call buat nanya udah di mana pas mau jalan bareng. Ya supaya ketahuan aja aku beneran dah di jalan atau masih di rumah hahaha. Lah ini video call-nya buat ngajak nongkrong 😂

Ah, cees-an paling romanis pokokna mah. iya makin ke sini babaturan makin hebat-hebat lah. Semoga Agia juga makin berkelas di ISIS.

( gak pernah tertarik aama tampilan fisik )

ah, taik kamu, Agia.

Dari semua pemain smackdown, kenapa harus Mark Henry kang? :(((

Walaupun gak etis, kadang pertanyaan penuh keraguan kayak "nyogok?" Itu terucap ke temen yang emang keliatannya gak bener aja. Temen kukiahku, kelakuannya kayak dajjal, abis lulus dia ngajar di madrasah. Nametag di mejanya jadi ada embel embel Ust.

Hidup kadang emang seaneh itu cees.

Pertemenan ala orang sunda emang kayak gini semua kayaknya haha.

Masih lazim sih kalo soal nembak SIM mah, cees. Yang gak lazim itu nembak cewek yang udah punya cowok, terus keterima. Ajaib.

Dear john apaan sih kunyuk. Yang saya tahu ini nih: Dear Haris, mengapa engkau masih saja memakai foto kartun yang mirip Kobo-chan itu?

Bukan, ini marga dari Sonic the Hedgehog.

Wow, welcome back to blog juga buat kamu, May!

Iya May, mungkin karena faktor kebiasaan yuhuu.

Haha ini juga lagi ngebiasain nih. Mudah-mudahan cepet terbiasa make si sony.

Anjir si Asep malah curhat di sini. Terus gimana kelanjutannya? Apakah si doi udah bahagia bersama cowok lain? Kalo iya, renggut kebahagiaan si cowok dengan cara dibegal. Nyewa geng motor kalo perlu.

Anjir ada-ada aja si kakak ipar. Kalo lagu itu mah berarti aku diibaratin seorang istri yang nunggu suaminya pulang dari medan perang dong. Tai ah...

Hayu! Bener ya nanti kita video call. Tapi harus ada Nanda di sebelah kamu. Nah ntar hapenya langsung kamu kasih ke dia. Nah begitu kamu kasih ke dia, kamu pergi ke WC. Diem di sana selama kami ngobrol.

Semoga Dian juga makin kuat menghadapi kenyataan telah disakiti oleh seorang perempuan.

Eh anda jangan gegabah, itu prinsip pria sejati gitu lho.

Woh kalo protes gini pasti fansnya Booker T nih.

Hahaha wanjir kontras pisan itu mah cees. Gini aja deh Pung, mari kita doakan semoga full nametag nya bukan Ust. Dajjal.

Apalagi nembak mahasiswa sekaligus aktivis sewaktu Mei 1998 itu ya, Cees?

Baru sadar itu foto Jack Anarchy termasuk kaset PS 1 yang sering gue mainin. Susah banget dapetin ikan naga yang monster di Cina itu. XD

bwakakkaka segitu kecilnya kemungkinan dia bela negara dibandingkan dengan kemunculan lock ness... waseeem

Salam blogger! Saya sekarang mahasiswa, Kang! :p *bodo amat pamer*

Bisa seseru itu ya, nanya temen seorang TNI. Segala ada pertanyaan kira-kira bakal lawan apa di PD III lagi. Dikira fase knock-out UCL. :')

Baru kali ini baca kisah vidcall antara dua lelaki...

Trakhir mampir k sini bahas torabika. Ini bahas co... Apatadi? Kutidak paham.

Minggu mu sangat random, ya, cees. Hebat, euy, tmennya jd TNI. Hmm, beda psti ya pas dulu sm skrg. Stlah jd TNI kaku sekali dirinya. Mau dilawakin jg ttep kaku. Aku sih jd dirimu pasti sedih, cees. Plesbek ke msa2 lalu trs. Tp dirimu malah pgn ngetawain mulu yak?

Ulala. Hape baruuw~ Ulala. Knp Ulala enak bgt iucapin sih? Ulala.
Hp sony nya bkan yg bsa diceburin itu?

Kampretttt loe emang, gw dah khusyuk baca dr awal, anjir belakangnya paid promo, taek ah


Eh mampir ada yg baru. Bukan soal miss Mo. Hahahaha

wah, samaan. sha juga punya samsung GT ini cuma warnanya ijo. salah satu hp yang sha simpen sampe sekarang karena pemberian almarhum sepupu. Dulu pake hp itu berasa gaya banget :D

Candra kayaknya cocok deh jadi temen main gue. Di alam baka.

Temenku juga ada yg jadi soldier
Lulusan ITB, jadi nanti penempatannya bisa langsung agak tinggi
Gak ngerti juga gimana maksudnya wkwkwkkw

SAMAAA, Sammy-kun (Samsung galaxy Fame) juga udah uzur
Skrg pake Oppo. Tapi puas banget sih hahahahha

si Sony beli berapaan ituhh???

P.S.
Kalau aku ketawa liat fotonya kang candra beserta keterangan penyakitnya apa aku termasuk orang jahat a'a?

HAHAHAHAHHAHAHAHA

ini beberapa tema jadi satu postingan, yha? haha
ngakak dengan entengnya nanya nyogok nga :D
itu Yuda dalam hati, "nanya mulu kaya call center."

ulala cowok saling video call dan ngajak nongkorng

agak-agak kampret yaa (bukan agak sih sebenernya, biar terkesan sopan aja) wkwkwk
di awal udah serius baca tapi.. ahsudahlah...
btw, samaan samsung GT nya kita, en punyaku ilang Son :'( gantiin napa sih

((( Video call tai anjing. )))

wkwkwkwk XD

jangan marah2 dund cees-ku

hahahahah so true
Orang sabar banyak rezeki loh ceesss

baru main kesini dannnnnnnnn
bikin gue ngakak tengah malam jirrrr.

kalau ketemu teman-teman lama rata-rata gitu ya, berubah semua. ada yang jadi kalem banget, wibawa banget. ulala lah..

cieee romatis banget sama candra cieeeee video call-an. huahahahaha

Blogku adalah kebebasanmu. Dipersilakan kepada para agen judi untuk berkomentar sebebas-bebasnya.
EmoticonEmoticon