“Sekarang kita ke mana lagi? Atau mau langsung pulang aja?”

Impian saya suatu hari nanti bisa menyaksikan umat manusia berlibur secara gratis ke planet Mars—atau minimal mah ke Bulan—seketika sirna begitu mendengar ucapan tersebut.

---(!¡!)---

Cuus! Apa kabar, cees? Mau ngasih tahu aja, saya sehat sentosa. Bukan cuma itu, sekarang wajah saya lumayan ganteng dan layak dikonsumsi wanita; saya antusias menjalani hidup; kurang antusias berinteraksi dengan spesies yang mudah tersinggung; kadang-kadang ngisi bensin pake pertamax; menghindari antrean pom yang ada motor Tiger dan Ninja Kawasaki (soalnya mereka suka ngisi full-tank). Dan yang paling mencolok dari semua itu, sekarang saya lagi rajin-rajinnya menyambangi toko buku.

Oi! Jangan nganggep saya kutu buku, oke?


Sabtu, 17 Desember 2016

Saat lagi asyik-asyiknya main game Football Manager di rumah, tiba-tiba handphone Android bekas—yang dua tahun lalu saya beli COD-an di Jl. Buah Batu—bunyi, menandakan adanya satu pesan masuk. Kira-kira siapa pengirimnya, ya? Bursa taruhan dimulai, rumah judi dibuka:

Eks pacar (1:1000)
Suaminya (1:850)
Ibu mertuanya (1:500)
Atasan saya (1:340)
Temen laki-laki (1:2, peluang favorit)

“Ka mana wae euy? Meuni sombong ayeuna mah. Jangan lupa, ntar malem ada final AFF. Kita nobar di tempat biasa. Ditunggu ah kedatangannya, cees!”

Si anjing, prediksi rumah judi selalu tepat.

Setelah membalas si pengirim dengan kalimat singkat “Siap hadir!”, saya tengok keterangan waktu yang tertera di hape. Rupanya masih jam 10 pagi. Berhubung gak mau dituduh sebagai pencinta kamar oleh tetangga sekitar, saya putuskan untuk jalan-jalan ke luar. Cari udara segar. Pertanyaannya, ke mana? Pikiran saya langsung terfokus pada satu jawaban, yaitu mal. Kebetulan sudah setahun gak ke sana. 

Sekalian nyari pasangan sehidup-semati.

Yang bisa setia dan menerima apa adanya.

Destinasi pertama, Trans Studio Mall (TSM).

* * *

Kata orang bijak, manusia itu berkembang. Baiklah, kali ini saya setuju. Karena begitu menginjakkan kaki di pintu TSM, saya langsung dibuat deg-degan dan terpana. Subhanallah, pengunjungnya cantik-cantik. Teteh-teteh SPG bertaburan, remaja ABG maupun dewasa silih berdatangan, anak-anak sekolah dan para mahasiswi rating 9/10 seakan berlomba menentukan siapa di antara mereka yang paling berhak menyandang status Aing Geulis Euy.

Selama hampir satu tahun gak main ke gedung ini, bisa-bisanya mereka berkembang tanpa sepengetahuan saya. Inikah yang dinamakan mal? Ah, bukan. Ini adalah basecamp para wanita yang layak dijadikan calon istri..... sehidup-semati.

Batin saya berkata, “Oi, Son! Kamu jangan menilai lawan jenis hanya dari segi fisik!” Kemudian Logika dengan cepat menjawab, “Iya maaf, Tin. Lupa. Harusnya kan, aku menilai seseorang dari mobil dan uangnya. Tampang tidaklah penting, bukan?”

:)

Catatan: Oiya mau nanya nih, terutama buat pengguna Pesbuk dan Tuiter. Itu maksudnya apa sih, cees? Saya suka bingung tiap kali nemu simbol tanpa kata gitu.

Hal pertama yang saya lakukan ialah mengunjungi toko olahraga, berharap nemu kaus bola yang sablonnya bertuliskan ‘Pep Guardiola Botak Gitu Lho’. Selama beberapa saat, baju dan handband saya ubek satu persatu, dan wow! Saya salah masuk toko. Isinya barang orisinal semua. Harganya di atas dua ratus ribu. Mustahil saya beli anjis! Berbekal pemikiran bahwa ‘yang asli pun terkadang dipenuhi oleh tipu muslihat’, akhirnya saya beranjak ke lantai atas. Denger-denger katanya di sana ada bioskop.

