AHMAD

Setahu saya, Fajar punya adik yang luar biasa cantik.

Penasaran secantik apa? Oke, biar menghemat waktu, sekarang juga kamu buka situs Google. Terus masukin kata kunci “cewek manis Bandung blasteran Arab asoy”. Pilih salah satu foto yang keluar, lalu gandakan kecantikannya sepuluh kali lipat. Beres? Jangan lupa tambahkan keseksian wajah Nikita Willy atau Sophia Latjuba, terus bayangin dia lagi pake seragam SMA yang wangi.

Gimana, ada gambaran?

Sayang sekali, ceesku, sekarang kamu harus kecewa. Soalnya perempuan yang ada di bayanganmu itu paling cuma lima belas persen dari total kecantikan adiknya si Fajar.


FAJAR

“Ini pasti dosennya gak bakalan datang. Yuk, kita langsung ke rumah kamu aja?” kata Ahmad, untuk yang ke-97 kalinya—

“Males, ah.”

“Sekalian mau minta film, Jar. Nih liat, saya udah bawa flashdisk 16 GB.”

—dalam kurun empat menit terakhir.

“Ahmad, bangsat, jangan kira aku beloon,” kataku, setelah menenggak Extra Joss yang baru saja kupesan. “Kelarin dulu yang kemarin.”

“Udah dong. Seru banget filmnya, cees. Sumpah. Terbaik.”

“Wow! Film tentang apa tuh, kalau boleh hamba tahu?” ucapku sarkastis, “yang ada tentara Nazi-nya bukan?”

“Nah, yang itu.” Respons singkat Ahmad yang terbata-bata cukup meyakinkanku bahwa inilah kali pertama ia mendengar istilah ‘Nazi’ selama hidupnya. Dan lagi, jelas-jelas dia bohong soal aktivitas menontonnya; berhubung tadi malam aku tidak merasa telah memberinya film tentang Perang Dunia II.

Dengan dalih “Lagi pengen nonton film dari negara Amerika,” semalam dia mampir ke rumahku—bukan hal yang aneh, pastinya. Perjamuan yang bisa dibilang berakhir miris, lantaran saat itu ia hanya membawa flashdisk berkapasitas 2GB—hampir setara dengan kapasitas memori pemiliknya. Tentu bagi orang seperti Ahmad ini bukanlah kesalahan fatal, mengingat dia selalu berasumsi bahwa ukuran satu film sebanding dengan satu MP3 lagu Peterpan – Bintang di Surga. Atau Menghapus Jejakmu.

Tanpa repot-repot menjelaskan padanya bahwa “film dari negara Amerika” biasa disebut Hollywood, aku berusaha mencarikan film yang sekiranya mampu dengan mudah diserap oleh kinerja otak kanan, kiri, juga otak tengahnya (setiap kali Ahmad menonton sesuatu, aku menduga ketiga otak itu memang mesti bekerja sama).

Lord of the Rings—tidak.

12 Monkeys—mustahil.

Cloud Atlas—maksimal kuat dua menit.

2001: A Space Odyssey—menonton ini, bisa-bisa dia hanya akan lari dan menangis, atau menonjok mukaku. Atau melakukan keduanya secara bersamaan.

Sempat kupertimbangkan untuk memberinya salah satu yang tersulit, Memento. Alasannya jelas, karena tokoh utama di film ini mempunyai satu kemiripan dengan Ahmad: sama-sama berdaya ingat lemah—walaupun, tentu saja, kasus Ahmad sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit amnesia.

Beberapa menit kuhabiskan di depan laptop, sampai akhirnya aku menyerah dan memilih film-film berikut: Shark Attack; Anaconda; Piranha.

Ahmad tampak terkejut sewaktu aku menyerahkan flashdisk-nya.

“Beres, cees? Cepet ternyata ya,” ujarnya sembari memungut flashdisk dengan sikap ragu. Seolah benda itu bukanlah miliknya. Seolah itu adalah sampah plastik yang mengambang di sungai Citarum yang kelak harus dia santap.

“Cuma muat tiga, Mad,” kataku.

“Oh.”

Seperti biasa, alih-alih menatapku saat kami berbicara, mata Ahmad malah celingukan ke segala arah. Faktanya, fenomena ini memang lumrah terjadi ketika ia berkunjung ke rumahku. Melihatnya terus menerus menelan ludah, aku bertanya: “Haus, Mad? Minum?”

