Yuhu! Aduh ya ampun, ngedadak pengen nulis cerpen euy.

==========!!==========

Menarik napas dalam-dalam yang konon dapat menghilangkan rasa gugup adalah kebohongan terbesar sepanjang sejarah manusia. Siapa pencetus sugesti tai ini? Siapa pun orangnya, tolong bawa dia ke hadapanku. Dengan segudang pengalaman yang kumiliki di bidang tarik napas, akan kuajak dia berdebat, dan aku akan berlagak seperti mahasiswa berengsek yang tidak mau mengalah ketika presentasi di kelas.

Sudah empat jam aku berdiam diri di kamar ini tanpa melakukan aktivitas apa pun selain tersengal-sengal. Dalam kurun waktu tersebut, aku sudah menghirup napas dalam-dalam sebanyak 74 kali—bukan berarti aku menghitungnya, aku tidak seiseng itu. Efeknya nihil. Aku masih gugup. Masih saja panik.

Aku punya pacar. Dia telah pergi. Aku tahu dia sudah pergi. Hanya saja kadang aku lupa.

Akhir-akhir ini aku susah tidur. Mataku bengkak dan keriput, persis buah mangga busuk. Berbagai cara telah kucoba agar bisa terlelap, mulai dari menghitung domba berjalan hingga membuat kaligrafi arab. Semuanya sia-sia.

Hal yang dapat membuatku tidur hanyalah satu, yaitu menyebut namanya dan mengingat-ingat aroma tubuhnya. Tapi jika itu kulakukan, konsekuensinya pun terbilang berat: sesak napas.


Namamu selalu kubisiki
Dalam tidurku, dalam mimpiku
Setiap malam~

Hangat tubuhmu melekat di kulitku
Beribu peluk, beribu cium
Kita lalui~


* * *

Aku sedang menarik napas untuk yang ke-75 kalinya ketika pintu depan terbuka. Heran, seharusnya itu menimbulkan bunyi, mengingat kondisi pintu rumah ini sudah sangat jelek.

Teka-teki pun terjawab. Menghilangnya suara pintu ternyata disebabkan oleh suara mulut yang menirukan outro lagu 'Mungkin Nanti' dari Peterpan. Teng neng neng.... teng neng neng deng jes.... teng neng neng....

"Anjir suram amat. Serius dari tadi gak ke mana-mana, bro?" ucap sang Seniman Mulut.

"Gak," jawab pria yang bercita-cita membunuh si Seniman Mulut.

Namanya Ade, teman sekontrakan sekaligus partner kerjaku—kami punya bisnis kecil-kecilan. Ah ya, Ade juga sahabat baikku sejak kecil, walaupun ada momen tertentu di mana aku dengan senang hati ingin menampar kedua pipinya menggunakan telapak tangan yang sebelumnya kuolesi balsam Geliga. Salah satunya saat dia menirukan suara gitar. Aku cukup beruntung karena hari ini dia memilih lagu Peterpan, bukan Guns N' Roses yang selama ini sukses mengubah perangaiku seperti Sumanto, pelopor kanibalisme Indonesia.

Sehabis dari kamar, Ade bergabung denganku di ruang tengah dan langsung menyalakan televisi. Di rumah ini dia berperan sebagai navigator saluran yang kami tonton. "Wow. Ada apa nih, bro? Tumben cemberut aja."

Tumben cemberut aja.

Aku lupa memberitahu. Selain memainkan gitar dengan mulut, dia juga punya kebiasaan lain yang membuatku jijik. Setiap kali berbicara dengan lelaki dewasa, Ade selalu menggunakan istilah-istilah sinetron yang sebetulnya lebih pas diucapkan pada pacarnya. Hari ini "Tumben cemberut aja" dia pakai, kemarin-kemarin bahkan lebih parah. Dia berkata "Good night, bro" padaku saat kami hendak tidur.

Aku punya pacar. Dia telah pergi. Aku tahu dia sudah pergi. Hanya saja kadang aku lupa.

Tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV, aku menunjuk amplop yang tergeletak di atas meja. Amplop yang menyebabkanku menarik napas dalam-dalam sebanyak 75 kali. "Tadi siang dapet kiriman euy."

