Untuk memastikan keadaan dan mencairkan suasana, sebisa mungkin aku harus bersikap santai dengan sesekali mengajaknya bicara. Walaupun sebenarnya aku tahu, usahaku ini tidak akan berdampak apa-apa, bahkan mungkin hanya akan membuatnya lebih canggung.

"Che, aman?" tanyaku sedikit berbisik, sambil berusaha memberikan senyuman terbaik.

"Hah? Oh aman, aman. Santai aja, bro." jawabnya, seraya membalas senyumanku. Setelah kuperhatikan lagi, ternyata itu bukanlah senyuman, melainkan 'topeng ajaib Uche', yang biasa dia pakai di kala sedang bimbang atau berpikir keras.

Tidak seperti biasanya, hari ini kami berpenampilan cukup rapi dan sedikit mewah. Baju kemeja dibalut dengan jas hitam yang kami sewa dari tukang jahit, dipadukan dengan celana bahan sutra ala-ala PNS, membuat kami berdua terlihat bagaikan Aladdin yang menang lotre dan mendadak kaya.

Dari kejauhan, sepasang suami-istri paruh baya terlihat sibuk menyapa para tamu yang datang. Tak lama kemudian, mereka menghampiri kami yang sedang duduk di kursi paling belakang. Pak Yoyoh dan Bu Ermi, tentu saja kami mengenal mereka, terutama Uche. Dua sejoli yang selalu nampak serasi ini adalah orangtua dari Yulia, sang pengantin wanita.

Seketika firasatku mulai tidak enak. Mataku langsung tertuju ke arah Uche. Aku tersenyum heran. Walaupun ekspresinya menunjukkan rasa tidak nyaman, Uche bersikap percaya diri dan nampak bersiap menyambut kedatangan dua orang tua itu.

"Eh, ada nak Osa, nak Uche. Gimana kabar kalian, Nak?" sambut Bu Ermi, penuh keramahan.

"Alhamdulillah baik, Bu." jawab kami.

"Makasih yah, kalian sudah mau datang." Kami mengangguk, dan saat hendak mengulurkan tangan untuk berjabat, tiba-tiba sosok makhluk yang berdiri di samping Bu Ermi merusak situasi dan kondisi.

"Berani juga kalian datang ke sini." Pak Yoyoh, manusia spesies firasat-buruk, ikut nimbrung dan memandang tajam ke arah kami, atau lebih tepatnya, ke arah Uche.

Uche menelan ludah dan menghela napas sejenak. "Sebagai teman dari Yulia, mustahil kami tidak datang atuh." timpalnya dengan lapang dada.

"Pak!" Bu Ermi protes sembari mencolek perut suaminya itu.

"Cuma bercanda kok, Mah. Bener gak, anak-anak?" Pak Yoyoh langsung mengoreksi dan tertawa kecil, namun matanya terus menatap Uche dengan waspada. Ini menandakan, beliau sama sekali tidak bercanda.

"Kami tinggal dulu yah, nak Osa, nak Uche." Pamit Bu Ermi. "Tidak usah sungkan. Kalau perlu apa-apa, bilang saja."

"Baik, Bu. Terima kasih."


"Uh sialan amat itu orang. Dasar Professor Snape!" candaku, sesaat setelah dua orang tadi pergi. Uche tidak menimpali gurauanku. Dia hanya tersenyum kecut dan mengusap wajahnya. Ini aneh, karena biasanya, dia selalu antusias dalam hal menghina Pak Yoyoh. Raja Duyung, Kelelawar Putih, Kuburan Jawa, Babon Langka adalah kata ganti yang biasa dia gunakan untuk menyebut ayah Yulia itu, bahkan ketika ada Yulia sekalipun.

* * *

Yulia, perempuan yang akan menikah hari ini, adalah kekasih Uche. Itupun sebelum mereka menyudahi hubungan sekitar satu tahun lalu. Alasan mereka pisah terbilang sangat klasik: sering bertengkar dan ego yang sulit habis. Dengan adanya pernikahan ini, Uche telah kalah. Tentu saja dia kalah bukan karena didului menikah oleh Yulia, melainkan karena dia menjadi satu-satunya orang yang menyesal di antara mereka berdua.

