Kendati masih muda dan jauh dari kondisi sekarat, ada banyak hal yang kuinginkan selagi hidup. Salah satunya, memulai cerita ini dengan kalimat pembuka yang puitis dan menyenangkan. Layaknya novel-novel. Tidak, aku bukan ingin terlihat bak penulis maupun penyair. Hanya saja, tidakkah menakjubkan jika aku mengawali kisahku dengan, Senja telah tiba meski tak jingga. Siluet kehidupan menerjang jiwa-jiwa yang kelelahan. Sang surya pun terbenam. Amin. Atau mungkin yang sedikit lebih kasual dan berima seperti, Pagi ini kopi terasa nikmat sekali, senikmat tatkala senyummu berhasil kubeli. Oh rasa sesal akan kehilangan, di manakah ia gerangan?

Lupakan soal puitis. Aku bahkan rela kisah ini dibuka di tengah-tengah terjadinya tragedi sensasional, semisal: Setelah sekian lama wanita itu menunggu dan berharap, satu gigitan serangga mengakibatkan janin di dalam rahimnya gugur seketika. Paham? Untuk meminimalisir hari-hariku yang monoton, aku amat menginginkan sebuah permulaan yang unik, bergaya dan menghebohkan. Jangan sangka aku akan bahagia dengan awalan klise macam ini:

“Lagu ini nyeritain tentang bobroknya sistem negara kita, Pak.”

Nahas, perkataan ajaib itulah yang justru menandai dimulainya aktivitasku. Tanpa secangkir kopi, tanpa senja.

Dan tentu saja, tanpa keterlibatan janin yang gugur.

———

Sebagaimana rutinitas yang biasa kujalani, pagi ini aku tersekap dalam sebuah ruangan bising yang dipenuhi puluhan remaja energik. Tanpa perlu adanya tes DNA, sudah bisa dipastikan anak-anak ini mempunyai silsilah keluarga yang berbeda denganku—meski nyaris setiap harinya kami berada dalam satu habitat. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, pemurung dan periang, pembuat onar dan pemancing onar. Jujur, aku menyukai pembawaan mereka yang cenderung optimis dan penuh percaya diri. Yang acap mengingatkanku pada diriku sendiri—edisi sepuluh tahun silam—ketika kehidupan belum berani menodai keluguan.

“Pak, langsung mulai aja?” tanya salah satu dari mereka, orang sama yang sebelumnya berbicara mengenai kebobrokan sistem negara. Namanya Anwar, kalau aku tak salah ingat. Ia bersama empat temannya—kulihat salah satunya memegang gitar—duduk manis di deretan kursi samping mejaku, berhadapan langsung dengan puluhan remaja lain yang tampak kurang begitu bergairah dengan adanya gagasan Anwar cs. akan segera tampil.

“Sebentar,” kataku, seraya bangkit dari kursi. “Tadi kalian bilang mau bawain lagu apa?”

“Lagu dari band Marjinal, Pak. Judulnya ‘Negeri Ngeri’.” Anwar bersikap seolah perkataannya itu mampu menyembuhkan penyakit virus Ebola.

Menyadari sejak tadi hanya Anwar dan mulutnya saja yang tidak bisa diam, aku menatap keempat kawannya untuk sekadar memastikan apakah mereka masih bernyawa. Setelah kuteliti sejenak, aku bisa mengerti alasan mengapa mereka enggan bersuara. Ini berkaitan dengan fakta bahwasanya dari total tiga puluh sembilan individu—termasuk aku—yang menghuni ruangan ini, Anwar merupakan satu-satunya orang yang menunjukkan antusiasme. Dia independen.

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba indera penciumanku bereaksi. Ada wewangian—sejenis aroma melati, mungkin. Belum sempat aku menerka siapa pemilik parfum jahanam ini, Taufik (si pemegang gitar) akhirnya mulai berani angkat suara. “Lirik lagunya sindiran buat para penguasa, Pak.”

Anwar mengangguk. “Yoi, nyindir sistem negara yang awut-awutan.” Mesti berapa kali dia mengulang kata-kata itu?

“Ini anggota kelompoknya emang laki-laki semua, ya? Gak ada perempuan?” tukasku, sesaat setelah berhasil mengetahui letak geografis parfum melati tadi: tubuh Anwar.

“Gak ada, Pak.”

“Oke, kalau gitu langsung aja.” Aku mengalihkan pandangan pada murid-murid lainnya. “Yang lain tolong perhatikan. Sekarang kita dengarkan penampilan dari kelompok 4.” Lalu aku bergabung bersama para penonton dan duduk di kursi paling belakang agar dapat lebih leluasa menyaksikan pertunjukan bocah-bocah ‘Marjinal’.

Inilah yang menarik dari generasi muda. Mereka masih memegang erat budaya MOL (Menjadi Orang Lain). Ah, aku rindu masa-masa itu. Masa di mana sebab-akibat bukanlah sesuatu yang patut dipertimbangkan. Mereka keren dan bebas menirukan gerak-gerik idola mereka—vokalis band; pemeran film; tokoh novel; pemain bola. Tidak peduli mereka sedang berakting, karena dinilai baik adalah hal terpenting. Sangat kontras jika dibandingkan dengan generasiku, yang lebih ingin mempertahankan asumsi walau semua orang memusuhi.