"Apa ini?" tanya si Ade.

"Jangan banyak nanya, tai. Buka aja."

Isi amplop itu sebenarnya sepele. Hanya selembar kartu yang memberitahukan bahwa aku diundang dalam sebuah ritual sakral. Masalahnya, aku sangat mengenal dekat si pengundang. Dia melegenda di pikiranku.

"Anjir! Parah pisan ini mah. Sabar, bro." Ade nampak prihatin. Ternyata dia masih punya rasa solidaritas.

"Yoi. Gak habis pikir, bisa-bisanya dia ngundang saya ke nikahannya."

"Bukan. Maksudnya parah, orang yang ngasih undangan enggak nyantumin alamat lengkap rumah kita, bro. Masa cuma ditulis 'Di tempat' aja. Yuhuu!"

Kupandang wajah temanku itu dengan tatapan yang kubuat seramah mungkin. "De," kataku.

"Ya?"

"Anjing."

"Sori atuh, sori. Cuma bercanda. Biar suasana gak terlalu tegang."

Memilih Ade sebagai teman curhat bukanlah keputusan bijaksana. Kurebut kertas itu dari tangannya, lalu kubaca lagi untuk yang kesekian kalinya. Ada satu kalimat yang menarik perhatianku:

Mohon maaf bila ada kesalahan penyebutan nama, gelar dan alamat.

Rupanya selain tidak menyebutkan alamat kontrakanku—sebagaimana Ade bilang—mereka juga lupa menuliskan gelar, yang mana seharusnya ada kata 'PECUNDANG' di belakang namaku.


Tapi kau kabur
Dengan duda anak tiga
Pilihan ibumu~


Jauh sebelum kartu undangan ini sampai ke tanganku, aku sudah mengetahui kabar pernikahan mereka. Mereka, yang tak lain tak bukan adalah pacarku sendiri dan lelaki berumur setengah abad. Pedofilia!

Semua berawal dua bulan lalu, ketika Nanda—sahabat pacarku dan sahabatku juga—membeberkan satu rahasia yang mestinya tidak dia bocorkan. Mungkin Nanda lebih ingin mengasihaniku ketimbang mempertahankan janjinya pada pacarku.

"Iya serius, sama om-om. Duda, lagi. Katanya sih udah punya anak tiga."

Nanda, makasih atas infonya. Kuhargai bantuanmu. Tapi alangkah lebih baik jika kamu tidak memberitahukan rinciannya.

"Oiya," Nanda melanjutkan, seakan tak menghiraukan raut mukaku. "Ada unsur dorongan juga dari ibunya. Makanya dia mau."

Pacarku, yang beberapa hari sebelumnya mengirim SMS berisi "Oke deh, Yang, semangat ya kerjanya," dan kubalas dengan "Sip, kamu juga harus semangat. Hehe," akan segera menjalin rumah tangga bersama seorang pria yang bertampang 97% mirip Hannibal Lecter.

* * *

Biar kujelaskan tentang si Hannibal ini.

Asal tahu saja, kami tidak saling mengenal. Terkutuklah hidupku jika aku mengenalnya. Kalaupun iya, aku akan langsung menjual ingatanku seharga dua batang rokok. Namun, aku pernah sekali bertemu dengan duda beranak tiga itu—pertemuan yang nanti akan kuceritakan. Ada dua alasan mengapa aku menyebutnya Hannibal: (1) Dia memang mirip Hannibal Lecter. Ini fakta, sudah teruji kebenarannya melalui riset yang dilakukan para ahli anatomi di kepalaku. (2) Aku tak tahu dan tidak mau tahu siapa namanya.

Ya, setidaknya sampai hari ini. Betul-betul sial, di kartu undangan tercetak jelas nama asli si Tuan Hannibal. Dia bernama Agia Aprilian. Siapa sangka, nama sebagus dan sekeren itu tidak berbanding lurus dengan pemiliknya. Untung, aku bisa sedikit tersenyum ketika melihat foto pre-wedding yang terlampir di dalamnya. Meski para penata rias sudah merombak penampilan Bapak Agia sedemikian rupa, mereka tetap tidak bisa memanipulasi mimik itu. Mimik seorang pembunuh berantai periode '90-an.