Biar kujelaskan satu hal mengenai Uche: Dia pria berengsek. Selain kelakuannya yang sering bikin kesal Yulia, dia juga getol menjalin hubungan dengan wanita lain. Uche selalu menegaskan bahwa yang dia lakukan itu hanyalah main-main, bukan termasuk perselingkuhan. Dia juga selalu berkata padaku bahwa dia sangat mencintai Yulia, terlepas dari sikapnya yang sembrono itu.

Aku mempercayai kata-katanya, karena aku sudah lama mengenal Uche. Kami telah berteman sejak kuliah, dan sudah tiga tahun ini kami sama-sama merintis usaha desain dan percetakan. Aku dan Uche mengontrak rumah bersama, dan di rumah kontrakan kami ini, Yulia seringkali berkunjung, atau lebih tepatnya, mengamuk. Puncak amarah Yulia di kontrakan kami terjadi pada hari Minggu yang cerah, saat aku sedang santai menonton TV di ruang tengah.

"Iblis........ Urakan.......... Aing nyesel kenal jeung maneh....... Aing teh ges sabar menghadapi maneh......"

Terdengar teriakan sumpah-serapah Yulia dari arah dapur. Setiap kali rutinitas ini mereka lakukan, aku selalu mengevakuasi diri ke kamar, takut terkena amukan Yulia. Tapi naas, ketika aku berjalan menuju kamar, Yulia keburu tiba di ruangan tengah dan langsung menghentikanku.

"Osa, duduk kamu di sini!" perintahnya.

Fuck.

Dengan gestur malas, Uche muncul dari arah dapur. "Plis, lah. Jangan dramatis kaya gini." kata Uche.

Kemarahan Yulia semakin menjadi-jadi. "Siapa yang dramatis, hah? Aku udah muak ngeliat kelakuan kamu, Uche! Kamu gak pernah dewasa, kamu egois, kamu gak pernah peduli dengan hubungan kita. Mau sampai kapan sih kamu kayak gini?"

"Sampai besok aja deh. Gimana?" sahut Uche dengan enteng. Si tolol masih mengira kemarahan Yulia ini hanyalah kemarahan biasa. Dikarenakan perasaanku mulai tidak karuan, serta jantungku yang sudah berdebar kencang, aku mencoba kabur lagi.

"Kamu duduk, jangan ke mana-mana." Sial, kepergok untuk kedua kalinya. Yuli memelototi kami berdua dengan tajam. Dan seketika itu juga, Uche langsung menyadari bahwa kemurkaan pacarnya ini sudah ada di level 37 juta. Sekarang, Yulia mendadak berevolusi menjadi ayahnya.

Uche gemetar. Aku berkeringat.

"Kita udahan. Aku udah nyerah ngeladenin sifat kamu."

"Oh ayolah... jangan gitu dong, Sayang." jawab temanku sambil menggelengkan kepalanya.

"Kamu jangan pernah lagi panggil aku 'Sayang'. Geus kesel da aing mah ka maneh!" Uche mencoba menghampirinya, namun kedua tangan Yulia mengisyaratkan untuk menjauh.

Belum sempat Uche menjawab, Yulia meneruskan penetrasinya. "Kamu harus tahu diri, ngaca sedikit mah. Aku udah banyak berkorban buat kamu. Aku udah cukup sabar ngadepin sikap kamu, tapi kamu gak pernah sekali pun peduli! Kamu di mana setiap kali aku butuhin? Hah? Jawab! Dewasa sedikit mah, jangan selalu mentingin diri sendiri!"

Sontak perkataan Yulia itu membuat suasana sempat hening. Uche dan aku hanya bisa terdiam. Kami bagaikan dua anak punk-rock yang sedang dibully oleh fans K-Pop.

"Sumpah aku nyesel udah kenal kamu. Kamu itu gak ngerti apa-apa, Uche." lanjutnya. "Yang kamu tahu cuma bercanda dan nonton Youtube sampah. Aku ini udah gak butuh perhatian, aku cuma butuh sedikit pengertian dari kamu. Gak lebih! Tapi mana usaha kamu? Kamu hanya bisa ngabisin waktu dengan orang sialan ini!" Sambil berkata demikian, Yulia menunjuk ke arahku. Kini tangannya hanya berjarak tiga sentimeter dari hidungku.

Aku terkejut mendengar ucapan Yulia. Karena walaupun aku selalu curiga sang Ratu tidak menyukaiku, belum pernah sebelumnya dia menyeret namaku ketika sedang bertengkar. Alhasil, aku semakin berkeringat, jantungku serasa mau copot.