Dari sekian banyak poster film yang terpajang di dinding, gak ada satu pun yang menarik hati. Maklum, belakangan ini intensitas saya dalam menonton sinema memang lagi kurang.

Sekarang apa lagi, nih?

Saya turuni tangga eskalator dengan gaya yang cukup elegan dan berkelas: kedua tangan dimasukin ke saku celana, diiringi ekspresi wajah yang seolah berkata ‘Agia udah biasa main ke sini’. Lalu, fokus mata saya tertuju pada sekumpulan orang yang sedang makan dan minum sambil ketawa-tawa. Mereka tengah berada dalam penampungan bernama Food court.

Saya mah cuma mau ngasih tahu aja, bahwasanya Food court teh sebutan lain untuk warung. Indonesia kaya akan kosa kata, coy.

Dengan langkah gontai, saya jajal penampungan tersebut...

Anjing, 38 ribu.

* * *

Jujur, sebelumnya saya gak pernah jajan ke Starbucks.

Saya sering lihat di media sosial, orang-orang dengan girangnya ngasih info kalau mereka lagi ngopi di tempat ini. “Nongkrong dulu di Starbucks. Santai ditemani kopi kesukaan. #BahagiakuSederhana” kata mereka.

Son Agia, dengan segala upaya dan kerendahan hati, bersikeras mencoba memahami definisi 'santai' yang mereka maksud. Dan maaf, sekarang terpaksa saya harus menanggapinya dengan kata mutiara ini: “Hooh santai tai!”

Mustahil saya bisa santai setelah mengorbankan sejumlah uang yang sebenarnya bisa dipakai untuk berdamai dengan Polantas. Belum cukup sampai di situ, kepedihan ini semakin menjadi-jadi tatkala kopi yang saya pesan ternyata punya citarasa sama dengan kopi sachet seribuan.

Ya Allah 38 ribu. Harganya 38 kali lipat lebih mahal dari Kapal Api. Fakta ini otomatis membuat saya sangat ingin men-smack si pemilik Starbucks sebanyak 38 kali.

Pake smack ala John Cena.

Bukan di ring, tapi. Di eskalator lantai 2.

Sembari waswas, saya tengok sekeliling. Rupanya saya minoritas. Cuma saya satu-satunya pembeli yang ngerasa dirugikan dengan harga “kopi” (sengaja pake tanda kutip, kesel aing mah). Sementara itu, para pembeli lainnya kelihatan gak ada beban. Mereka antusias, senyum-senyum, bahkan ada yang curhat sambil tertawa.

Tuhan, apakah Agia sedang terjebak di dunia dystopia, di mana hal yang janggal dan tabu dianggap lumrah oleh tatanan masyarakat?

Ah, mungkin mereka kebanyakan nonton The Hunger Games.

Kalau memang ini plot sebuah film, mungkin saya bakalan protes. Saya datengin salah satu pegawai, terus ngomong, “Kang, tolong panggil Manager-nya. Saya mau bicara.”

Sang Manager bertampang angkuh pun menghampiri. “Ya, ada yang bisa saya bantu?”

“Ini kopi jangan mahal-mahal atuh, Pak. Jangan disamain sama senyum Bapak.”

“Sayang sekali, perihal harga sudah menjadi kebijakan di sini. Dari dulu tarifnya memang segitu. Kalau Anda keberatan, itu bukan tanggung jawab kami. Dan asal Anda tahu, pelanggan kami yang lain tidak ada yang protes seperti Anda.”

“Waduh,” jawab saya. “Saya kira perkataan itu cuma dipake sama ibu-ibu mucikari, Pak. Bapak terinspirasi, ya? Oke deh, Assalamualaikum.”

Sip.

Untungnya, saya bukan bajingan euy. Lagi pula ini bukan film. Saya gak bisa akting—walaupun banyak yang bilang muka Agia mirip George Clooney.

Anjis, kenapa saya jadi kayak aktivis anti-kapitalisme gini ya, cees? Baiklah, lupakan soal kopi. Saya gak mau dikira punya sifat pelit ☺

Belum sempat saya mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari insiden 38 Ribu, bencana lain muncul. Tepat di meja sebelah, duduk sepasang kekasih yang lagi sibuk bercanda dengan penuh kemesraan. Entah sejak kapan dua orang ini duduk di samping saya, yang jelas, mereka tampak sangat menikmati produk minuman yang telah sukses menghilangkan jati diri saya itu.