Hatiku hancur
Berserakan, berhamburan
Kayak jeroannya binatang~


Pertemuan itu terjadi begitu cepat, sekitar seminggu pasca Nanda membeberkan apa yang kukira mitos belaka.

* * *

Aku melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa menuju area parkir sebuah mal, setelah sebelumnya berhasil membawa pulang berbagai macam barang diskonan. Dan di sanalah dia. Wanita favoritku sepanjang masa, yang secara teknis masih sah berpacaran denganku, berjalan ke arah pintu lift yang baru saja kulewati. Dia terlihat sedang membopong miniatur tokoh Star Wars berukuran jumbo. Seperti biasa, hari itu dia nampak cantik. Tanpa pikir panjang, kuhampiri gadis itu dan membiarkan kunci motor tergantung.

"Hei," sapaku, yang seketika mengubah ekspresi mukanya.

"Hei," dia menjawab dengan suara yang kuanggap terlalu melengking. “Kamu ngapain di sini?”

Suasana sempat hening. "Aku habis belanja buku. Denger-denger katanya kamu mau nikah, ya?" Kalimat terakhir yang resmi menobatkanku sebagai manusia paling bodoh sedunia.

Dia tidak menjawab. Tangannya semakin erat memegangi miniatur Star Wars.

"Bener?" tanyaku lagi, kali ini dengan tegas.

"Iya."

Tet tot! Maaf, jawaban Anda salah.

Adrenalin ini terpacu. Siluman Kemarahan telah mengambil alih otakku. "Kamu mau nikah! Nikah sama om-om gitu lho. Om-om yang udah punya anak tiga. Ciee jadi pengantin!"

Pacarku menundukkan kepalanya. Kepala yang dulu senantiasa kubelai secara perlahan.

"Heh, jaga omongan!"

Itu suara Yoda, si tokoh Star Wars.

Miniatur bisa bicara!

Ampun! Ternyata yang sejak tadi dipegangnya bukan mainan, melainkan manusia.

"Ente siapa?" tanyanya. Sengit.

Kuteliti penampakan lelaki di hadapanku ini dengan saksama. Bajingan yang sekarang kuketahui bernama Agia. Badannya tambun, rambutnya habis, umurnya sekitar lima puluh tahun (pedofil!), tatapannya meledek, sikapnya angkuh, dan yang paling mencengangkan dari semua itu: dia bernapas.

Ah, satu lagi. Dia lebih mirip Hannibal Lecter ketimbang Yoda.

Apa hebatnya orang ini, sampai-sampai pacarku setuju menikahinya? Aku, yang notabene baru beberapa menit melihatnya, sudah muak setengah mati. Dan mungkin bukan cuma diriku saja. Aku yakin ibu dari pacarku pun—orang yang menjodohkan mereka—tak sanggup berlama-lama menatapnya. Kemungkinan besar ketiga anaknya pun begitu.

Karena cintakah? Omong kosong. Baru kemarin dia menyebutku "Yang" via SMS. Aku ingin tahu seberapa istimewa calon suaminya.

Soal penampilan, aku mengaku kalah. Tuan Hannibal mengenakan kemeja Armani biru, dilengkapi dengan jas dan sepatu bertaraf internasional (+15). Aku memakai kaus Proshop (0). Dalam hal aksesoris tangan, aku kalah lagi. Dia punya jam tangan emas merk Swiss Army (+8), aku punya gelang tangan reggae (–10).

Oke, keunggulan Pak Tua Hannibal cukup sampai di situ. Rambutku tertata rapi dan klimis layaknya Marco Reus (+20), sedangkan si Hannibal botak (–30). Mari kita bahas perihal tampang. Jujur, aku memang tidak rupawan, tapi setidaknya mukaku tidak mirip penjahat yang ada di film Silence of the Lambs (+5). Sainganku mirip penjahat yang ada di film Silence of the Lambs (–999).

