Belakangan ini saya lagi seneng selingkuh. Selingkuh dari kopi sachet favorit saya: Kapal Api Hitam. Jadi sekarang mah kalo pergi ke warung atau supermarket, saya pasti beli kopi lain yang belum pernah saya jajal.

Oke, saya tahu kok pengakuan ini bisa menimbulkan kontroversi. Tapi tolong kasih saya kesempatan buat jelasin.

Saya cuma pengen nyoba hal-hal baru. Tantangan baru. Varian rasa yang beda. Harap dimaklum, ya.

Nah, kebetulan kemaren saya beli Torabika Jahe Susu. Berhubung produk satu ini menarik, saya jadi tergoda buat bikin ulasannya.

Bismillah.


Nama Produk: Torabika Jahe Susu
Produsen: PT Torabika Eka Semesta
Berat Bersih: 20g
Deskripsi: Kopi dengan Jahe Tanpa Ampas
Tanggal Kadaluarsa: Jan 2018
Harga: Rp. 1.000/sachet (tergantung kebijakan penjual)


Sinopsis:

Minuman, pengkhianatan, cinta, konflik keluarga.

Bagi Agia Aprilian, menjadi seorang lelaki berarti memikul tanggung jawab sendiri. Entah itu dalam hal pemilihan browser handphone (dia menggunakan UC Mini dengan alasan lebih hemat kuota), prinsip dalam asmara (dia cenderung meyakini bahwa cinta sejati sering kali mengingkari), hingga kemandiriannya belanja kebutuhan pribadi, termasuk kopi.

“Totalnya jadi dua puluh empat ribu,” ujar Teteh-teteh Kasir Indomaret.

“Oiya,” Agia tiba-tiba melipat tangannya, keren. “Mau tanya, Teteh pernah dengar kopi Torabika Jahe Susu?”

“Enggak, kenapa emang?”

Bukannya menjawab, Agia malah berdehem seraya mengeluarkan dompet dari saku celananya. Tapi, biarpun tangannya sibuk dengan dompet, pandangan matanya tetap bisa fokus pada si Teteh Kasir. Oh jelas itu sebuah skill yang sudah dikuasainya selama belasan tahun. Kemudian sambil mengulurkan sejumlah uang, dia berkata: “Gak apa-apa kok, Teh. Cuma nanya aja.”

Dan wanita itu pun tersenyum. Rupanya ia telah dibuat terpukau oleh karisma Agia Aprilian.


Beberapa Pujian:

“Kisah pencarian jati diri yang sungguh brilian. Penuh dengan intrik, imajinasi, serta pengamatan akan gaya hidup kontemporer. Ulasan kopi yang tidak sepantasnya terlewatkan.”
—Pak Dede Otang

“........kompleks namun orisinal. Saya paling suka adegan ketika si tokoh utama berinteraksi dengan kasir minimarket. Sangat menyentuh dan begitu romantis. Hidup Kopi Jahe!”
—Yahya

My God! Such a fantastic story. It made me literally speechless for three days.
—Pak Encep

Cara penyajiannya gampang: Tuangkan seluruh isi pak ke dalam cangkir. Tambahkan 180cc air panas, lalu aduk dan sajikan. Penting: saya sarankan pake air mendidih, jangan dari dispenser. Terus jangan lupa ngaduknya agak lama ya—minimal dua puluh kali. Bagi yang suka nyanyi, silakan nyanyi selagi kamu ngaduk-ngaduk. Kalo saya sih biasanya nyanyi lagu D'lloyd – Cinta Hampa.

Baiklah, mari kita mulai review.

Pertama-tama, saya mau bahas dari segi kemasan. Lumayan keren euy. Warna dasarnya emas, sementara tulisan “Torabika”-nya pake warna merah sama putih. Perpaduan yang pas.

Sekarang dari segi rasa. Aduh gimana ya, bingung. Cita rasanya emang unik, sih. Dan yang bikin unik itu jahe, cees. Jadi ada sensasi pedesnya gitu. Tapi tenang, tingkat kepedasannya dikit kok, gak sampe ngalahin pedesnya omongan calon mertua. Dengan kata lain, aman dikonsumsi.

Masih adakah cinta di hatimu?

Operol, Torabika Jahe Susu ini nikmat, ceesku! Cocok buat kalian yang suka kopi sejenis Good Day, Luwak White, atau bandrek.

Rating: 6.5/10


Tunggu ulasan selanjutnya.

26 Kritik Jahat

Saya justru fokus pada novelnya, cees. Sensasi pedesnya lebih berasa dari pada torabika jahe susunya.

Jadi inget cara ngabisin waktu luang waktu masih SD.

Apa tidak bahaya menyeduh kopinya, kan kasian kopi bubuknya jadi larut di air panas
Bagaimana ini bisa terjadi?
Apakah jahenya itu jahe beneran?

Sudah mau komen langsung lupa mau komen apaan gara2 foto novelnya. KENAPA BUKAN BUKU ITU AJA YANG DIREVIEW KANG? SIAPA TAU BISA TUKAR PIKIRAN SAMA BELAHAN HATI KANG AGIA YAITU KANG RIDO ARDAIN.

Pak Dede Otang siapa, Cees? Nggak ada penjelasannya gitu deh. Misal dia supir angkot, hansip, atau bapak dari Teteh Kasir :(

Anjeeerrr. Novel legenda itu. Udah jarang banget lihat, pinjem dong! Wqwq.