Dunia dystopia masih belum usai.

Saya amati secara saksama wujud mereka. Meskipun berbeda jenis kelamin, anehnya, rambut mereka kelihatan persis. Sama-sama gondrong. Sulit menentukan mana di antara dua orang ini yang memiliki fisik warisan Siti Hawa. Eh, bentar. Sebetulnya saya belum tahu apakah mereka memang berjenis kelamin sama atau beda. Bisa jadi kan mereka ini perempuan. Sepasang sahabat.

“Sekarang kita ke mana lagi? Atau mau langsung pulang aja?” adalah pertanyaan yang dilontarkan salah satu dari mereka. Saya berani jamin itu suara laki-laki.

Oke, resmi.

Mereka adalah sepasang kekasih.

Berarti, saat ini saya sedang mengamati seorang wanita bersama pacarnya yang memiliki rambut mirip Tuan Putri, permaisuri kerajaan. Dapet satu pelajaran: Anda jangan pernah menilai laki-laki hanya dari gaya rambut saja.

Buktinya kawan saya, Yoga Akbar Sholihin, terlihat seksi dan menggoda dengan rambutnya yang terurai.
Sumber gambar: Hikayat Es Krim

Kalau saja di dunia ini manusia tidak diajarkan etika dan sopan santun oleh orangtuanya, mungkin saya sudah menawarkan satu kesepakatan pada si cewek. "Teh, kita patungan, yuk? Saya delapan ribu, Teteh tujuh ribu. Nantinya uang ini kita pake buat biaya cukur rambut pacarnya Teteh."

Saya seruput pelan-pelan kopi bernama latte-latte ini—dari nama aja susah dihafal. Pokoknya saya gak mau rugi, minuman ini harus habis dalam 38 tegukan (seribu per teguk). Obrolan dua sejoli tadi berlanjut. Kali ini si wanita yang bersuara. "Langsung pulang aja, yuk? Aku kan ada janji sama temen, Beb."

Beb.

Beb.

Terlihat jelas, hubungan mereka sedang ada dalam tahap 'ingin berbagi kebahagiaan dengan seluruh alam semesta'. Saya gak ngerti apa yang ada di pikiran semua pasangan-pasangan ini. Kenapa mereka gak bisa bahagia secara privat saja? Kenapa mereka seakan butuh kita untuk mengonfirmasi kebahagiaan mereka? Apa mereka pikir punya pacar adalah salah satu dari tujuh Keajaiban Dunia?

Sekilas info, habitat yang mereka tempati sangatlah banyak. Di kosan, di jejaring sosial, taman, kampus, Gedung Sate, Bukit Moko, semak-semak gelap dan area lainnya. Dan sekarang, tepat di hadapan saya, mereka juga ingin menjadikan mall sebagai wilayah koloni? Pakyu!

Memangnya siapa mereka?

Pasukan Hindia-Belanda? Tentara Jepang?

Musuh bebuyutan Si Pitung?

Tidak bisakah mereka berperan sebagai pengunjung mal biasa? Atau jangan-jangan mereka kurang bahagia ketika bercengkerama di kosan dan semak-semak gelap? Seiring makin menjamurnya populasi para PRP (Penjajah Ruang Publik) ini di zaman modern, gak ada satu orang pun yang berniat menjadi The Next Pangeran Diponegoro atau Sultan Hasanuddin.

Enggak, saya bukannya sinis atau iri menyaksikan dua individu bersatu. Asal tahu aja, selama 24 tahun hidup, saya cuma pacaran tiga kali. Dan dari ketiga eks itu, saya menjalin hubungan total dua tahun. Artinya, sudah 22 tahun saya beraktivitas tanpa seorang kekasih. Saya udah terbiasa hidup sendiri. Ngapain juga harus iri? Kalaup––

Astaga, perasaan ini....

Serasa deja vu.

Kok jadi....

Duh.....

* * *

Dari Food court, saya beralih ke toko buku Gramedia. Tujuannya satu: melakukan sebuah aksi yang dinamakan IJ (Improvisasi Jahanam). Saya bertekad pengen nyari kenalan cewek, atau setidaknya ngajak basa-basi. Kenapa mesti toko buku? Pertanyaan bagus! Kawan saya pernah bilang, katanya wanita paling cantik adalah wanita yang hobi membaca.

Namun sial, Dewi Fortuna berkehendak lain. Gramedia lagi sepi. Improvisasi Jahanam gagal tereksekusi. Meski demikian, saya sukses membawa pulang novel Flip-Flop karangan seorang blogger penyuka lagu Karma ~ Kangen Band: Akang Rido Arbain.