Total perolehan poin
Aku: 15
Om Hannibal: –1006

Euforia tidak berlangsung lama. Aku lupa memperhitungkan aspek benda yang sedang kami pegang. Di tangannya terdapat kunci mobil BMW yang harganya mencapai ratusan juta. Berbanding terbalik denganku. Tangan kiriku sedang memegang satu novel berjudul Flip-Flpo karangan Dori Irbana, yang menceritakan peliknya hubungan jarak jauh sepasang remaja.

Ini semua tentang harta.

Hannibal berengsek menang telak.

Tanpa menggubris pertanyaan si duda, aku melirik ke arah pacarku. "Ini maksudnya apa? Ngomong."

Orang-orang sekitar mulai menyadari ketegangan kami. Mereka tampak tertarik dengan adanya plot fantasi ini. Merasa malu, pacarku bergegas meninggalkan jejak TKP. Kutarik tangannya, pelan.

Aku punya pacar. Dia telah pergi. Aku tahu dia sudah pergi. Hanya saja kadang aku lupa.

Agia naik pitam. Wajahnya memerah, matanya menatapku tajam. Melihat pemandangan ini, aku jadi teringat film Final Destination, di mana si tokoh utama dapat merasakan tanda-tanda munculnya Kematian. Dalam situasi ini aku berperan sebagai Alex Browning. Dia sebagai Kematian.

Kemudian dia menggonggong dalam bahasa Sunda, "Sia ulah piomongeun! Sakali deui sia macem-mac–"

"Oi, Hannibal," bentakku. Akhirnya mulut ini setuju untuk memanggilnya dengan nama itu. "Kamu diem, ya. Kalo gak mau diem, minggat sana. Ngopi di Starbucks."

"Udah, A, udah. Malu diliatin orang." Pacarku mencoba melerai.

Oh, rupanya dia dipanggil "Aa".

Sayang, kumohon panggil dia botak!

"Kamu juga," dia berbalik menatapku. "Pulang sana. Nanti aja kita ngomongnya."

Aku tersenyum seraya menggelengkan kepala. Lingkungan semakin ramai. Sebagian menonton, sebagian lagi berpura-pura tidak menonton kami.

"Kamu maunya apa, sih? Aku kan tadi udah bilang. Iya, aku mau nikah."

Pertanyaan yang sungguh menarik. Apa sebetulnya mauku? Jawabannya mudah. Aku mau mengunci calon suaminya di kamar mandi. Kamar mandi yang terletak di bangunan Belanda. Bangunan Belanda yang sudah tak berpenghuni selama ratusan tahun. Bangunan Belanda yang di dalamnya ada lukisan seorang perempuan.

"Kenapa?" Hanya itu kata yang keluar dari bibirku. Walaupun aku tahu balasannya akan membuatku hancur.

"Aku pengen berkomitmen." Dia kelihatan ragu sejenak. "Sama orang yang serius," tambahnya.

"Oh, berarti aku gak serius, ya? Puluhan kali aku dateng ke rumah kamu, diajakin ngobrol politik sama ayah kamu, dipelototin ibu kamu setiap kali aku bilang 'Assalamualaikum' di depan pintu, ngebatalin janjiku ke temen demi bisa jalan-jalan sama kamu. Maaf, kalo aku belum cukup serius."

Dia memalingkan wajah. Posenya persis dengan foto yang kusimpan dalam dompet.

"Kamu," lanjutku, "milih orang lain cuma karena aku belum punya prospek jelas. Sekarang gini, kita udah sering bahas masalah ini. Kalau kamu masih—"

"Aku cuma realistis!"


Ya sudah
Kumenangis seadanya
Sekuat tenaga~

Ya sudahlah
Kau memang setan alas
Tak punya perasaan
Ancur~


Teriakannya itu sontak membuat orang-orang yang tadinya berpura-berpura menonton, menjadi penonton asli. Pacarku akhirnya mengakui motif sebenarnya. Semula kukira si Hannibal akan tersinggung dengan pengakuan ini, tapi nyatanya tidak. Dia malah tersenyum puas memandangiku. Pedofil.

"Realistis?" Aku.

"Kamu enggak akan ngerti." Dia.

"Ngerti apa?" Aku.

"Wanita juga berhak milih." Dia.

"Milih om-om ini, maksudnya?" Aku.