Itulah kenapa aku maklum saat Anwar dan kawanannya berlagak seakan mereka adalah anak punk tulen—yang lahir dari keluarga kurang harmonis dan memutuskan hidup di jalanan. Bila mengacu pada spesifikasi mimik dan penampilan, mereka sama sekali tidak mencerminkan pribadi yang bisa berkata “bobroknya sistem negara” atau “sindiran buat para penguasa”. Lebih jauh lagi, sewaktu Anwar mengucapkan quote favoritnya, terlihat jelas bahwa kalimat itu ia peroleh dari internet, yang kemudian dihafalnya semalaman. Bahkan pemilihan lagu Marjinal pun masih menjadi misteri bagiku.

Dan mari jangan lupakan parfum melati. Bagaimana mungkin seseorang mengumandangkan lagu Marjinal di saat tubuhnya mengeluarkan aroma semerbak bunga? Aku khawatir mendiang Sid Vicious akan bangkit dari kubur dan meneriaki remaja-remaja ini dengan kalimat khasnya, “Fuck off, kids!

Setidaknya dalam hal ini, aku keliru.

Seisi ruangan tersentak. Di luar dugaan, Taufik menjalankan tugasnya sebagai gitaris dengan amat baik. Dia menggunakan teknik picking bergaya down stroke yang secara otomatis menghasilkan alunan suara kalem. Keempat temannya—Anwar sebagai vokalis utama—mengawali nyanyian mereka dengan verse yang dibuat lamban. Suara mereka memang jauh dari merdu, bisa kupastikan. Tapi itu semua terkompensasi oleh ketepatan ritme yang pas dan selaras. Menginjak bagian refrain, mereka menaikkan tempo dan nada sedikit lebih tinggi, diiringi akustikan Taufik yang kali ini memakai teknik strumming dasar.

Tapi rataplah negeri kita
Yang tinggal hanyalah cerita
Cerita dan cerita, terus cerita (cerita terus)

Pengangguran merebak luas
Kemiskinan merajalela
Pedagang kaki lima tergusur teraniaya~


Spontan aku memberi standing applause selepas kelompok 4 menyelesaikan aksi gemilangnya. Tentu saja sekarang akulah yang menyandang gelar independen, melihat tak ada tepukan lain yang menyeruak.

“Boleh kasih tepuk tangan!” perintaku.

Di tengah suara tepukan penonton, tiba-tiba imajinasiku hidup. Aku bisa melihat arwah Sid Vicious masuk ke ruangan ini dan menghampiri kelompok Anwar. Dengan langkah sempoyongan, mantan personel Sex Pistols itu menepuk pundak mereka satu persatu.

Yeah, that was fuckin’ classy, kids!” seru Sid, sembari membekap lubang hidungnya.


“Penampilan kalian bagus,” ujarku pada kelompok 4. “Berapa lama persiapannya?”

Anwar, sang juru bicara profesional, menyambut dengan ekspresi girang. “Baru kemarin, Pak. Kami latihan di rumahnya Sopian.” Ia menunjuk salah satu anggota kelompoknya.

“Coba sekarang jelasin ke temen-temen, kenapa kalian milih lagu ini.”

Aku mendapati diriku tersenyum ketika satu suara menjawab pertanyaanku dengan mantap. Pelakunya bukan Anwar maupun Taufik, melainkan siswa paling pendiam sepanjang sejarah pendidikan.

“Karena enak di telinga, Pak,” bisik Sopian pelan, yang entah sadar atau tidak telah mengemukakan makna sesungguhnya dari musik.

Mereka anak-anak didikku. Aku mengagumi semangat mereka.

Ironisnya, aku benci pekerjaan ini.

Aku baru saja merapikan isi tas dan bersiap meninggalkan kelas ketika beberapa siswa tahu-tahu sudah berdiri di hadapanku. Mereka mengajak pergi ke kantin, seperti yang biasa kulakukan pada jam istirahat. Dari sekian banyak gedung di sekolah ini, kantin adalah satu-satunya tempat yang kusuka selain pintu gerbang keluar. Di sana aku berbaur dengan para murid, Ibu kantin, beberapa guru seusiaku, dan kadang penjaga sekolah. Kegiatan ini jauh lebih bermakna daripada harus berdiam diri di Ruang Guru, yang biasa dipenuhi obrolan-obrolan seputar BOS, CPNS, Sertifikasi, Diklat, dan daftar siswa-siswa bengal.

Kantin terletak menyempil di ujung bangunan sekolah, sangat berjauhan dengan Ruang Guru yang berada di dekat pintu gerbang—sebuah peringatan terselubung bagi kami agar tidak pergi ke sana. Posisinya yang berdiri tepat menghadap lapangan olahraga, membuatku bisa leluasa menonton aksi guru Penjaskes sedang menggoda murid perempuannya.

“Bi Ade, biasa, kopi hitam satu. Aduknya agak lama,” pesanku pada Ibu kantin.