Hahaha, unik, Cees. Walaupun ini minumannya nggak segenre dengan kesukaan saya, tapi saya menikmati reviewnya. Keren, keren.

Anak bawang kayak saya nggak tau novel apa itu. Hehehe.

Dari bungkusnya yang bercorak keemasan, terlihat jelas kalau kopi ini bergenre drama dan family. Cocok dinikmati bersama keluarga. Tapi dari segi harga dan portofolio Agia sebagai anak kos, kayaknya kopinya lebih cenderung ke genre drama dan lonely. Lagi-lagi sebuah ulasan yang menggugah minat ngopi dengan kualitas mumpuni. Jadi nggak sabar pengin jual dispenser buat beli kompor baru. Sukses selalu!

Itu yang disamping meja kulit uler bukan sih bang? kok geli akunya:( hahahaa

Aku pernah nyoba kopi ini juga nih bang. Enak bangeeett. Ga ada ampasnya juga. Daripada luwak, aku lebih suka ini sih.

BUAJINGAAAAAAN!!!!!!!!!!!!!! REVIEW BIJINGEEEEEEK, ADIK IPAAAAAR! WKAKAKAKAKAKAKA. Ena bacanya. Review-nya sarat akan ciri khas Agia banget. Menonjolkan sisi maskulin dari seorang pria fantastis Bandung bernama Agia. Dan terlihat kalau kamu orangnya setia. Selain ingat rasa, juga ingat nama. I'm proud of you!

Beda kayak Wulan, aku belum pernah nyoba kopi ini, Agia. Huhuhuhu. Jahe itu menghangatkan kan ya. Nah aku pengen dihangatkan bukan dengan jahe, tapi dengan... ya kayak di novel yang nampang dengan gagah di samping segelas kopi itu deh. Hehehehe.

Sinopsisnya kayak sinopsis novel. Ada endorsement segala. :)

tetep paling suka kopi sumatera pake creamer :D

Ditunggu review sachetan chokolatos y bro

Gak suka kopi, sukanya Teh (TETEH-TETEH BAHENOL)

SEKIAN

Belum pernah nih. Tadi pas awal2 ngebayangin ada jahenya emang pedes2 gimana gitu. Tapi.... KALO KATANYA ENAK BENER KENAPA CUMAN 6.5 DARI 10 YAAAA?

gak suka kopi yang dimacem-macemin, paling banter kopi susu cream.. selain itu.. kedengerannya gak masuk akal aja sie :p

Taik, mau minum kopi aja ceritanya panjang banget, wkwkwkwk

Pujian dari Yahya sepertinya saat membeli dia detail banget dah sampe liat di minimarketnya, sepertinya dia melakukan penelitian studi kasus skripsinya akhir tahun. hem

keren nih kalo dibuat video reactionnya. ditunggu ceesku video rectionnya di youtube :D

Kok pake sinopsis ya? bagaimanakah kelanjutan agia dengan mbak2 minimarket itu? patut untuk ditunggu kelanjutan ceritanya.

Klo di Makassar, kyaknya hampir2 mirip sama Sarabba'. Minuman jahe juga. Tpi gk tau sensasinya sperti apa klo dicampur kopi. Pahit2 pedes gitu mungkin.

Bdw, disamping kopi itu novel ya son? kok saya ngeliatin covernya kayak cover siksa neraka?

Apa cuma gue yg gak paham sama sinopsisnya? :'D
kirain abs nanya "tau torabika jahe susu gak?" trs ntr slanjutnya digombalin smpe mbak2nya jatuh hati kali. :")

Hmm, review yg sgt mnarik dan unik. saking uniknya sampai mmbuat saya tersnyum2 sndiri sperti org gila, dan bahkan hmpir ingin menangis....

Seceng aja bsa bkin nikmat.
Ah tp sayangnya saya gak doyan kopi. lebih doyan energen. Wahaha.
coba suatu saat nnti torabika bakal bkin inovasi baru sperti "Kopi torabika rasa sekoteng" hmm, sperti apa kira2 ya? Apa mgkin rasanya sama aja kyak susu jahe kopi ini?

Keren banget reviewnya.
Terutama tentang si teteh. :D

Udah kayak buku aja tuh sinopsis..haha
Aku sendiri good day udah pernah, tapi yang ini belum nih. Bisa di coba buat nemenin baca blog or buku :)

Ah, klo gaya reviewnya gini...baca berlembar2 aku juga ga bosan. Suka gaya tulisanmu son..😃😃

Ahahahahaha, reviewnya lucu banget xD Btw, kayanya udah kebiasaan, gak tau awalnya darimana kalau aku aduk kopi pasti 50 kali tangan kiri, 50 kali tangan kanan, ahahahahaha xD

Torabika Jahe Susu tiba-tiba teralihkan dengan Masih adakah Cinta Dihatimu :(

Torabika memang mantap abis gan...makasih informasinya

buku yang di gambar etrakhir kok kayak rumpun buku cerita dewasa ya bang? :')

btw, beruntungnya para manusia yang bisa menikmati bulir-bulir kopi. saya minum luwak white coffee aja langsung tipes T.T

Blogku adalah kebebasanmu. Dipersilakan kepada para agen judi untuk berkomentar sebebas-bebasnya.
EmoticonEmoticon