"Hei, jangan bawa-bawa sahabatku yah! Apa belum cukup kamu ngebunuh karakterku? Sekarang kamu juga mau ngehina Osa?"

Awalnya aku sempat terharu mendengar pembelaan Uche. Anjing, aku sadar, ternyata dia melakukan itu bukan demi membelaku, tapi semata-mata untuk bahan argumen. Sialan.

"Osa gak ada bedanya dengan kamu, Uche! Aku muak ngeliat mukanya tiap hari. Kamu sadar gak sih? Dia ini temen yang bawa pengaruh jelek buat kamu, buat hubungan kita! Dia juga sering ngabisin makanan dan make barang-barang kita seenaknya."

Mendengar uneg-uneg Yulia yang terakhir itu, aku refleks meraba-raba saku celanaku dengan panik, berniat untuk mengganti kerugian materi yang dia alami. Tapi yang aku punya di saku hanyalah uang empat ribu rupiah. Rencana gagal.

Yulia menjatuhkan diri ke kursi dan menutupi wajah dengan kedua tangannya, seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dihadapinya ini. Kami tersadar bahwa Yulia sedang meneteskan cairan di sekitar pipinya. Saat itu juga, alur waktu serasa berjeda. Kami bertiga tidak mengucapkan sepatah kata pun selama beberapa menit.

"Maafin aku, Yul. Aku gak bermaksud......" Uche merasa berdosa dan meminta maaf, namun Yulia menolak empatinya itu.

"Udah, cukup! Kita putus. Gak usah kita ketemu lagi." Akhirnya Yulia mengakhiri perang ini dan bergegas menuju pintu.


Semenjak mereka berpisah, kawanku Uche hanya bisa meratap dan mengeluh. Dia tahu bahwa Yulia adalah wanita terbaik yang dia miliki. Tidak ada wanita lain yang lebih sempurna baginya di dunia ini selain Yulia. Dia menyesal karena tidak bisa menjaga harta karun paling berharga di planet ini, dia menyesal karena telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan padanya, dan dia juga sangat menyesal karena telah menjadi pelaku kejahatan asmara yang dia sendiri pun baru menyadarinya.

Sudah berkali-kali dia mengajak mantan pacarnya itu untuk kembali. Namun semakin sering dia mencoba, semakin sering pula dia gagal. Yulia selalu berada selangkah di depan. Jika Uche berjalan, Yulia berlari. Jika Uche secepat kuda, Yulia bisa secepat cheetah. Jika Uche mempunyai kecepatan angin, Yulia bisa memiliki kecepatan cahaya. Uche tidak pernah bisa mengejarnya. 

Tidak. Tidak pernah bisa.

Sejak dulu, aku memang tidak mengerti soal keadilan maupun ketidakadilan. Seandainya ungkapan "Dunia ini tidak adil" terlalu klise dan membosankan, aku berani menegaskan satu hal: Dunia ini adil, yang tidak adil adalah dunia-percintaan, dunia-perasaan.

Karl Marx mengidam-idamkan masyarakat yang seimbang dan sejahtera, Adolf Hitler bercita-cita menguasai seluruh dunia dari segi politik dan budaya, Ir. Soekarno menginginkan negara Indonesia melepaskan diri dari penjajahan secara utuh, Mark Zuckerberg telah berhasil mendekatkan orang jauh di dunia maya, Lia Eden sudah sukses menipu ribuan orang dalam ajarannya.

Uche, dia tidak neko-neko. Hal sederhana yang dia inginkan hanyalah satu, yaitu bisa bersama satu wanita yang sangat dia cintai. Tapi mengapa hal sekecil ini pun urung terjadi?

* * *

Prosesi akad nikah hendak dimulai. Para tamu undangan semakin membludak memenuhi tempat ini. Setelah sebelumnya menanyakan hal bodoh seperti "Che, aman?", sekarang aku tidak berani lagi mencoba menghiburnya, bahkan untuk sekedar mengajak basa-basi.

Datang ke resepsi pernikahan mantan-kekasih tidaklah mudah bagi kebanyakan orang. Namun apa daya, setelah dia berpisah dan menyerah untuk mendapatkan kembali hati Yulia, Uche memintanya untuk tetap menjalin hubungan pertemanan. Aku sering memperingatkan sobatku ini, bahwa menjalin pertemanan setelah putus itu memang oke secara teori. Tapi secara praktek, sama saja dengan bunuh diri. Itu akan jadi perpaduan tragis antara 'mengingat' dan 'menyesal'.