Bi Ade sudah menggeluti perannya sebagai penjaga kantin selama setara dengan usia sekolah ini. Beliau kekal dan tak tergantikan. Aku sering menemukan siswa yang menyampaikan salam dari orangtua mereka—yang mungkin merupakan alumni SMA sini—untuk beliau. Hanya untuk beliau, tidak pernah untuk Kepala Sekolah. Cukup membuktikan bahwa pekerjaannya di bidang konsumsi jauh lebih mulia dari profesi apa pun di dunia.

“Pak Diki sehat?” Bi Ade bertanya, dan meletakkan cangkir kopi pesananku. Senyuman ramah menghiasi bibirnya. Hampir setiap hari kami bertemu, dan hampir setiap hari pula beliau menanyakan kabarku.

“Saya alhamdulilah baik. Bi Ade sendiri gimana kabarnya?” Aku mengisap kopi dan menengok sekeliling. Rupanya kantin masih sepi—ini berarti aku membubarkan kelas secara prematur.

“Sehat, sehat. Alhamdulillah,” jawab beliau.

Aku memusatkan perhatianku ke lapangan begitu Bi Ade pamit untuk melayani para siswa yang jumlahnya belum banyak. Dari kejauhan, terlihat si guru Penjaskes menyadari keberadaanku di kantin, lalu dia menganggukkan kepalanya. Aku pun mengangguk balik. Alasan kami berdua saling mengangguk jelas merupakan satu misteri bagi kedua belah pihak.

Dia menghampiriku ketika bel istirahat akhirnya berbunyi. “Heh, jangan sering-sering ke kantin...”

“Kudu inget bensin motor,” timpalku, menyelesaikan kalimatnya. Semboyan legendaris kami. Lelucon ala guru honor.

Kami tersenyum dan berjabat tangan.

Perokok berbadan besar, Yudi Irawan adalah lelaki yang sering kali membikin orang lain kaget sekaligus waswas. Tidak akan ada orang mengira bahwa sebenarnya dia adalah oknum yang biasa mewanti-wanti pelajar SMA betapa pentingnya olahraga dan gaya hidup sehat. Peluit yang selalu ia bawa ke mana-mana, sepatu Adidas palsu yang sering dikenakannya, dan topi putih yang dikiranya mampu menaikkan pamor di mata para siswi, tidak lantas mengabulkan harapannya agar orang-orang percaya bahwa dia adalah guru Penjaskes. Oleh sebabnya, belakangan ini Yudi lebih senang berbohong bila ada yang bertanya perihal profesi. Di satu waktu dia mengaku akuntan, di lain hari menjadi polisi. Bahkan pernah aku memergoki Yudi berkenalan dengan wanita yang percaya dirinya bekerja di Rumah Zakat.

Terlepas dari kebiasaannya memutarbalikkan fakta, aku menyukai Yudi. Selain karena kami seumuran—dua puluh lima—ia juga satu dari segelintir staf pengajar di sekolah ini yang menyebut namaku tanpa embel-embel ‘Pak’.

“Kemarin anak-anak menang lagi. Tapi nanti di semi-final lawannya agak berat nih, SMA 10. Persiapannya kudu mateng,” kata Yudi sambil membetulkan posisi duduk, lalu menyulut rokok dengan gugup. Perihal apa yang sedang dibahasnya, hanya dirinyalah yang tahu. Sementara yang kutahu adalah: dia mengira aku peduli.

“Wow.”

“Turnamen futsal,” jelasnya lagi.

Aku memberi ucapan selamat kepada kolegaku itu dan kembali menyeruput kopi. Kali ini kantin sudah mulai ramai dipenuhi oleh para siswa dan beberapa guru.

“Udah denger belum? Ada kabar katanya bakal diadain rapat seminggu sekali.”

Ini baru membuatku kaget.

“Ah, serius? Siapa yang bilang?”

“Entis.”

Nama yang disebutnya adalah nama seorang guru PAI yang memiliki gelar akademis di bidang Filsafat. Tidak ada istilah tepat yang dapat menggambarkan sosok Entis selain kenyataan bahwa dia termasuk satu dari tiga staf honorer—dua lainnya aku dan Yudi—yang menganggap Ruang Guru merupakan sumber kegelapan dan kesengsaraan. Biarpun aku dan Yudi lumayan akrab dengannya, namun kami punya semacam insting untuk tidak menanggapi secara serius omongan guru Agama yang, berdasarkan riwayat perkuliahannya, kerap memperdebatkan konsep ketuhanan.

“Percaya, Ki?” Yudi Irawan bertanya.

“Enggak, Yud,” Diki menjawab.

Jam istirahat telah habis sejak sepuluh menit lalu. Suasana kantin kembali sunyi. Berhubung hari ini aku cuma mengisi satu kelas dan tidak sedang ingin mampir ke Ruang Guru, kuputuskan untuk langsung pulang.