"Aku cuma bisa bilang maaf. Nanti aku jelasin semuanya." Dia.

"Oke. Moga langgeng sama si botak." Aku.

"Naha ari sia euy kalakuan teh!" Hannibal Lecter.


Seluruh masyarakat lapangan parkir bergegas mendekati area tempat kami berdiri. Dalam hitungan detik, TKP telah dipadati oleh rasa panik, takut, intens. Kehebohan tak terelakan. Kerumunan terbagi menjadi beberapa kategori. Mereka yang memang berusaha melerai; mereka yang hanya penasaran; mereka yang bingung; dan mereka yang berisik.

Dia mencengkeram kuat-kuat leherku. "Sia geus sababaraha kali ku aing bejaan. Jaga kalakuan. Ceuk aing........"

Lagi-lagi bahasa Sunda kasar.

Aku sudah muak dengan segala yang kualami belakangan ini. Muak dengan segala ketidakmampuanku mempertahankan apa yang kumiliki. Berbicara mengenai pepatah kuno, ada satu yang kufavoritkan: Tak ada api, masakan ada asap. Sayang, jangankan penyebabnya, akibat dari semua ini pun masih belum kuketahui.

Kutepis cengkeraman tangannya. Senyum. Entah kenapa bibirku tersenyum, lalu, tanpa seorang pun mengantisipasi—termasuk diriku—tinjuku tiba-tiba melayang tepat di wajahnya. Dia terkapar bagaikan mayat.

Kata-kata kasar, teriakan-teriakan perempuan, bisikan para lelaki cemen. Seluruhnya memenuhi isi kepalaku.

Dia bangkit, membalas perlakuanku padanya. Sekilas, aku melihat mulut-mulut yang ternganga, menandakan para pemiliknya sedang berteriak. Walau bagaimanapun telingaku tak dapat mendengar apa-apa. Segalanya sunyi. Sial, ini benar-benar sunyi.

Aku punya pacar. Dia telah pergi. Aku tahu dia sudah pergi. Hanya saja kadang aku lupa.

Kepalaku terpelanting ke lantai. Roboh. Hannibal sukses membuat hidungku berdarah. Aku diam. Aku tidak harus bangkit. Percuma. Mengalahkannya dalam adu jotos tak akan memengaruhi perolehan poinku.

Selang beberapa saat, seseorang membantuku berdiri. Darah mengucur deras dari lubang hidungku. Kuamati pacarku yang sedang menenangkan calon suaminya itu. Setelah mata kami bertemu, dia berjalan cepat menghampiriku dan bersiap melontarkan mantra cacian.

"Dasar idiot!"

Dia membalikkan badan, meninggalkan tempat kejadian perkara selama-lamanya. Juga meninggalkanku. Secara permanen.

Aku tak mau melewatkan momen berharga ini. Kesempatan terakhir untuk menggila.

"Woy!" Aku memekik sekeras-kerasnya. Pacarku tak menoleh, berbeda dengan si Hannibal.

Wahai kawanku Ade, izinkanlah aku meminjam tata bahasamu. "Kalian berdua langgeng yaaaa! Yuhuuu!"

Ya, aku memang idiot, Sayang. Aku idiot yang tidak akan pernah menjual kepercayaan orang lain hanya demi sesuap nasi dan receh.

Itulah definisi realistis.

* * *

"Jadi gimana? Udah diundang lho. Masa iya gak dateng." ujar Ade, membuyarkan lamunanku. Mengembalikan jiwaku ke Planet Bumi.

Aku berpikir sesaat, lalu dengan mantap menjawab, "Dateng, De. Pasti."

"Perlu ditemenin gak ke sananya?"

"Oke. Tengkyu."

"Santai. Kita kan cees."

"Sip," kataku. "Tapi pindahin dulu acara TV, anjing. Sinetron mulu dari tadi."


Doaku di akad nikahmu
Semoga si duda diracun orang
Biar terus mampus~

- - -
NB: Waduh, dipikir-pikir serem juga ya ini cerpen.

NB2: Cerita ini 100% fiktif. Diangkat berdasarkan lirik lagu “Ancur” ciptaan Iwan Fals. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat maupun peristiwa, itu semata-mata karena saya keren dan menarik.

