Fakta destruktif: Saya lumayan jago dalam hal gagal cinta. Dengan kata lain, saya fobia cinta-yang-berhasil.

“Terhitung mulai umur 16-17 tahun (SMA) hingga sekarang, dari sembilan wanita yang pernah Son suka (yang dulu sangat dinanti-nanti untuk jadi tambatan hati yang terdalam), hanya satu orang yang berhasil dia bajak. Dan delapan orang sisanya, selain lari, mereka akan segera dibajak oleh perompak lain.”

Statistik ini menunjukan bahwa saya lebih sering mendekam di ruangan 3x3 meter (nangis) daripada senyum-seyum sambil menyanyikan lagu Naff - Akhirnya Ku Menemukanmu. Atau lebih jauh lagi, ini menunjukkan bahwa saya lebih sering tertawa sendiri dibanding tertawa dengan orang lain.

Dengan CV yang minim ini, mungkin orang akan berasumsi:

- Apakah ini dikarenakan salah memilih target? Bisa jadi (78%).
- Apakah ini gara-gara si target memang tidak membalas perasaan? Sip (92%).
- Apakah ini karena timing yang tidak tepat? Masuk akal (63%).
- Apakah ini karena saya yang memang bodoh dalam menjalankan misi?

Anggapan yang terakhir itu, ceesku, adalah yang 100% paling memungkinkan.

Interaksi adalah hal yang umum dilakukan oleh manusia. Baik interaksi dalam lingkungan teman, pekerjaan, kuliah, maupun interaksi untuk menjalankan misi ‘mendapatkan target’. Kenyataannya, mungkin saya bisa dibilang amatir melakukan interaksi yang disebutkan terakhir tadi. Terkadang saya tersesat, membisu, panik, dan salah tafsir saat berbicara/berinteraksi dengan lawan jenis yang saya suka.

Jika hal-hal tadi (tersesat, membisu, panik, dan salah tafsir) bisa saya atasi, masalah lain seringkali muncul: (1) Finishing yang salah. (2) Mereka tidak suka, lalu menolak secara baik-baik. (3) Mereka sudah dimiliki. (4) Mereka lebih suka menjadikan saya teman.

Poin nomor 2 dan 4 sekilas tidak memiliki perbedaan mencolok, tapi saya tegaskan satu hal: ini jauh berbeda cees. Poin nomor 4 ini terjadi karena metode yang saya pakai salah. Pernah suatu hari teman saya, Anggita mengatakan, “Si Agia mah tipe orang yang solid ke temen, tipe orang yang ‘temen banget’.”

Asumsi saya mengenai pendapat Anggita itu adalah: cara saya berinteraksi, baik kepada teman maupun target, cenderung tidak beda. Singkatnya, interaksi yang saya gunakan hanya berlaku untuk teman, dan akan 100% gagal jika dipakai untuk target. That’s it. Fenomena ini sudah tidak aneh.

Seiringnya umur bertambah (23), sekarang saya lebih terbuka dalam ber-asmara. Alhamdulillah visi saya jadi lebih luas; hati saya jadi lebih immune; saya jadi lebih pilih-pilih akan segala sesuatu; dan tentunya sekarang saya selalu mengedepankan 'konsekuensi' dibanding 'keberhasilan'.

Seperti dicetuskan Green Day dalam lagu Warning: "Hiduplah tanpa menghiraukan banyak peringatan dan instruksi."

Jadi, silakan komentar apa saja. Bebas...
EmoticonEmoticon