Di perjalanan menyusuri koridor, aku sengaja berhenti di luar ruangan salah satu kelas. Kebetulan aku tahu siapa guru yang bertugas. Aku mendekat dan mengintip melalui jendela kecil di pintu. Walaupun sangat sulit mendengar apa yang sedang disampaikan pria itu, tapi aku bisa melihat murid-muridnya tengah sekarat dan butuh pertolongan medis. Di antara mereka, ada enam yang menguap, empat melirik jam tangan, dua mengobrol, dan sekitar dua puluh tiga menganggukkan kepala dengan mata tertutup; padahal pelajaran baru berlangsung sepuluh menit. Aku juga mengajar di kelas ini—tiap Selasa pagi—dan saat beberapa siswa akhirnya menyadari kehadiranku di jendela pintu, mereka memberiku kode yang secara jelas menyiratkan, “Lakukan sesuatu, Pak. Selamatkan kami.” Namun yang bisa kulakukan hanyalah tertawa.

Buru-buru aku angkat kaki secepat mungkin, tapi kemudian langkahku terhenti ketika pintu di belakang terbuka. “Ada perlu apa, Pak Diki?”

Apa boleh buat, aku berbalik menghadap sosok familier itu. Dia memperlihatkan tanda-tanda geram, terbukti dari raut mukanya yang luar biasa abstrak.

Faisal Ali berusia setahun lebih muda dariku. Di samping berprofesi sebagai guru yang lulus dari universitas terkemuka, dia juga punya kecenderungan membuat orang-orang sekitar ingin mencemooh rambut poninya. Meski ditugakan mengajar pelajaran PKN, fakta menyebutkan bahwa minat aslinya terletak di bidang Gender dan kesetaraan sesama manusia. Dia menentang segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, penyuka sesama jenis, penganut aliran sesat. Bahkan, jika bicara secara moral dan politis, dia mungkin berharap agar dirinya terlahir sebagai salah satu dari mereka. Di Ruang Guru, ia banyak berceloteh tentang penindasan dan ketidakadilan yang dialami kaum minoritas, dan bagaimana kita harus memerangi serta mengajarkannya pada anak-anak didik. “Kita hidup di zaman modern, jadi sudah semestinya kita tidak berpikiran selayaknya makhluk primitif yang tolol dan bebal,” ucapnya satu hari, yang biasanya akan kujawab dengan sembulan asap rokok. Aku pernah dengar adanya sebutan khusus bagi orang seperti dia—entah apa itu; aktivis? Humanis? Feminis?

Brengsekis?

Pria satu ini memang pintar. Kepalanya sudah diisi oleh berbagai jenis ilmu pengetahuan, sampai-sampai tak ada lagi ruang untuk menampung suatu persahabatan. Setiap kali ada guru—baik itu honorer, pengajar senior, maupun Kepala Sekolah—yang membicarakan murid dengan memakai bentuk kata jamak, dan hanya menyebutkan pihak laki-laki saja, dia akan langsung mengoreksi, “Dan siswi.” Sejak saat itulah, walau tanpa sepengetahuannya (a.k.a. main belakang), mayoritas staf pengajar di sekolah ini menjulukinya dengan sebutan Dansis.

“Eh, ada Faisal. Kirain siapa. Sehat?”

“Jangan ganggu kegiatan belajar-mengajar saya. Itu termasuk penghinaan,” seru Dansis memperingatkanku, formal. “Setidaknya hargai siswa dan siswi.”

Aku mengangkat bahu. “Gak ada maksud—”

“Saya tahu Pak Diki orangnya suka bercanda. Tapi tolong sesuaikan waktunya.”

“Oi, santai. Gak usah berlebihan gitu,” aku coba menjelaskan. “Tadi kan saya cuma nengok ke kelas. Bercanda apanya?”

Mendengar pembelaanku, alisnya makin mengerut. “Pak Diki tadi ketawa. Saya yakin Bapak sengaja.”

Oh, itu.

“Oh, itu. Sip. Oke, maaf,” jawabku kemudian. Terus terang saja, aku memang lupa tadi sempat cengengesan. Terlalu kencang, mungkin? Bisa jadi.

“Sekali lagi Pak Diki ngelecehan saya di depan murid, saya bisa adukan ini ke Dewan Sekolah. Jangan pernah menjatuhkan kredibilitas pendidik. Sebagai guru, mestinya Bapak paham.”

Ngelecehin, katanya? “Sal—”

“Permisi, saya sedang ada kelas.”

“Satu pertanyaan.”

Dia berhenti, tangan menempel di kenop. “Silakan.”

“Sehat, Sis?”

Dan dengan begitulah, Faisal Ali membanting pintu kelas.

Sebelum akhirnya melanjutkan ceramah di hadapan para siswa (dan siswi!) dengan segudang teori dan rambut poninya.

Secara teknis, tugas utama seorang guru adalah mengajar, merencanakan dan menilai pekerjaan anak didik. Setidaknya itulah yang tercantum dalam Pedoman Kode Etik Keguruan. Kalaupun ada urusan lain selain ketiga hal tadi, terutama yang ada sangkut pautnya dengan kedinasan, staf pengajar honorer sepertiku tak akan banyak terlibat, kecuali untuk urusan internal sekolah. Selain mengisi kelas, ada kegiatan lain yang mau tak mau harus kami ikuti, salah satunya housekeeping, atau yang umum disebut rapat. Berbeda dengan Raker (Rapat Kerja) yang dilaksanakan di awal dan akhir semester, housekeeping biasa dilakukan tiap satu bulan. Sebuah agenda yang tidak lebih dari sekadar formalitas semata. Sifatnya pun satu arah; berupa evaluasi singkat atau briefing dari Pak Kepsek.