NB3: Ukhuk.

67 Kritik Jahat

Masa sih piktip
G mungkin
Apalagi ada nama agia
Oh ternyata agia itu udah om2 beranak tiga y
Wah mana nih undanganya buat saya, kang?
Jotos2an bentaran duang
Payahlah agia jatoh
Payah huuuuh
Katanya kamu jomlo kang
Kok ini udah mw nikah j

Aku baca paragraf paragraf awal ngakak, Son. Si Ade sialan juga, bikin ketawa.
kirain komedi, tapi semakin kebawah ceritanya bangkee, bikin sedih. kerenn, Son.

"... kadang aku lupa" kalimat ini ya Allah, kenapa ini yang beberapa hari terjadi ku alami. huhuuu...

Brengsek kau Agia. Oh maaf.

Aing baca pas 'teng teng Jes' pas dengerin lagu eta deuih. Pas pisan. Dasar kumpulan pecundang patah hati. :')

Aing emosi euy, gegara si botak.

Mungkin gara-gara memilik kisah yg sam757hdka)$8hfir67492+komentarinitifskbisadilanjutakan..

Agia Hannibal. Duda beranak tiga. Parah euy.
Ini tulisannya kok terasa kayak non fiksi ya. Mirip kejadian nyata yang kamu alami bang:(

Ya Allah sedih

CERPEN INI BIKIN NGAKAK! ADE YUHUUUU BANGKE! NB3 ITU BANGKE! AGIA EMANG (MAAF) TAI!

Hahahahaa. Cerpen ini sungguh menghibur. Dan tai. Itu apaan coba Hannibal Lecter sama Yoda dibawa-bawa njiiiiiir..... Trus nama pedofil itu pake nama kamu pula. Hahahahahaha. Fix Agia ternyata punya bakat pedofil terpendam.

DAN ITU KENAPA NAMA TOKOHNYA PAKE NAMA NANDA..... HMM BENAR-BENAR. Oh iya, itu kenapa ya nama pacarnya nggak disebutin? Nama tokoh "Aku" kayaknya juga nggak disebutin deh. Jadi penasaran dan pengen menebak-nebak. Jangan-jangan.... nama dua tokoh itu Yuliana dan Yulianto.

Ups. Dua nama itu kesebut. Terutama nama pertama. Kesebut lagi. Itu, si Yuliana. Eh. Kesebut lagi. Maafkan aku ya, adek ipar. HUAHAHAHAHA.

Ini hiburan banget sih. Mwahaha. Tapi yang statement ini "Aku punya pacar. Dia telah pergi. Aku tahu dia sudah pergi. Hanya saja kadang aku lupa" kok bikin keki ya :"(

baca judulnya dan lalu baca awal dan akhirnya...malah jadi bingung sendiri..ya udah deh pokoknya mah satu plot lagu ancur ajah lah

Aku udah baca ini, eh tapi lupa komen ternyata. Wahaha. Duh, jadi kangen bikin cerpen gini euy. :))

Gue belum nemu temen cewek yang rela ninggalin pacar demi cowok tajir punya mobil apalagi tua dan udah om-om mirip Hanibal gitu, sih. Syukur ini fiksi, ya. Hm, tapi bisa jadi ini pengalaman Akang Agia, yak? :p

Satu kata:

"Taeklah maneh"

Yang menjadi teka-teki, siapakah nama si aku? :)

Jadi pengin berkata kasar, tp tetep harus jaga image, maka hmga jadi deh...
Son b**g*e ceritanya oke oce

agia, aku bingung mau komentar apaan :(

Serem pake banget
Tapi kocak

AHAHAHHAHAHAHAHAH

" Doaku di akad nikahmu Semoga si duda diracun orang Biar terus mampus~"

EBUSET

Hahahhahahahahahhahaha

Tuh kan bener, serem. Ha ha.

Hehe santai, Ben. Ini cerpennya juga emang ngebingungin kok.

Yaaaah, padahal aku pengen liat kamu ngomong kasar, Lus :(

Oke makasih ya. Lagi iseng-iseng nih bikin cerpen.

Tadinya mau dikasih nama The Undertaker, Roz. Tapi gak jadi.