Otomatis, dengan keputusan ini dia harus menerima resiko paling menyakitkan, yaitu diundang jika satu hari Yulia menikah. Aku sempat melarangnya hadir, tapi dia tetap bersikeras ingin melihat Yulia bahagia di momen bersejarah ini. Setelah aku menawarkan untuk menemaninya, dia setuju.

Seorang ibu satu anak yang tergolong masih muda, duduk bersebelahan dengan kami. Jika dilihat dari penampilan dan wajahnya, mungkin wanita ini hanya beberapa tahun lebih tua dari kami.

Prosesi akad akhirnya dimulai. Suasana yang tadinya berisik, sekarang menjadi lebih tenang dan sunyi. Kesunyian tidak berlangsung lama, setidaknya di sekitar tempatku duduk. Ada satu suara kecil yang langsung membuat adrenalinku berlari kencang. Pikiranku mendadak kacau, dan ada satu firasat aneh yang membuat bulu kudukku merinding. Aku segera melirik ke samping kiri, dan nampak si Ibu Satu Anak sedang menengok pada orang yang duduk di sebelah kananku. Dengan perlahan, aku mengalihkan pandanganku ke arah kanan.

Air terlihat sedang asyik mengalir dari bola mata kawanku. Wajahnya menunduk, ekpresinya kosong melompong. Aku terbujur kaku menyaksikan fenomena miris ini. Si Ibu Satu Anak, yang menunjukkan rasa iba sekaligus haru, segera mengambil tisu dari tasnya. Uche menerima tisu itu dan berterima kasih.

"Maaf, saya jadi ikut terharu." ucap wanita berhati lembut ini, sambil mengusap wajahnya yang juga meneteskan air mata. "Sebelumnya saya belum pernah melihat tamu undangan laki-laki sampai menangis seperti itu."

"Gak apa-apa kok, Mbak." jawabnya dengan tenang.

"Pasti salah satu pengantin ini berharga banget ya buat kamu? Apa kalian teman baik?"

Uche tersenyum. Senyuman yang bukan merupakan topeng ajaib. Senyuman ciri khas yang selama ini kutunggu-tunggu. "Iya. Dulu kami lumayan dekat."

100 Kritik Jahat

Wah kalau cerita fiksi ini di buat film pasti seru dan bikin baper deh :D

Kenapa si Osa jadi ikut disamber geledek murkanya Yulia yah
Yulia-nya ga suka ama persahabatan Uche-Osa kayaknya tuh

Andai miripnya dengan matahari pasti seru tuh kang, ahi hi hi.

intinya sih uche ditinggal nikah sama yulia. dan osa sbg temen deket nyaris kena amukan yulia saat uche-yulia bertengkar.. duhhh gak ngebathinin deh sih uche nangisnya gimana, proses akad nikah didepan matanya itu, oiyy sang mantan.. :D
cukup nekad jg ya datang ke acara pernikahan mantann,,,hehe

Si ibu muda itu siapa hayo, kok ikutan menangis? Jangan-jangan pengantin prianya punya hubungan dekat juga tuh sama dia :)

aduh jadi ikutan nangis nih, udah seember.. btw keren ceritanya, ngalir dengan mantap, lanjutkan bro.. bisa jadi novel nih

Karakter Uche, yang mencintai satu wanita tapi kedapatan suka jalan lagi sama cewek lain, serius, teman kuliah saya ada yang kayak gitu mas agia... Memang pria itu brengsek.... wkwkwkwkw hehehehehe :D

Walau uche ditinggal nikah
Suatu saat dy akan menikah sakura
Karna uche it adalah ucheha sasuke

mungkin uche belum ketem jodohnya ajijah
sabar ya uche :D

Hehe. Iya mungkin, Teh.

Film apaan tuh, kang Fendi...

Film kartun? Haha.

Iya kali, Mbak. Sepertinya gitu..

oh ya selamat idul fitri yaa son, mohon maaf lahir batin
saya sdah follow blogmu nih btw :)

Iya, nekad.
Mbak Rahayu sendiri gimana? Suka hadir di nikahan mantan?

Hahaha. Ini bener juga nih.. Saya aja gak kepikiran sampe situ, mbak. Thanks..

Jangan nangis disini, ceesku. Malu ama tetangga..