Berita yang didapat Yudi dari Entis tempo lalu—yang sempat kami sepelekan—ternyata benar. Karena kalau tidak, mustahil hari ini aku bisa duduk dalam satu ruangan bersama staf-staf lainnya, menghadap Bapak Kepala Sekolah yang memimpin jalannya rapat.

“Terima kasih bagi yang sudah hadir. Sehubungan dengan kesepakatan kemarin, atas saran dari Ibu Endah, mulai sekarang rapat akan dilakukan secara berkala. Seminggu sekali.”

Aku tidak menghadiri rapat sebelumnya, sebab kebetulan di hari itu aku tidak ada jadwal mengajar. Dan entah saran macam apa yang keluar dari mulut Bu Endah (guru Biologi; umur sekitar 30) kala itu, yang jelas, beliau telah berhasil menyebabkan beberapa orang di ruangan ini bergumam, menguap, dan mengucapkan “Hmmm” secara serempak.

Seperti biasa, aku duduk di barisan paling belakang, tergabung dalam satuan kelompok yang penghasilannya terbilang setara denganku. Di samping kanan ada Entis (guru PAI yang dicurigai seorang ateis), Imam Aripin (TIK; 28), Saepuloh (Bahasa Sunda; 24) dan ada Yudi pastinya. Jajaran kiri tidak kalah suramnya: Ahmad Fadillah (Sosiologi; 25), Pak Tata (Geografi; 30-an), Pak Dahlan (Pramuka; kisaran 26-40), dan satu wajah baru yang nama dan usianya belum kuketahui.

Setelah kuamati lagi, aku baru sadar rupanya rapat kali ini terbilang cukup ramai—dihadiri oleh dua puluhan staf pengajar dan karyawan TU. Upaya yang dilakukan Kepala Sekolah kami, Hamzah Turmudzi, memang tidak main-main. Dengan gencarnya, beliau terus-menerus mengimbau kami—terutama yang jarang hadir sepertiku—untuk turut serta dalam forum ini. Meski usahanya sukses, beliau nampaknya tidak tahu bahwa kehadiran kami di sini adalah cerminan betapa inginnya kami agar mulutnya bisa diam.

“Sengaja saya mengumpulkan seluruh staf,” Pak Hamzah melanjutkan, “karena berdasarkan hasil rapat kemarin, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan lebih lanjut dan disepakati bersama. Neng Yuli, tolong bacakan poin-poin yang kemarin kita bahas.”

Di setiap rapat selalu ada notulis. Ia duduk di samping Kepala Sekolah dan mencatat proses berjalannya diskusi. Yuliana Anggraini (Bahasa Inggris; 24) adalah yang biasa bertugas melakukan itu. Pak Hamzah lagi-lagi gagal paham. Dengan ditunjuknya Yulia sebagai notulis, semua guru laki-laki yang hadir di ruangan ini akan lebih fokus menatap wajahnya ketimbang memperhatikan ucapan sang Kepsek.

Selagi Yulia membacakan notula, Entis berbisik padaku, “Aduh, pasti lama ini mah euy.”

“Taruhan, ah. Ceban,” kataku.

“Taruhan apa?”

“Tebak siapa yang bakal nyamber duluan.”

Entis menerima tantanganku. Dia memilih Pak Aslan (Matematika; 30-an), sedangkan aku bertaruh untuk Bu Endah.

“Nuhun, Neng. Baik, kita bahas mengenai Senam Sehat terlebih dulu, ya. Kemarin ada sedikit pro-kontra. Ada yang usul supaya agenda ini dihapuskan saja. Bagaimana? Silakan Bapak dan Ibu, barangkali ada yang mau disampaikan.”

“Sebaiknya memang mesti dihapuskan, Pak.” Bagai kecepatan cahaya, Bu Guru Endah mengangkat tangannya untuk menginterupsi. Aku mengedipkan mata pada Entis, dan dia membalas dengan tatapan pasrah. “Atau setidaknya dipindah ke tengah pekan sajalah.”

Barulah sekarang jagoan dari Entis yang mengoceh: “Kurang lebih saya sepakat. Kegiatannya kurang efisien, saya rasa. Banyak guru yang tidak ikut. Selain itu, seringnya malah menghambat proses KBM.”

Dari nada bicaranya, Pak Aslan bermaksud menyindir staf pengajar yang kerap menyalahi aturan. Agenda yang tengah mereka bahas ini, Senam Sehat, adalah program rutin yang dilakukan tiap Sabtu pagi—sebelum jam istirahat pertama. Aturannya, guru-guru yang sedang tidak mengajar diharuskan mengikuti kegiatan ini. Pernah sekali aku ikut, dan itu merupakan pengalaman yang ingin segara kulupakan tepat setelah melakukannya. Bertempat di lapangan basket, saat itu aku bersama guru lainnya menggerak-gerakkan kaki, tangan, dan kepala persis seperti koreografer yang ada dalam video klip lagu-lagu Michael Jackson. Seakan menambah kengerian, orang yang berperan sebagai Michael Jackson—alias instruktur senam—adalah Yudi dan Pak Aom, sepasang guru Penjaskes yang jarang dianggap guru Penjaskes. Aku tidak tahu siapa sebetulnya pencetus Senam Sehat, sebab kegiatan ini sudah ada jauh sebelum kedatanganku ke sini. Menurut rumor yang beredar, pelakunya berjenis kelamin pria, dan punya motivasi berlebih untuk bisa melihat guru-guru muda mengenakan celana training dan kaus ketat.