Ha ha ha... Setan Bang Fei malah ngehina!

Wah iya udah lama nih gak baca cerpennya Yoga.

Yoi, dari kalimat pertama aja udah ketauan kok, cerpen ini bakalan semu-semu sinetron gitu. Banyak gak masuk akalnya. Dramatis sekali yuhu.

Sip lah, Mang Lembu. Pokoknya mah satu plot lagu ancur. Hidup! 8-)

Makasih ya udah nyempetin baca, Put. Oiya btw, keki itu apa sih?

Itu apa maksudnya pake tanda kurung segala. Harus ya? Ah dasar, Icha emang (maaf) Tina Toon!!!

Kamu tahu Yoda juga, Kakak ipar? Emang suka star wars? Enggak, aku bukan pedofil. Umur Agia sama Nanda cuma selisih (mungkin) 5-6 tahun aja kok. Ha ha.

Nama tokoh aku dan pacarnya sengaja gak disebutin. Karena... Pikirkan sendiri!

Yuliana itu siapa, ya? Aduh aku jadi dibuat penasaran gini sama kakak ipar. Kakak Ipar terbaik se-Kalimantan.

Enggak lah beda anjis. Ini mah cerita boongan :(

Lebih sedih si Darma, Lan. Cintanya kau sia-siakan hihi

Tai ah apaan pake minta maaf segala..

Anjir si eta bahasana euy, kumpulan pecundang patah hati.

Itu kode apa maksudnya, DIAN KEHED?!!!

Tengkyu udah baca, Di. Sayang di cerpen ini gak ada adegan ngerokoknya euy. Beda sama cerpen-cerpen kamu yang maskulin dan keren abis.

Waduh, lagi galau cees? Ckckck.

Bang Niki, cek Whatsapp bang. Di situ saya ngajak berantem. Tolong segera balas untuk menentukan arena pertarungan.

Ini pasti pengalaman pribadi tapi dijadikan fiksi kan cees? Udah ngaku aja gapapa kok.

Novel flip-flpo karya dori irbana paling taek :))

Mantep cees cerpennya yuhuuuu

si hannibal lecter itu bukannya ganteng ya son? eh lupa tampangnya hahaha mestinya diaplod juga dong poto dia

Dori Irbana. Ukhuk!

Ini cerpen bagus. Bikin sepuluh lagi yang begini, TERBITKAN!

Agak susah menentukan genre cerpen ini ya, Kang. Tapi saya yakin ini ditulis based on Agiaditinggalnikah story.

kenapa pula nama tokohnya nanda*seperti adeknya icha #ehhh
hahhaha sempet2nya malah mikir ga ada gelar ama alamat kontrakan di undangannya, itu kawinan mantan woy kawinan mantan...
kok aku ngebayangin tuan hanibalnya malah kek limbad gitu yah, apa yoda idol bukan yoda starwars huhuhu
bagus cees pilihan diksinya, kuakui keren emang, terstruktur gitu
ah jadi pengen nulis cerita fiksi juga aku mah anaknya suka ikut-ikutan
oiya blog filmku masih update ko gi hahaha

ahihihii....abisnya panjang banget sih

ngehina itu emang salah satu hobi gw sih. jadina kudu gimana urang?

emang aroma tubuhnya kaya gimana? :>)

((Dori Irbana)) :)) Udah nggak usah sedih. Gakpapa.

Kalo itu lebih serem dari "Tumben cemberut aja" nggak son? \:p/

berantemnya jangan tebang tangan kosong yah....nggak seru kalau tebang benjol-benjol doangan mah

Ini teh 100% fiktif atau ada pengalaman nyata nya akangg

Aku sih percaya kalau ini fiktif.

tos duls dong cees!

asli, cerpennya bagus. aku bisa ngerasain perasaan si cowok yang ditinggal nikah sama duda beranak pinak.

tenang cees, kebetulan aku ikut bantu-bantu diacara nikahan mereka, nanti biar kubantu kasih racun di minumamn mempelai prianya.

Ini fiksi! Tolong Anda mengerti ya!

Sip tengkyu cees hahai.