Akhirnya, saya tinggalkan gedung TSM dengan perasaan gundah dan buru-buru mendatangi para makhluk yang tadi pagi ngajak nobar final AFF.

Timnas Indonesia kalah.

Wajar. Bagaimana mungkin negara ini bisa juara jika segelas kopi saja dihargai 38 ribu? Hidup Kapal Api!

---!¡!---


18 Desember 2016

Sehari kemudian, saya berkunjung kembali ke toko buku sepulangnya dari kerja. Pantang menyerah, sebelum aksi IJ ini bisa terlaksana. Target lokasi: Gramedia PVJ.

Hiruk-pikuk kendaraan sedang tidak bersahabat. Di perjalanan ke lokasi, saya kejebak macet. Penyebabnya adalah ormas agama yang berbondong-bondong melakukan aksi pawai. Dengan pakaian dan atribut bernuansa putih dan hijau, mereka menghambat laju kendaraan lainnya.

Oiya, kalau gak salah, saya sering ngelihat mereka di televisi. Adapula rumor mengatakan bahwa banyak pihak yang kurang menyukai tindakan mereka. Saya? Gak peduli. Mau mereka ke mana kek, ngapain kek, bukan urusan saya. Selagi mereka tidak menjual kopi seharga 38 ribu, saya gak masalah.

Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran ini. Kenapa harus serba hijau? Selama lima menit mencari-cari jawaban, sebuah hipotesis pun lahir: pemilihan warna hijau disebabkan karena mereka merupakan fans fanatik grup band Hijau Daun.

Atau Green Day.

Beberapa menit berselang, iring-iringan itu akhirnya pergi meninggalkan Jl. Soekarno-Hatta yang panas oleh terik matahari.

Selamat jalan dan hati-hati ya, fanbase Hijau Daun...

* * *

Takut kepanjangan, saya singkat aja.

Pada hari itu, saya sukses menggondol beberapa buku dan berhasil berkenalan dengan dua orang wanita. Improvisasi Jahanam berbuah manis. Kisah lengkapnya mungkin akan saya ceritakan nanti. Dan tanggal 3 Januari kemarin, saya belanja buku (lagi) ke pasar buku Palasari dan beberapa Rumah Diskon. Sudah saya bilang, akhir-akhir ini lagi keranjingan beli buku. Oi! Jangan nganggep saya kutu buku, oke?

Terkait buku apa saja yang dibawa pulang, berikut daftarnya:

Flip-Flop ~ Rido Arbain & Ratna Rara [novel keren!]
My Legendary Girlfriend ~ Mike Gayle
Turning Thirty ~ Mike Gayle
Wrecking Eleven ~ Haris Firmansyah [kamu wajib baca ini!]
Man and Boy ~ Tony Parsons
The Great Gatsby ~ F. Scott Fitzgerald
Drop Out ~ Arry Risaf Arisandi
Bridget Jones's Diary ~ Helen Fielding
The Catcher in the Rye ~ J.D. Salinger

Sayangnya, walaupun sudah nyari ke mana-mana, saya belum nemu buku karangan cees-cees saya yang lain, Yoga Cahya Putra dan Ichsan Ramadhani.

---
NB: Saya mau ngucapin makasih buat para blogger yang selalu meramaikan blogosphere dan membangkitkan asa serta gairah dalam menulis. Postingan ini didedikasikan untuk kalian.

NB2: Pakyu kopi 38 rebu.

72 Kritik Jahat

Bangke lah pas penggambaran dystopia. Kadang saya juga ngerasa rugi begitu tapi temen yang lain fain2 aja, takut merusak suasana kumpul2 akhirnya saya diem aja.

Baca post ini jadi inget udah lama gak main ke toko buku. Btw, itu drop out bagus loh cees!

Bukuku sama bukunya ichsan kayaknya udah gak ada di toko buku, gak ada juga ebooknya karena kita berdua... gak kirim balik surat perjanjian penerbitannya. Nyasar euy gara2 pindah rumah. :))

Jangan mesum woiiiiiiiii kesian mbak2 SPG nyah

Anjirlah, HAHAHAHA! ke toko buku cuma buat kenalan sama cewek, jangan sampe kayak yang lalu lagi lah.