“Orang-orang rumah pada ke mana, Jar?” katanya, gelisah tanpa motif yang jelas. “Gak biasanya sepi.”

“Lagi liburan ke luar pulau.” Kuputuskan untuk tidak menyebut pulau mana, khawatir kalau-kalau yang dia tahu hanyalah Jawa.

“Ah! Yang bener? Dari kapan?” Ahmad meninggikan suara. Entah apa sebabnya ia bersikap seakan kepergian mereka merupakan kesalahanku. Sebagai sahabat, aku sangat mengenal baik karakter lelaki ini, dan meskipun aku tahu dia kurang menonjol di bidang pengetahuan umum, namun tak pernah sedikit pun aku menyangka dia akan percaya dengan kebohongan semacam ini, terlebih jika mengingat orang yang tadi membukakan pintu dan menyuruhnya masuk adalah ibuku.

“Yup, kemarin jam sebelas malem. Naik angkot jurusan Dago.”

Butuh waktu sekitar sepuluh detik sebelum Ahmad sadar sedang dikerjai—itu pun setelah secara tidak sengaja dia melihatku menahan tawa. “Ha! Lucu.”

“Omong-omong, Mad, film yang barusan di–copy belum ada subtitle–nya. Gak masalah, kan? Tapi kalau mau, coba cari aja di internet. Caranya buka situs—” Kata-kataku terhenti begitu menangkap wajah Ahmad yang memperlihatkan ekspresi horor.

“Kagak usah repot-repot ngejelasin, Nak. Saya juga ngerti,” ujarnya sengit, seolah-olah aku sudah menghina martabat ibunya. Padahal kalaupun benar aku menghina, yang kuhina lebih tepatnya IQ si anak.

“Jadi udah nih, gak butuh apa-apa lagi?” kataku mengangkat lengan, kemudian pura-pura melirik jam.

Manusia normal pasti akan menafsirkan sikapku ini sebagai sinyal untuk mengusir, terutama bila didukung oleh fakta tidak adanya arloji yang menempel di pergelangan tanganku. Dan harusnya siasat ini pun berlaku bagi Ahmad, andai saja dia bukan termasuk golongan minoritas yang cenderung menganggap ‘normal’ sebagai sesuatu yang haram.

“Besok ada berapa mata kuliah yang UTS, cees?” Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebungkus rokok, lalu menyulut satu dan menawariku.

“Dua, kayaknya,” kujawab setelah menolak tawaran rokoknya, terutama karena isinya hanya tinggal puntung. “Statistika sama Antopologi Budaya.”

“Hmm.”

“Apanya tuh yang ‘hmm?’” tanyaku.

“Gak apa-apa.”

Anak malang. Mungkin tadinya dia mengira aku akan bilang ayo dong, Baginda Ahmad, cepetan ngomong aja.

“Heran euy saya mah,” katanya. “Gak tau kenapa akhir-akhir ini kuliah jadi kurang seru. Beda kayak dulu pas awal-awal masuk. Berasa ada yang hilang aja gitu. Kamu ngerasain gitu juga gak, Jar?

Aku mengangguk. “Gara-gara udah keseringan kali, ya? Kudu dibawa santai sih.” Sebenarnya aku ingin bilang bahwa itu dinamakan ‘Sindrom Semester Lima,’ tapi aku tidak yakin Ahmad akan paham kata pertama dari tiga kata tersebut.

“Nah, justru itu masalahnya,” dia membetulkan posisi duduk. “Gimana bisa kita santai kalo suasana kuliah aja udah enggak senyaman dulu?”

“Ya terus mau gimana lagi, Mad. Bikin acara, kayak kemarin-kemarin? Coba nanti tanya ke anak-anak, biasanya mereka punya ide bagus.”

“Fajar, kamu enggak nawarin Ahmad minum, Nak?” Suara ibuku tiba-tiba terdengar dan memotong pembicaraan kami. “Kebiasaan kamu, kalau ada tamu.”

“Enggak usah, Bu, entar malah jadi ngerepotin.”

“Setuju, Mah,” timpalku.

“Safira! Turun sini, Nak.” Ibuku berteriak, diikuti dengan munculnya Safira dari arah tangga. “Ambilin dulu minum sana, buat temen kakakmu ini.”

“Oh, iya. Mau minum apa, Kak?” Safira bertanya pada Ahmad Bangsat.