Hahaha serius punya temen yang kaya gitu? Thanks kang Diar..

MANA ADA YANG KAYA GITU???!! Ada-ada aja nih, si Coklat sialan...

Ngomong-ngomong, makasih yosh, kau udah setia mengunjungi tempat barokah ini, cees.

Wokeh... Saya juga sudah memfollow blognya Teh Ninda, udah dari dulu sih, sebenernya hehe.

Lagi-lagi orang-orang gagal move on. Kenapa mesti sedih ya, padahal banyak banget cabe-cabean yang butuh kasih sayang.

Fiksinya bagus. Ada beberapa kalimat yang bikin aku senyam-senyum atau ketawa kecil karena pemilihan katanya yang what-the-fck-keren-banget-sialan. Dan terakhirnya...... Uuh. Sedih :(

Jadi... Osa kapan nikah? Eh, yang nulis fiksi ini aja deh, kapan nikah?
Huahahahaha.

*kabur naik buraq*

ini endingnya kalau gue nggak salah tangkep, mirip sama ending film you are the apple of my eye yak..

Cieee yang pernah nangkep cabe-cabean.. Ngasih Tipsnya juga kaya gitu...

*Jleb*

Aku Menunggu kamu siap, Icha. Haha...

Cerpennya bagus bangetttt...
Aku suka. Realistis soalnya..

menjalin pertemanan setelah putus itu memang oke secara teori. Tapi secara praktek, sama saja dengan bunuh diri. Itu akan menjadi perpaduan tragis antara 'mengingat' dan 'menyesal'.

Paling suka bagian yang itu... *pengalaman pribadi ni yeeee...

Ishhh bagus ceritanya..ada pesan moralnya lagi..hahaha..mantappp bro!

Cerpennya keren kang. Dari fragmen kecil, saat menghadiri nikah mantan- bisa menghadirkan cerpen. Saya baca dengan penuh kenikmatan lo. Lanjutkan.

You're the Apple of My Eye mah salah satu film favorit saya tuh.

Haha endingnya beda jauh, cees.

Pengalaman pribadi? Astaga.... Kenapa Teteh berpikiran sinis seperti itu padaku? ;-(

Hahaha..

Makasih sudah menyempatkan berkunjung, mbak.

Ah gak juga, kang.

Oke terima kasih :)

Aha ha ha (ketawa sambil garuk garuk layar monitor yang sedang dilihat).

Uche mirip dengan kehidupanku sehari-hari. Pria yang sok egois dan kalah jika soal asmara.

wih Uche dengan topengnya.Duh jadi mikir sanggupkah saya ke nikahan mantan

hahaha, mau ganti cuman punya duit 4ribu yah. padahal mah balik aja dulu kerumah bawa duit biar bisa ganti sama si uche biar si yuli ga ngomong lagi:D

sebenarnya bukan kendala pada teman yang membawa hal yang buruk sih, mungkin memang banyak perbedaan pendapat pada pasangan tersebut, bner lho kalo nyari pasangan itu harus yang bisa kompak biar langgeng harus satu arah satu tujuan..

(Uche tersenyum. Senyuman yang bukan merupakan topeng ajaib. Senyuman ciri khas yang selama ini kutunggu-tunggu. "Iya. Kami lumayan dekat.")

Jangan - jangan yulia marah karena uce sama osha????

hahahhahaha

pinter bikin cerita yah..
Mirip seperti temenku, dia punya blog juga dan caranya curhat sehari-hari seperti cerita. Ada kutipan-kutipan setiap percakapannya juga. Keren deh.

Hahaha ketahuan nih jati dirimu seperti apa...

Gak apa-apa, ceesku. Seperti kata komen kang Haris diatas, masih banyak cabe-cabean diluar sana yang membutuhkan kasih sayang.

Harus sanggup, mbak Rosa. Ayo semangat, hhancurkan pernikahannya!! Hahaii

I like your comment. Bener tuh kesimpulannya, kang Hendri.

Haha ada-ada aja.

Cieeeeeee teh Wuri kayanya update soal perkembangan LGBT Hehe :)

Hehe Iya, ini namanya cerpen, neng.