Mereka yang mengikuti Senam Sehat, otomatis akan merasa lelah dan berkeringat sesudahnya. Dan dengan begini, mereka yang kebetulan ada jadwal mengajar pada jam sepuluh, biasanya lebih memilih untuk mengistirahatkan diri di kantin ketimbang mengisi kelas. Sudah pasti, motif mereka diperkuat dengan perbentrokan di hari Sabtu, yang oleh sebagian orang dikategorikan sebagai hari santai. Kira-kira itulah poin yang ingin disampaikan Bu Endah dan Yang Mulia Aslan. Mereka berdua protes hanya karena iri, sebab di hari tersebut, mereka kebagian jadwal pada jam pelajaran pertama. Nasib.

“Jangan gitulah, Aslan.” Pak Aziz, salah satu guru senior, menyanggah pendapat Yang Mulia Aslan. Sama sepertiku, Pak Aziz mengajar Mapel Seni Budaya. Tidak sepertiku, beliau sangat menghayati profesinya. “Program ini kan sudah jadi budaya di sini. Warisan langsung dari leluhur kita lho, ndak sopan kalo kita maen hapus aja. Iya, tho?”

“Maaf, Pak Aziz, bukannya mau lancang, tapi saya kira ini kurang efektif, Pak. Kalau saya perhatikan, yang ikut senam paling cuma itu-itu aja. Coba tanya Yudi.”

Semua orang pun menoleh ke arah Yudi. Dan yang bersangkutan hanya bisa merespons dengan senyuman memelas. Jelas dia tak mau dilibatkan dalam forum.

“Perlu saya luruskan, ya. Sebetulnya program Senam ini cukup penting,” ujar Pak Hamzah, mencoba menetralisir suasana. “Tujuannya untuk mempererat silaturahmi antar guru dan menjaga kebugaran tubuh. Sebab kesehatan pun, bisa mendukung etos kerja yang baik. Tapi sekali lagi saya tegaskan, ini forum musyawarah. Saya selaku fasilitator, menyerahkan sepenuhnya hasil rapat kepada yang hadir di sini. Tentu dengan catatan, kita semua harus paham betul apa yang menjadi keputusan bersama.”

Atmosfer ruangan sempat mereda, sebelum akhirnya Bu Endah kembali menawarkan solusi. “Udahlah, jadwalnya dipindahin aja, Pak. Kalau hari Sabtu kan tanggung. Jadinya malah banyak yang gak masuk kelas.”

“Mau hari apa pun sama saja, Bu.” Inilah dia. Faisal ‘Dansis’ Ali, mulai melancarkan terornya. “Saya setuju sama Pak Aslan. Lebih baik program ini dihapus sekalian, atau paling tidak, ganti dengan program lain yang sekiranya lebih berguna. Toh percuma kalau kita mempertahankan hal yang kurang efektif dan malah membebani.”

Hingga beberapa menit selanjutnya, diskusi belum juga menemukan titik temu. Jumlah partisipan yang mengoceh pun tidak banyak bertambah. Walau Kepsek telah berupaya memancing seluruh staf agar lebih vokal, namun keinginan khalayak untuk segera bubar tentunya lebih kuat. Apalagi guru-guru yang duduk di barisan belakang—kelompokku—yang sejak dimulainya rapat hanya bisa menguap dan menopang dagu. Untunglah, kepenatan yang kami rasakan sedikit terobati ketika Entis menghibur kami dengan siasat yang tak terduga.

“Gini aja deh, Pak, Bu,” ucap Entis tiba-tiba, bibirnya bergetar menahan panik. Seingatku, ini pertama kalinya dia berani bicara dalam rapat.

“Gimana, Tis?” Aku mengompori.

“Maju, Tis.” Yudi dan yang lainnya ikut bersemangat.

Seolah telah mendapat siraman rohani dari umat ateis, kepercayaan dirinya meningkat secara drastis.

“Sebelumnya mohon maaf nih, Pak, Bu. Saya mau ngasih usul. Kalau gak salah, tadi Pak Aslan bilang, yang ikut senam biasanya cuma sedikit. Menurut saya, daripada programnya dihilangkan atau diganti, gimana kalau seandainya—ini seandainya, ya—kita ubah aja formatnya, Pak? Contoh, murid-murid kita ajak berpartisipasi. Supaya pesertanya lebih banyak, gitu. Ya, itung-itung sekalian berbaur dan mendekatkan diri dengan siswa.”

“Dan siswi,” tambahku, nyaring.

Sementara seisi ruangan menahan tawa, Dansis terlihat kebingungan. Ada orang yang baru saja mencuri hak ciptanya.