Ahmad mulai gelagapan. "Kopi aja deh kalo ada, Saf.”

“Kasih protein yang banyak, Safira,” timpalku.

“Buat apa?”

“Ah, enggak usah, Jar. Kopi aja cukup,” kata Ahmad, pemilik sepasang telinga yang mana belum familier dengan istilah ‘protein.’

“Oke, Kak. Tunggu sebentar, ya.”

Dan, seperti dugaanku, momen ini seketika mengubah raut wajah Ahmad menjadi tampak mirip fauna yang ada di film-film dari negara Amerika: ular, ikan hiu dan piranha.

Itulah mengapa sejak tadi ia terlihat gelisah bukan main. Itulah kenapa dia bersikeras untuk melakukan transaksi film di ruang tamu, alih-alih di kamarku. Dan itu jugalah sebabnya sering dia menengok kanan-kiri setiap kali berkunjung ke mari. Karena Ahmad—atau yang biasa dikenal Madsat (Ahmad Bangsat)—dengan segala upaya dan tekadnya yang terbilang radikal, selalu dan selalu berharap agar bisa menjumpai adik perempuanku Safira.


AHMAD

Fajar ini mukanya boros.

Saking borosnya, dulu pas awal-awal kuliah banyak banget anak-anak kelas yang salah paham. Si Yusuf sempet ngira dia dosen senior; Kiki ngira dia Dekan fakultas; dan Icha malah pernah nyium tangan dia—dua kali. Oiya, dulu saya juga sempet ngajak taruhan si Yoga, Dian, Rido sama Darma buat nebak siapa sebenernya Fajar. Ada yang bilang pembunuh berantai (Darma), mata-mata Malaysia (Yoga), ada juga yang nebak penunggu lantai empat kampus (Dian). Tapi yang paling ngeselin mah si Rido, soalnya waktu itu dia ngomong kalo Fajar ini cuma mahasiswa biasa.

Kami semua langsung keringetan.

* * *

Pas pertama kali main ke rumahnya, saya kaget setengah mati.

Fajar, sahabat saya itu, ternyata keturunan orang Arab.

Fajar, sahabat saya itu, ternyata punya adik cewek yang sama sekali enggak mirip sama Fajar.

Dan yang lebih aneh lagi, ayahnya Fajar justru kelihatan kayak pemuda umur dua puluhan. Kalau dipikir-pikir mah ini sedih. Bayangin aja, umur orangtua ketuker sama anaknya sendiri. Jujur, saya kasian sama Fajar; tapi lebih kasian lagi sama ayahnya.

Mamahnya juga cantik.

Tapi Safira, adik perempuannya, jauh lebih cakep.


FAJAR

Pada akhirnya, tujuan orang-orang bertamu akan membelok, cepat atau lambat. Mereka mampir, melihat adikku secara kebetulan, memasang tampang maniak, lalu pulang dan mampir lagi untuk bisa menjumpai adikku atau memasang tampang maniak. Siklus ini sudah berlangsung sejak aku duduk di bangku SMA, bersamaan dengan lulusnya Safira di jenjang sekolah dasar. Dengan kata lain, ia menjadi satu-satunya alasan teman-temanku berkunjung—dan, tidak jarang pula, teman-teman ayahku.

Safira dan aku mewarisi gen dari sepasang individu yang berbeda kewarganegaraan. Sementara ibuku merupakan penduduk asli pribumi (Bandung tepatnya), Ayah menghabiskan separuh hidupnya sebagai warga di negara yang berpopulasikan sekitar dua ratus juta penduduk: Pakistan—atau “Arab,” bila mengacu pada ilmu Geografi yang Ahmad kuasai.

Kami pun berbeda, tentu saja. Baik secara fisik maupun sifat. Safira adalah tipikal perempuan yang kerap mendapat komentar “Cantik” atau “Manis banget sih kamu” atau “Bandung-nya di mana?” setiap kali dia mengunggah foto di jejaring sosial. Dan dalam beberapa kasus, ada pula yang berkomentar “Ha ha ha siapa itu anjir,” khususnya ketika kami sedang berpose berduaan.

Kunjungan yang semula diniatkan untuk sekadar main atau demi mengerjakan tugas kelompok, akan tampak beda pada kunjungan kedua dan seterusnya. Berbagai jenis telepon maupun SMS banyak kuterima, dan yang paling doyan mereka tanyakan ialah, “Di rumah ada siapa aja, Jar?” yang biasanya akan kujawab dengan “Malaikat Izrail.”