Oya? Temen yang mana nih? Temen cewek yang ada di postingan blog kamu itu bukan? hihi

kok saya kebawa suasana gini yah, gak tega juga baca si uche sampe nangis gitu, pasti dia cinta sekali.Mungkin kebodohannya depan yulia adalah cara dia menghibur diri dan tentunya ingin mendapatkan perhhatian lebih dari yulia. Tapi apa daya sinyal yang diberikan uche ternyata ngadat dan berujung kisah pilu.

sob kayaknya lu punya bakat bikin novel deh,alurnya enteng dan mudah diserap nih. sekali-kali cobalah buat cerita fiksi yang agak panjang dengan tokoh yang baru. saya tunggu cerita fiksi lainnya,oke

Kami bagaikan dua anak punk-rock yang sedang dibully oleh fans K-Pop. <--- hahhahaa.. ngakak pas di bagian ini.

btw, sebenarnya ide ceritanya biasa saja, tapi cara kamu membawakan cerita yang asik. ngalir dan bikin aku ngebacanya sampai ending cerita. keren!

iya dong, soalnya kan saya emang udah nikah, cuman terkadang ada perbedaan pendapat dikit tapi masih bisa diselesaikan dengan baik

Aduh jadi gak enak nih. Ditunggu-tunggu ama akang Bimo Aji :)
Oke siap kang.

Yang keren mah Teteh Perempuan November. Kok mau-maunya baca sampai ending. Ini sungguh jarang terjadi.

Thank you :)

Ahaaa celana pns dari sutra ya mas wakaaakk
Kasian uche ya, udah nemu kriteria yang pas, e diputus uhuh

itulah mas kalau satu teman namun beda pendapat.....tak jarang suka berantem gara-gara beda pandangan

Dari bertengkar mau putus sampe ngomongin soal pinjam barang :D

Sedih ditinggal nikah mantan. Makanya jangan punya mantan. Eehh :p

Haha iya, teh.

Btw, jangan panggil 'mas' dong, teh Nit. Berasa aneh aja gitu kalo orang sunda dipanggil 'mas'. Haha. Panggil saja Son hihi

Novel apaan... :-t

Saya suka nulis juga enggak, Teh Dian.
Ini mah buat caper doang haha.

'Satu teman namun beda pendapat'

Oh jadi gitu ya. Thanks pencerahannya (o)

huahaha... iblis urakan, untung aing urang sunda, jadi ngarti dikit lah.. sungguh kisah yang dramatis.

kalau untuk itu sih terserah si pembuat cerita :D

Iya serius mas agia.... :D Padahal tampangnya biasa-biasa aja, lebih ganteng gue wkwkwkwkwkwkwkw hehehehehehe :D

belum pernh dtng ke acara nikahan mantan mas. gimana ya mantan gak jelas gtu gak sibuk dikepoin lg :D
malah ad yg udah punya anak saya gak tau tuh kapan dia nikahnya. mantan esde pacaran dlu :D :D

Aduh kak kamu buat cerita yg bikin baper.
Tapi lagian juga Si Uche jga egois...malah mainin perasaan orang.
Nah pas si Yulia nikah kan nyesel...pake banget.

Jadi ingat lagunya Sheila On 7 yg judulnya "Yang Terlewatkan". Hiks
Judulnya itu kek gini seharusnya : Ketika Mantan Menjadi Manten :p
wkwkwkwkwk

Hanjiiir :' bisa ya bikin fiksi yang begini :' lengkaaaap, ada humornyaaa ada sedihnya :' kampreeet :D kereeen :3

Baca ceritanya jadi baper..bukan apa2 sich, ceritanya agak mirip dengan kisah ku beberapa tahun yang lalu. Aku pernah kehilangan seseorang yang terbaik dalam hidup ku. Memang penyesalan datangnya selalu terlambat. Sama seperti Uche, yang tersisa hanya penyesalan akibat dari ke egoisan diri.

Keren mas...maksudnya bukan mas admin yang keren, tapi tulisannya sudah bisa membuat saya baper..haha

Sukses selalu buat mas dan blognya :)

Tulisan fiksinya bagus kak, dan rawan baper... lebih terfokus pada bagian karl maxnya haha
Kasihan uche :')

kisah fiksi yang menarik dan disana apapun bisa terjadi dan dihalalkan, namanya juga cerita fiksi...sebagai sutradara saya tertarik untuk mengangkat DIA SEPERTI PLANET MERKURIUS ini kelayar LCD, gimana? apakah diijinkan saya follow blognya?
follow balik ya...awas kalau nggak..siah tah

Wanjrit. Itu mah lagu kesukaan saya atuh, Ta. Haha.
"Kemana kau selama ini? Bidadari yang kunanti."