Sedangkan untuk Entis, idenya yang sungguh cemerlang itu langsung ditolak mentah-mentah. Alasannya sederhana: hal yang bersifat remeh seperti keakraban antara guru dan murid bukanlah prioritas utama di lembaga ini. Minimal itulah yang kupahami setelah hampir tiga tahun menjadi staf pengajar. Lebih jauh lagi, mereka juga menganggap usulan dari Entis cuma akan mengganggu proses KBM, yang menurut Bu Endah, justru malah akan menambah masalah.

Sepintas aku merasa, tidak ada satu pun di antara kami—tak terkecuali mereka yang beropini—tahu betul apa maksud dan tujuan digelarnya pertemuan ini. Aku bahkan ragu ada yang peduli. Polemik mengenai agenda Senam Sehat bisa jadi hanya sebatas simbol, yang mengingatkan kami betapa sulitnya menyesuaikan diri dengan segala keterbatasan yang ada—atau dalam hal ini, ketimpangan sistem pendidikan yang berlaku. Aku yakin, jika berbicara fakta, kami semua tahu di mana letak persoalan sebenarnya. Tanpa harus menyinggung seberapa besar tanggung jawab guru dalam mendidik para siswa (dan siswi!) atau balasan kecil yang kami terima dalam bentuk materiil, pada dasarnya kami hanyalah manusia yang butuh ketenangan. Dan dalam pencarian ketenangan ini, tentu saja, kami tidak bisa mengandalkan pihak atas. Maka sebagai gantinya, lingkungan kerja terpaksa dijadikan tumbal dengan cara tidak membiarkan seorang pun mendapat keuntungan lebih. Situasi bisa semakin menarik ketika saling mencurigai dianggap sebagai solusi terbaik.

Pada awal kedatangannya sekitar dua tahun lalu, sosok Yuliana Anggraini sontak menjadi buah bibir seantero sekolah, terlebih di kalangan guru-guru bujang dan murid laki-laki yang tidak memiliki pemandangan indah di kelasnya. Popularitas yang kini disandang guru Bahasa Inggris itu bahkan mampu menggeser isu berpacarannya Yudi dengan siswi kelas XII, kemasyhuran rambut poni Dansis, serta desas-desus yang mengatakan Imam Aripin (TIK) tinggal di Lab Komputer.

Tidak seperti mereka yang secara gamblang menunjukkan ketertarikan, aku justru sebaliknya. Jika ada situasi di mana aku melihat atau berpapasan dengan Yulia, aku cenderung bersikap acuh tak acuh. Sebab memang itulah kebijakan yang selalu kupegang teguh selama dua tahun terakhir. Bekerja sebagai guru Seni Budaya, rintangan terberat yang mesti kulalui selain menghadiri kelas pagi adalah menahan diri untuk tidak menaruh hati pada wanita ini.

———

Siang ini Pak Aceng tengah berada dalam performa puncak. Sambil sibuk mengusap kumis, tak henti-hentinya pegawai TU itu bercerita semua hal, termasuk tentang anggota keluarganya, lengkap beserta nama, sifat, dan mata pencaharian mereka masing-masing. Saking tak terbatas energinya, Pak Aceng secara sukarela mencekoki si pendengar dengan kepingan informasi perihal hobinya memelihara ular. Tepat di hadapan beliau, ada aku—seorang pria berumur dua puluh lima yang sedang berpikir keras mengapa ia bisa sampai terjebak dalam percakapan satu arah ini.

Lima belas menit Pak Aceng gunakan untuk membahas karier anak pertamanya, kemudian sepuluh menit lagi untuk menyinggung si bungsu yang tengah merantau kuliah di Jakarta, dan ketika topik pembicaraan beralih pada kontes reptil yang pernah beliau ikuti, aku mulai cemas obrolan ini akan terus berlanjut hingga ajal menjemput kami.

Akhirnya, ada jeda cukup panjang yang langsung kumanfaatkan untuk pamit pergi. Saat berjalan menuju pintu keluar, satu suara tiba-tiba memanggil namaku. Pemiliknya, sejauh mata memandang, bukan Pak Aceng, melainkan Yuliana, perempuan yang kebetulan sedang duduk di kursi sofa dan tidak punya hobi memelihara hewan buas. Kulihat ia bersama beberapa kolega tengah asyik bercakap-cakap.

“Hei, Pak Diki. Ke mana aja, perasaan jarang keliatan. Sehat?”

Akhir-akhir ini aku memang jarang berjumpa dengannya. Mungkin karena jadwal kelas kami yang berlainan hari, entahlah. Lagi pula, tempat kami bergaul tidaklah sama. Dia lebih suka menghabiskan waktu di sini, di Ruang Guru, sementara aku biasa ke kantin jika tidak langsung pulang sehabis mengajar.

“Halo, Yul,” aku mendekat ke posisinya dan mengulurkan tangan. “Ada kok, gak ke mana-mana. I Fine. I not sick.

Yulia tersenyum demi mendengar perkataanku. Dari skala satu sampai sepuluh, senyumannya mendapat nilai sepuluh sempurna.

“Oh, syukur deh kalau baik.”

Aku balik menanyakan kabarnya.