Saya juga belum pernah minum di starbuck, di sini kota saya belum ada kayaknya, atau udah ada tapi saya nggak tau.. dan walaupun ada saya nggak akan beli, hanjir kemahalan!

Ohiya, untuk buku - bukunya mau, tapi dompet gersang. Huh.

Tentang bagaimana mereka-mereka yg pacaran di ruang publik, saya gak mau mengomentarinya terlalu dalam, cees. Karna pada kenyataanya mereka lebih dari sekedar 'beb' ketika di semak-semak; kemungkinan.

pengen juga baca2 buku cees2 sekalian. semoga ada kesempatan untuk membeli.

:)

Wuahaha. Jadi, secara gak langsung saya disuruh cukur rambut nih, Kang? :|

Jangankan kopi seharga 38 ribu, kafe deket rumah harga Frape 24 ribu aja, saya pengin marah. Etapi sya kurang suka kapal api, saya milih Good Day sachet aja. :D

Duh, Drop Out kok masih ada? Buku lama banget kan itu! Mau beli. :(
The Great Gatsby juga keren euy, padahal baru nonton filmnya. Haha.

Mahal y harga kopinya
Mending beli yg sachetan aja kang
Murah meriah
Y palung banter 2000
Oh kenapa g ngajak si rey, kang
Kasian dia sampe skrng blom dapet
Ajak2lah

38 kali tegukan, seribu per teguk. Anjis, mahal pisan! Boikot Setarbak!

Tokbuk itu memang tempat pelarian yang menjanjikan, Kang. Di sana ada kemungkinan 1:100 kita nggak sengaja kepegang tangan cewek ketika akan mengambil buku yang sama. Sebelum masa itu tiba, Agia harus tabah.

Omong-omong, DO itu novel komedi favorit saya sepanjang masa. Novel favorit saya yang lain berjudul FLIP-FLOP. Ukhuk.

Yaampunn pedih banget cees kita yang satu ini, abis ke toko olahraga nihil gabeli apapun, iya barang ori muahal semua
Kopi late latean seharga gitu bikin mencret aja ya
Hahhaha
Ke gramed juga ga ada cewek bening ahhahahaq
Btw judul bukunya gilingan oy berat semua

gebet kak Akbar solihin aja kak! Kaann mempesonanya mirip incesss. Hehehehe

BAJINGAK TENGIK. TELEK KUDAAAA! Bahahaha aku ngakak parah. Apaan basecamp para wanita yang layak dijadikan istri! Berak komodo! Agiaaa, seperti biasa diksi-diksi kamu sukses bikin ngakak. Segala ada dystopia lagi. Anjir lah.

Pilihan kamu buat nggak nonton itu tepat, Agia. Ya, pada nggak menggairahkan gitu film-film yang lagi sayang. Eh, tayang maksudnya. Soooo.... pilihan kamu untuk mencicipi anjing-38-ribu itu tepat jiwa! Kalau enggak, kamu nggak bakal ketemu pasangan bajingak pamer kemesraan itu! Ngahahahaha.

Btw, kamu borong banyak buku ya. Gils. Sungguh blogger fantastis dari Bandung. Kamu memang benar-benar kutu..... kupret.

Satu lagi, aku nggak mau jawab pertanyaan kamu soal simbol tanpa kata itu, Agia. Kenapa? Pikirkan sendiri. Ini Indonesia, adik ipar!

Hohohoho. Mantep cees. Jokes rumah judi itu original. Belum nemu bloger lain yang pakai jokes begitu.

Kalau saya emang gak suka ngopi. Jadi no comment. Saya lebih suka nyusu. Nyusulin mantan yang nikah duluan.

Nah, Drop Out emang harus dibaca. Novel yang menginspirasi saya dalam nulis Wrecking Eleven.

Penasaran euy sama cerita kenalannya, nuhun cees. Soalnya judulnya tentang itu kirain mau dibahas langsung. Mungkin masih inget sakitnya pas ditinggal Yuli. Nuhun sekali lagi ya. *kibarin bendera ijo* *ternyata bonek mania*

Baru tau saya kalo rambutnya bang Yoga gondrong, hmm...

Kopinya kalau nggak ikhlas diminum coba buat dimuntahin, siapa tau duit 38 ribu bisa keluar tiba-tiba bercampur dengan air muntahan yang warnanya... sebentar biasanya warna apa ya?

Mantap nih ada rekomendasi novelnya, yakin bagus gak nih? Kalo nggak mending bukunya dituker alias itu bukunya berat-berat judulnya pake english semua.

woahahahaha, akhirnya aa agia muncul kembali dengan postingan ngenes bagi disinya sendiri.