Waduh, gak tau deh kalo menurut cewek. Kalo menurutku selaku cowok sih, nyeremin.

Ukhuk. Batuk dari sang filsuf.

Iya nih lagi iseng pengen bikin cerpen. Udah lama soalnya.

Ini genrenya punk, Kang Rido. Genre baru di dunia literasi. Ha ha.

Ha ha kenapa jadi ke limbad. Duh jadi keinget burung hantunya.

Wah ditunggu ya cerpen, Teh. Ayo bikin! :)

Wangi deh kayaknya. Yang jelas sih enggak bau spirtus.

Lumayan lah cees bisa nyaingin janggalnya kalimat itu.

Fiktif dong, ceesku Aul. Ya sama lah seperti rasa sayang si doi ke kamu. Fiktif.

Nah ini baru keren,percaya kalo kisah di atas fiktif. Ha ha.

Bantu-bantu jadi apa di sana, Put? Wali nikah ya? Hmmm tua..

kak kak
Kalo om om nya kayak keanu reeves mah kamu wajar ditinggal

Bukan fiktif ini. Nyata mah kayanya.

fiktif ato fakta,,
intinya jomblo akut,,,hahahaha

Nak kapan kamu gak gila? Tolong minum obat nak, hahaha

Perolehan poinnya beda jauh banget ya, Mas..hehe
Karena penasaran sama Hannibal Lecter, aku tanya si mbah google, jadi itu orangnya.he

Serem ceritanya, tapi untungnya aku baca dipagi hari.. Setidaknya serasa biasa saja..hehe

Kapan ya terakhir jalan2 disini, lupa..

Wah dia masih ngeles aja nih yog. Hmmmmm.

turut merasakan perihnya.
hehe..
aku juga pernah ditinggal nikah, atit sih, kesannya jeleeek bgt, tapi yakin aja, org baik akan ketemu yg lebih baik, uhuuyy.. that’s true

Ha ha iya sih kayaknya. Ada kemungkinan bener..

Diam atau enyah saja kau sana, Abang Wakdoyok!

Wah betul juga nih hipotesisnya. Makasih atas petunjukmu cees 8-)

Beliin dong bang obatnya. Apotek di tempatku pada tutup nih soalnya..

Rajin sekali kamu cees, sampe search di google segala. Awas jangan di-print ya fotonya, apalagi disimpen di dompet.

Tuh kan betul-betul rajin cees Andi ini, suka blogwalking di pagi hari :)

Hehe bener banget mbak. Katanya, semakin besar arti kehilangan, maka semakin keren pula penggantinya.

Tengkyu sudah mau-maunya baca, Mbak Lia.

Menarik napas dalam-dalam yang konon dapat menghilangkan rasa gugup adalah kebohongan terbesar sepanjang sejarah manusia.

Gue rasa ini ada benernya juga loh. Gue sih sering gitu. Ya gak 100% sih. Hahaha

pas baca bagian akhirnya, kok kzl ya...

Bacanya udah serius-serius, dari atas sampai ke bawah, eh ternyata sinetron hahaha bangke! X)
Tapi perihal kasus ditinggal nikah, kayaknya saya punya tulisan yang satu genre "Ditinggal nikah" nih linknya --> www.sastraananta.com/2017/03/surat-dari-warsawa.html?spref=tw

Ini kirain bukan fiksi, soalnya pas awal2 baca kayak kisah nyata di hidup.jaman sekarang gitu. Apalagi banyak umpatan.wkwk Good job..

Ini dongeng apa cerpen sih ...
ah kau..membuatku bergairah... wkkwkwkwkwk

sugesti menarik napas = sugesti tai
menarik napas = tai
hmmm
mau tidur buat kaligrafi arab. kok gue kzl yha

duh~ memilih om-om anak tiga :( menang banyak om-omnya
semoga beneran 100% fiktif dan tidak dibumbui curhatan hati ya, cees wqwq

ini fiktif pasti, yakan yakan yaakann, iyaaainnn :(

Yakin bukan fiksi bg Son ;) ??? hehe

Blogku adalah kebebasanmu. Dipersilakan kepada para agen judi untuk berkomentar sebebas-bebasnya.
EmoticonEmoticon