Perlu dicatat, hal yang sama juga terjadi pada adikku. Setiap kali kawan-kawan sekolahnya datang ke rumah, fokus mereka akan terpecah belah: mata laki-laki tertuju pada Safira; sedangkan yang perempuan, meski secara teknis harusnya mengincar sang kakak—aku—namun realitanya tidak. Gadis-gadis remaja ini lebih tertarik pada pria yang jauh lebih berumur dan lebih bercambang, ayahku.

Biarpun biasanya aku cuek, sering aku mengkritisi sikap Safira yang terlalu ramah pada orang lain itu, dan reaksinya selalu sama: tersenyum dan meyakinkanku untuk tidak perlu khawatir. “Fira bisa jaga diri kok, Kak,” katanya. Memang, di satu sisi aku bisa paham bahwa statusku sebagai saudara kandung tidak lantas memberiku wewenang untuk berperilaku selayaknya diktator berengsek. Tapi justru disitulah problemanya. Walau terkesan egois, keinginanku sebetulnya cukup sederhana: agar Safira tidak memilih bergaul—lupakan pacaran—dengan laki-laki berengsek seperti kakaknya.

Dibutuhkan satu penjahat untuk dapat mencium gerak-gerik penjahat.

* * *

“Sekarang mau minta film dari negara apa lagi?” tanyaku pada Ahmad. Akhirnya, sesudah melalui perdebatan yang cukup alot selama nyaris setengah jam, aku mengalah berkat kebisingan yang dihasilkan oleh suaranya.

“Bebas, cees. Kalo perlu mah masukin aja semua. Itu kan ukurannya 16 GB.” Entah sudah berapa kali orang ini menekankan kalimat terakhirnya itu. Aku mulai curiga jangan-jangan dia mengira dialah satu-satunya pemilik flashdisk 16 GB di dunia.

“Film Indonesia?”

Ahmad menatapku seolah-olah aku baru saja bertanya apakah dia hobi membersihkan toilet kampus. “Jangan Indonesia dong. Yang kerenan dikitlah. Amerika kek, Jepang kek, atau Malaysia juga gak apa-apa.”

Perkataan Ahmad ini sontak membuatku berpikir. Mungkin itulah mengapa orang-orang menyukai Safira dan ayahku. Dalam beberapa hal, kami cenderung lebih menghargai sesuatu yang berlabelkan import: mulai dari orang-orangnya, gaya hidup, ideologi, sampai penggunaan bahasa.

Bukti autentik? Pergilah ke toko buku, kemudian baca satu novel secara sembarang, dan lihat apa yang terjadi. Kau akan menemukan setidaknya empat kali pergantian bahasa dalam satu paragraf.

Gue juga heran, it feels like tiba-tiba dia bersikap dingin ke gue, Mad. Can you imagine that? I mean, gue gak tau mesti berbuat apa lagi. Lo tau sendiri kan, he used to love me, tapi sekarang? I don’t think so. Makanya bantuin gue, Ahmad. Please


AHMAD

Selain punya muka yang tua, Fajar juga sering bertingkah kayak orang stres.

Contohnya tadi, sewaktu kami lagi jalan ke tempat parkiran motor. Berhubung dosennya lagi enggak ada, saya sama Fajar berencana mau pergi ke rumahnya, ngopy film. Kebetulan sekarang saya bawa flashdisk yang ukurannya gede. Lumayan, biar bisa ngulur-ngulur waktu buat ketemuan sama Safira.

Begitu sampe di parkiran, tiba-tiba mulut Fajar komat-kamit. Saya kaget. Dia bicara gak jelas pake bahasa campuran, Inggris-Indonesia. Awalnya saya kira dia ngomong sendiri, tapi sekilas saya bisa denger dia manggil-manggil nama saya.

Sakit anjir.

Setelah dipikir-pikir lagi, sekarang saya jadi inget alasan kenapa saya bisa sahabatan sama orang ini.

Karena dia paling jago bikin saya ketawa tanpa harus ngelucu.

Itu alasan kedua, pasti. Yang pertama mah tetep, faktor adiknya.