Aku juga sama sekali belum pernah sih nyobain kopi starbak. bukan karena mahal, tapi karena takut sama konspirasi iluminatinya.

kalau bukunya mas yoga sama Ichsan aku belina di online shop sih. di bukukita.com sok geura cobaan.

Wah, waktu itu saya mau beli bukunya Bang Haris. Eh, setelah menimbang-nimbang, mending uangnya ditabung, beli buku yang lain. Padahal yang 3 Koplak itu harganya di bawah gocap. Next time, saya beli deh. Saya fans amatiran. :((

Saya mah nggak cocok sama kopi. Ngabisin kopi item segelas aja puyeng. Indocafe doang yang cocok. White coffe rasanya nggak jelas. Mending capucino cincau.

Btw, sedih euy sama kiriman Great Gatsby saya. Nggak nyampe karena kurirnya salah ngasih orang. :(

woh agia anak bandung euy, kapan kapan kalo ada waktu, bisa kali son jadi pemandu dadakan ke tempat penjual buku-buku murah..

AKu kok malah fokus sama perkenalan cewek di toko bukunya? Jangan bilang kalau yg dikenalin itu mbak2 kasir/mbak mbak penjaga toko buku? haha

Saya juga jadi trtarik baca bukunya DO. Soalnya baca komentar diatas katanya bagus2. Bdw, saya juga setuju son, gender itu tidak dilihat dari model rambut. Tpi dari warna kulit dan tingkat bulu2 yg tmbuh diwajah.

Foodcourt di Mall memang gtu Son. Lebih mengutamakan style dan bentuk ruangan nya. Intinya klo mau ngopi disana, nggk lengkap klo nggk dipamerin. Tmpat itu bagaikan tmpat untuk pamer2 lokasi, kebanyakan sih pamer pacar.

Saya juga sama dengan Adi, pnasaran gmana tknik improv itu berhasil. Pernah kepikiran kyak gtu sih. Tpi nggk pernah kesampaian. Pling saya yg didatengin sama ceweknya. Itupun cweknya pegawai toko buku. T_T

ANJIIIS ANJIS AKU NGAKAK MULU IH BACA INI. YAWLAAA KOK ADA YA ORANG KAYAK AGIA GINI HAHAHAA

Harga kopi 38 rb, 38 kali lipat dari harga kopi saset seribuan. HAHAHAHAHAHAA BANGKE BENER BANGET INI MAH.

Hmm berbicara tentang simbol :), maaf aku gabisa banyak menjelaskan :)

Nah bener tuch jadi menilai lawan jenis bukan hanya kecantikan nya tapi juga mobil rumah dan kekayaan nya #LaluMikir #KamuSiapa

gabakal nganggep kutu buku, kalo cwek pede-an gimane? :D

cees ini apa ya artinya?
counter strike?

Tergantung gimana menafsirkannya, cees. Contoh: Rezky Pratama CS (Cantik Sekali). Nah gitu juga bisa hihi

Boleh lah kalo buat Hamni mah. Ya asalkan kita bisa ehemm.. kenalan lebih jauh.

Haha Bang Cum ada-ada aja. Yang penting mah harus tetep manja. Betul gak, Kaesang?

Ada dong, apalagi buat Wulan. Selalu ada. *Cari perkara sama si Darma*

Ayo dong Lan, kasih tau makna simbol itu! Aku gak bisa tidur kepikiran terus :(

Emang bagus kok Rey. Kalau mau beli, coba carinya di tempat obral buku atau via online, soalnya udah gak ada di Gramedia.

Ha ha tai ah bulu-bulu wajah. Anjir sering kamu sering ngalamin juga pasti ya? Ckckck jomblo kita sudah selevel berarti cees.

Tenang nanti kisah lengkapnya mau ditulis.

Yaudah ke sini aja mas fandhy. Ntar kuajak ke toko buku paling lengkap dan murah deh..

Ya bukan dong. Ini mah asli, mereka secara sukarela pengen ngobrol sama aku ha ha.

Atau minta aja langsung ke Harisnya. Pasti dia masih punya stok pribadi. Ha ha.

Jujur aja, aku suka ngiri sama orang yang enggak ngerokok dan ngopi. Jangan sampe kecanduan deh kamu mah cees :)

Hoho iya nih, akhir-akhir ini lagi macet nulis, Put.