Yes, I’m good. Couldn’t be better actually,” dia menjawab riang. “Udah lama gak liat Pak Diki. Sibuk, ya?”

Kali ini pertanyaan guru Bahasa Inggris itu tak sempat kubalas, lantaran lebih dulu dipotong oleh guru Bahasa Sunda bernama Saepuloh, yang entah sudah sejak kapan duduk di sampingnya. “Emangnya Bu Yuli belum tahu? Jangan salah, sekarang mah Pak Diki sibuk pisan, Bu. Sibuk jaga lilin tengah malem.”

Aku dan Saep tertawa berbarengan, meski dengan motif berbeda. Dia menertawakan leluconnya; aku menertawai tingkahnya yang jelas-jelas ingin cari muka di hadapan Yuliana. Setelah kuhitung-hitung, tawa yang dikeluarkan Saep itu bernilai sembilan, dari skala satu sampai tiga ratus.

“Oh, gitu? Bagus dong, nambah pengalaman,” canda Yuli padaku, walaupun aku tidak yakin dia mengerti maksud ucapan Saep—wajar.

“Omong-omong, Yul, lancar ngajarnya?” tanyaku, untuk sekadar mengimbangi keramahannya. “Denger-denger sekarang kamu ngisi jurusan IPA, ya?”

“Iya, lancar kok.”

“Gak ada murid yang berani macem-macem? Ngajak keliling Eropa, misal.”

“Gak ada.”

“Ada siswa yang nyuruh kamu beli makanan ke kantin?”

“Enggak, lah.”

“Atau yang berani minjem uang?”

“Pak Diki ada-ada aja. Lagian anak-anak IPA kan baik semua, Pak.”

“Ibu, berapa kali saya harus bilang? Nama saya Diki, bukan Pak Diki. Nah, kalau itu,” aku menunjuk sosok lelaki di sebelahnya. “Itu baru Pak Saep. Coba perhatiin baik-baik, wajahnya kelihatan lebih resmi, lebih formal. Apa ya istilah asingnya? Official face? Bukan?”

Dan lagi-lagi, Yulia mengumbar senyum. Dua kali berturut-turut di hari ini. Cukup mengembalikan kesadaranku untuk segera menyetop percakapan ringan kami.

Sampai sekarang aku masih mempelajari teknik untuk tidak terpikat pada wanita ini—dan asal tahu saja, itu teknik yang sangat sulit. Lucu, memang. Di saat dia tidak melakukan apa-apa selain bersikap baik pada semua orang, aku malah merasa risau sendiri; seolah-olah nyawaku terancam oleh keberadaannya. Ada rasionalitas yang berusaha selalu kujangkau dan kupertahankan. Sering kali aku bergelut dengan pikiranku, meyakinkan diri agar percaya bahwa perasaanku ini hanyalah sebatas kekaguman. Tapi kenyataannya, aku tidak sepenuhnya merasa itu sekadar kekaguman biasa. Dia terlalu istimewa bila hanya dijadikan objek kekaguman tingkat standar. Dan ujung-ujungnya, sekeras apa pun benakku menolak, hukum alam tidak pernah mengizinkan.

Lantas bagaimana? Apakah di sana ada istilah tertentu yang cocok menggambarkan kondisi semacam ini? Sindrom Guru Pengecut? Sisi Gelap Seorang Pendidik? Sepertinya memang ada kekeliruan di sini. Atau jangan-jangan, sistem sarafku-lah yang memang sudah bobrok?

Jawaban dari misteri ini, mungkin akan lebih baik jka aku mencarinya di Pedoman Kode Etik Keguruan. Bahkan kalau perlu, menanyakan langsung ke Ketua Umum PGRI, yang aku sendiri pun tidak tahu siapa orangnya.

----
NB: Cerita ini didedikasikan khusus buat kawan-kawan saya yang berani milih guru sebagai profesi tetap: Ana, Icha, Diki, Ade, Nded, Rida, dan yang lainnya—mantep, cees!

5 Kritik Jahat

Lho, ada tokoh lama yang populer sekali di blog ini. Hehehe. :)

Si entis jadi guru?
Mank udah g ngelawak sama bawain talkshow lagi?

dan siswi..

oke satu pertanyaan saja, 'kenapa harus Yuli?'

Mantaplah, Cees. Sempet aja nempilin Sid Vicious, betul-betul punk abis! Sebetulnya musik itu emang lebih fokus soal enak didengernya, ya. Bukan cuma fokus ke lirik bagus, terus nanti nada-nadanya malah asal. :/

Yul? Kenapa kamu ada di akhir cerita? Memecah fokusku untuk komentarin soal mirisnya dunia pendidikan. :(

Iya juga, ya. Kebanyakan di beberapa sekolah cuma nyebutin "para siswa" aja, tanpa siswi. Terus di kampus pun begitu. :)

ternyata mirisnya dunia pendidikan di Indonesia juga sama persih sama kisah cinta author blog kita tercinta ini, aa Agia. wqwq

Seperti dicetuskan Green Day dalam lagu Warning: "Hiduplah tanpa menghiraukan banyak peringatan dan instruksi."

Jadi, silakan komentar apa saja. Bebas...
EmoticonEmoticon