---o00o---

CATATAN:

Jadi gini. Kemarin pas lagi duduk-duduk santai di balkon (sambil ngehayal punya istri), saya iseng buka Instagram. Singkat cerita, di beranda ada satu foto yang menarik perhatian saya, yaitu foto temen saya yang lagi berduaan sama cewek cakep. Saya langsung mikir, aduh anjing dia punya pacar. Untung, kekhawatiran saya langsung lenyap setelah baca caption yang dia tulis: “With my sister.”

Sekedar informasi aja, temen saya ini sama sekali enggak populer. Makanya saya kaget pas ngeliat ada sekitar 50 orang lebih yang nge-like foto itu (biasanya paling 16). Ada yang lebih janggal? Ada. Selama ini dia punya adik, rupanya.

Kolom komentar pun heboh. Pas saya klik, ternyata temen-temen saya yang lain udah pada ngomen. Di antaranya:

⇨ “Tag dong akun orangnya.”
⇨ “Geulis euy adi maneh.” (Adik kamu cantik)
⇨ “Sia meni teu ngabejaan boga adi teh.” (Kamu kok gak ngasih tau punya adik)
⇨ “Inikah yang dinamakan cahaya dan kegelapan?”
⇨ “Laudya Cynthia Bella feat. Grandong.”

Dia cuma ngejawab singkat:
“@anu @anu @anu @anu @anu Modar siah!” (mati sana!)

Dari situ nurani saya tergerak. Wow! Kisah yang sungguh fenomenal dan inspiratif, pokoknya saya harus bikin postingan blognya!

Nah, setelah sebelumnya saya ikutan ngomen, “Posisi di mana, cees? Lagi di rumah gak? Mau ada perlu nih,” saya pun buru-buru nulis cerpen ini.

10 Kritik Jahat

Modus tidak mengenal jurusan. Hmm.....seperti yang kuduga.....

Dan alasan ini yg saya pakai untuk memilih rumah teman saat hendak belajar kelompok di kampus
Kudu punya adek cewek sama banyak makanan, terserah Klo udah di rumah temen mah mw belajar, mw makan, mw modusin adeknya gpp
Ahmad, kau keren

cara nulis loe makin hari makin bangsat sia. Cm ini blog dengan tulidan berbanding lurus sama koran lampu merah. Sama sama panjang tpi betah bacanya. Aihhhh sia.kemana we maneh njirrrrrr

Waw. Terinspirasi dari kisah nyata ya, Agia. Aku ngakak sumpaaaah. Suka sama cerpen ini. Bangsat emang Agia. Btw salam buat Fajar deh. Terus titip saran, lain kali Ahmad dikasih film Primer aja. Eh enggak deh. Kasih film Jan Dara aja.... Dia belum pernah nyobain film Thailand kan?

BANGKAY LAH SEGALA ADA NAMA PARA BLOGGER. Hahahaha. Aku kok jadi ngebayanginnya Fajar ini mukanya kayak Robby ya, Agia. HAHAHAHA. Dan itu alasan Ahmad mau berteman sama Fajar, taek banget. Dan ini jadi ngingatin aku sama film Flipped yang pake sudut pandang dua orang gitu. Aaaaaak kereeeen! Banyak diksi dan adegan yang aku suka. Adegan favoritku itu pas Fajar ngerjain Ahmad. Hahahahahaha. Ngakak bet. Huuufffh. Dan masih banyak lagi yang keren. Setelah kupikir-pikir, butuh 3 part untuk menjelaskan kekerenannya.

Ah, manehmah cuma modus, nulis carita ieu tuluy ditempokeun ka si Fajar... bair apa? nyaho sorangan lah da adina geulis.

eweuh foto adi si Fajar anjis.. kzl

hahaha dikira punya pacar yakk, bisa juga kali dibuat " with mantan "

Wkwkwk bener tuh biasanya ada 3 faktor:

1. Ada keluarga yang cakep
2. Gratis wifi
3. Selaku dikasih makan

Otomatis rumah itu bakal dijadikan basecamp sama temen-temen :v

Buset ada kata muka tua,,,,
Berasa gmana gitu bacanya..

aku baca ini jadi keinget masa lalu. sungguh sebuah alasan bertamu paling nyenengin sih ini mah :p

Seperti dicetuskan Green Day dalam lagu Warning: "Hiduplah tanpa menghiraukan banyak peringatan dan instruksi."

Jadi, silakan komentar apa saja. Bebas...
EmoticonEmoticon