Wadaw apa tuh illuminati?

Oh via online masih ada ya? Oke makasih infonya.

Gondrong-gondrong juga elegan kang Yoga mah, kayak professor Snape. Tau? Ha ha.

Coba aja baca sinopsisnya dulu. Kalau dirasa bagus, baru deh pertimbangkan. Tapi sejauh ini sih menurutku, bagus semua.

Tadinya sih pengen diceritain, tapi sadar udah kepanjangan.

Ha ha tai ah Adi. Tolong kamu jangan sebut nama itu ya!!

Oke sama sama cees :-d

Ha ha ha Bajingak kakak iparku! Jangan lupa, titip salam ke Nanda, Icha-neechan.

Iya nih, lagian aku juga lagi kurang bernafsu nonton, Cha. Eh minta saran film yang seru dong!

Ah, padahal aku pengen tau arti simbol itu :(

Waduh ha ha. Sebagai macomblang, kamu cukup sesat juga, Maya :)

Jangan diboikot, kali aja suatu hari nanti ada yang nraktir. Kalo gitu sih mau. Ha ha ha.

Ya ampun itu mah plot sinetron atuh kaaaaang!!!

Iya DO emang mantep!! Untung aku masih sempet nemu di tempat obral buku. Beli yang cetakan tahun 2013.

@Yoga: Flip-Flpo itu apa ya, duhai Yoga Akbar Sholihin?!

Hehe iya nih miris banget. Tapi walaupun sedih, aku bisa ketemuan sama temen-temen dan beli beberapa buku.

Eh isinya mah gak berat kok teh, ringan. Itu sebagian besar novel terjemahan.

Iya dong, Niki pacarnya cewek cikarang.

Kalau ngajak si Rey malah tambah kacau. Soalnya kita senasib, sama-sama pecundang asmara.

Jangan dicukur Yog, sayang kan. Rambut itu mahkota. Berarti kamu bisa jadi Ratu.

Nah, good day juga emang mantep, aku juga lumayan suka.

Iya, ini juga dapet beli dari tempat obral buku. Harganya cuma 14 ribu. The Great Gatsby masih ada kok di Togamas, coba.

Anjir berarti pernah ya ngelakuin di semak-semak?! Lapor ah ke polisi..

Beli atuh cees. Jangan lupa kirim satu kesini.

Emang di mana rumahmu, Boy? Iya kalau ada juga mending gak usah. Mending beli kopi seribuan aja.

Kalau dompetnya udah gak gersang, banyakin beli buku, atau beramal. Jangan kayak saya, dipake buat ngerokok..

Ampun kang, ampun. Enggak saya apa-apain kok. Kami melakukannya atas dasar suka sama suka.

Ha ha pasti gak enak ya sama temen lain.

Iya, tapi sekarang mah harga buku jadi gak masuk akal cees. Minimal 40 rebu. Itu pun kebanyakan yang tipis. Yoi, DO emang top!

Oh gitu. Ntar mau nyoba cari online ah, katanya sih ada.

Waduh. Jujur aja Ris, saya gak ngerti soal teori jokes-jokesan yang sering orang bahas itu. Jokes teknik gini-lah, gitu-lah. Ribet. Lelucon yang saya pake di tulisan berdasarkan omongan sehari-hari. Ha ha.

Iya, kemarin baru beres baca DO. Anjir keren pisan. Jadi pengen beli buku Arry Risaf yang lainnya.

Besok kalo mau ke setarbak, lo bawa kopi bubuk sama gula sendiri, air panasnya beli di situ. Brilian banget kan ide gue?

sebuah kesalahan mencari buku yoga sama buku ayamsakit di gramed. Kalo mau nyari 2 buku itu cobain ke toko loak kayaknya :(
iya, sedih jadi kami, sudah jangan di bahas.

Kenalan ama cewek di toko buku emang selalu menarik.
Ceweknya juga cantik-cantik.
Sayangnya saya hanya beberapa kali berhasil kenalan, selebihnya keasyikan baca komik gratis.