Lebih keren Febri Dwi Cahya Gumilar. Nama-nya aja 4 kata, kaya orang-orang arab 8-)

Waduh...
Sedih juga pengalamanmu itu, bang Sonny :p

Oke, Sangkyu.

Oya? Ada apakah dengan Karl Marx? Haha.
Makasih udah berkunjung :)

Haha layar LCD...

Oke siap laksanakan, mang Lembu!

Tulisannya nagih lho, bang.. yang bikin baper begini ada lagi? hehehe

Mau - mau ajah yah si uche datang ke nikahan mantannya.. itu pasti sakiit... jhahah :D

jhahaha,,, wah gosip baru nih,,, ternyata mang lembu juga merangkap sebagai sutradara..

gue juga rada-rada mirip uche :') keep strong ajalah.

Bikin baper? Waduh masa sih....(o)
Thank you udah datang kesini, Ratih.

Iya kayanya sakit, deh.
Btw, nama belakang akang kok bisa sama kaya bapak saya yah..

Haha gimana mau mirip. Emang lu pernah lihat wajah si Uche? Gue aja belom pernah :>)

Berhubung mata saya agak pedih kalo membaca cerita yg panjang-panjang, jadi hanya bisa berkomentar : Hidup Urang Sunda! seperti yang Kang Son teriakan, sekian dan terimakasih.. hehehehe...

Oya saya juga lapor kang, udah follow blog-nya yah...

Oke. Saya sudah follow balik blognya kang Maman.

Keren juga cerpenya, kamprett.
Uche nama yang keren.
Ngamuknya ada yang nyunda bikin ketawa bacanya. Gak ngerti artine.

Itu baru baik, mantan nikah nyempetin buat dateng.

Itu maksud judulnya dia seperti planet merkurius itu dia jauh sulit terjangkau kah. Kirain masih berlanjut kisahnya saat ada tokoh si ibu... kirain si ibu ini istri pertama mempelai pria... wkwkwk.

Mana dong artikel terbaru nya son.. :) reques yang unik yh biar seru dan ngurangin rasa kantuk. hehe

nangis bahagia, liat pemeran utamanya ngenes idupnya!

Kereeeeeeennnnnnn

Jadi pengen nulis lagii

Waw ada bung Adi. Selamat datag, bung.
Salam olahraga 8-)

Imajinasi yang tinggi dan keren...

Mantap, mbak hihi

Waduh. Nanti deh, nungguin Fendi nikah dulu. hahaha.

Nulis, Kang...
Semoga dengan menulis, akan ada seorang wanita yang ngajak nikah. Ini saya juga lagi ngarep.

Saat Indonesia terlalu memiliki banyak bahsa. Jadilah percampuran dua bahasa yang bikin aneh. :v
Wkwkk... kocak dialognya.

Uche baru aja melewati proses dewasa..
udeh bener2 strong dah.. biar ditabok pake tameng kapten amerika ke mukenye, dia pasti gak ngerasain

Ehh ada kak Rin. Silakan duduk, kak. Mau makan apa nih? :>)

Buseeett. Sadis amat ditabok pake tameng Kapten Amerika :p

Wahh kalau nunggu saya nikah mah lama kang.. jangan salah lhoo saya masih muda kali.. wkwkwk

Wah... ada yang nawarin makan nih. :>)
Boleh deh kalo ada martabak takoyaki keju. 8-)
Ayolah bikin tulisan untuk tantangan MFF.

jiahhh uche, untung fiksi, kalo nyata kumaha ya haha, ini yang dianggap merkurius si yulia kan, kalo siang 400 derajat celcius, kalo malem minum derajat celcius suhunya, tapi kanyanya kurang keliatan karakter waktu ademnya

Mmmhhh emang yah? Haha saya aja baru nyadar, kak Evrina..

dibuat novel seru juga ni ceritanya ....:)

Kenapa endingnya gak tiba2 Uche bikin rusuh trus bawa kabur Yulia kayak film2 India aja.. Hehe.

Keren cerpennya *lanjut baca tulisan lain yg lain*

Seperti dicetuskan Green Day dalam lagu Warning: "Hiduplah tanpa menghiraukan banyak peringatan dan instruksi."

Jadi, silakan komentar apa saja. Bebas...
EmoticonEmoticon