JAHANAM MEMANG WKWKWKKW

Teganya engkau menodai toko buku yang suci dengan niat terlarang wkwkwk

NB:
Lebih enak energen. 1500 ngilangin haus ngilangin laper

NB2:
Mending. Bisa bayaaar.
Aku dong pas ke Starbucks pesen vanilla-latte-latte an juga tapi akhirnya pura-pura ketinggalan dompet dan minta dibayarin temen dulu soalnya ternyata duit di kantong nggak cukup karena harganya sangat jauh dari ekspektasi HAHAHAHAHHA

aku demen starbucks son, tapi kayaknya nggak pernah update begituan di sosmed sih kecualike sbuxnya ketemuan sama temen jadi harus foto
suka karena kopinya, menurutku beda. ke sbuxnya juga sering sendirian doang atau bawa pulang kalo bareng sm suami. cuma pengen kopinya dan diminumnya di rumah juga #eaaa

Ditunggu Tulisan Lainnya Ya...


Semangat Berkarya, Sukses Selalu

Woiiiiii update woiiiii lumutan nih

sejak baca postingan ini baru tau apa itu artinya dystopia

DO itu keceeeehhhhh bkin ngakak selama sejam. Soalnya sejam kelar bacanya haha

Btw, hidup kapal api!!!

Sangat brillian sekali, abang. Nanti mau dicoba ah sarannya. Mudah-mudahan enggak ribut.

Sebenernya kemarin nyari juga di beberapa toko buku obral sih, tapi belum nemu. Harus beli online mungkin ya.

Oh suka ngajak kenalan cewek di toko buku juga, cees? Ha ha mantap.

Jangan lupa baca komik Shonan Junai Gumi.

Hehe indra pengecapku memang jelek mungkin, Kak. Buatku Citarasanya sama kayak kopi biasa :)

Oke, sukses juga buat kamu, JMM.

Ngomong-ngomong, itu gak takut diteror, nomor hapenya dicantumin gitu?

Ha ha ha lagi ada urusan dulu nih, bang Fei. Jadi belum sempet bikin postingan.

Yoi, artinya adalah kesetiaan cinta yang dalam 8-)

Iya, kemarin aku baru beres baca. Bukunya sangat isgud.

Hidup Kapal Api! Kamu suka juga ya?

Yang suci itu perempuan yang lagi baca buku, bukan buku atau toko bukunya. Ha ha.

Hmm energen, ya. Kosa kata itu sering kudengar di kosan, pas masih kuliah. Itu salah satu produk wajib anak kos. Jadi nostalgia.

Ya ampun rupanya Aul punya pengalaman yang mencengangkan. Sungguh payah. Untung masih ada penyelamat.

astagahhh, gegara 38ribu enak2nya nyebutin nama mantan di tulisan *lirik kata "anjing". lain kali biasa aje tong, jangan nyebuti mantan sendiri.

38 ribu masih terjangkaulah, kalau udah kerja XD

Yaudah, kalo gitu beliin aku dong, wahai lelaki bernama Sabda Awal yang memanggilku dengan sebutan 'tong'. Aku kan gak punya uang :(

Anjeeeng wkwkw aku ngakak baca NB2 malahan wkwk pakyu, kopi 38 ribu :( wkwkwk ironis :(

:)

Mau jawab pertanyaan di catatan diatas : Itu simbol/emot senyum, biasanya digunakan di twitter/facebook/chat saat lawan bicara kehabisan topik atau ingin mengakhiri percakapan. Kurang lebih seperti itu, sih. wkwk

Hahaha, pasangan yang pamer kemesraan di tempat umum itu kadang memang menanggu kenyamanan rangorang yak, palagi kenyamanan seorang jomblo. Ehe xD

Asique, Improvisasi jahanam rupanya berbuah manis ya. Ceritanya ada to be continued-nya lagi nih (?). Huah, banyak juga buku yang dibeli, aku kalo ke toko buku pengen beli banyak buku juga sih, tapi tiap beli lebih dari 2, pas pulang malah dilemma harus baca yang mana dulu. xD

PS.3.

Awesome illustrationn!
KArya sendiri kahhhhh??

WUIHH (*0*)

((layak dikonsumsi)) kok ketawa anjir

salah satu cita-cita saya adalah ke TSM dan berburu mojang, hmm bandung memang... hahah, beruntung banget lo, Son.
tapi dengan harga 38 rb kuurungkan niatku, mending beli kuota buat stalking dede gemas di instagram wq

haha seruput kopi perseribu rupiah ya son.. hidup kopi sachet

Selalu suka baca tulisanmu Son. Cakep. Enak dibaca. Santai, tapi berbobot. Eh..habis baca comment ini jangan terbang ya😮

Blogku adalah kebebasanmu. Dipersilakan kepada para agen judi untuk berkomentar sebebas-bebasnya.
EmoticonEmoticon