Seperti biasa, tulisan ini hanya sekedar analisis tentang kehidupan yang tidak akan menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah.

Kepercayaan diri adalah hal yang vital bagi seorang makhluk hidup, khususnya bagi populasi manusia. Memang vital, tapi apakah penting? Tergantung, apakah rasa percaya diri itu bersifat menguntungkan atau tidak. Jika seseorang memiliki karakter over-confident, itu jelas akan merugikan dia suatu saat nanti. Namun, jika seseorang sudah gagal dalam misinya, apakah kepercayaan diri dibutuhkan? Jelas.

Insecurity adalah rasa tidak aman akan kegagalan. Oke, akan saya analogikan dengan satu kasus. Saya punya teman kuliah, sebut saja Fuck. Dia adalah mahasiswa yang selalu merasa bahwa dia madesu, orang gagal, orang tolol dan sebagainya. Cara dia bertutur kata pun luar biasa 'indah'.

Dia selalu menyisipkan kata-kata seperti: “Saya takut gagal”, “Saya menyesal tapi saya gak mau berlarut-larut dalam kegagalan ini”, “Saya selalu tersenyum, padahal semua rasa ini saya pendam semua”, “Saya harus bisa jadi orang yang lebih baik mulai sekarang”.

Kurang lebih seperti itulah dia. Saya sih dengernya malah lucu-lucu saja. Tidak ada rasa iba atau sinis sedikit pun. Namanya juga teman. Saya sudah terbiasa memiliki teman dengan berbagai macam sifat. Tapi yang saya sayangkan dari si Fuck ini adalah sifat insecurity-nya. Dia memang tidak pernah memperlihatkan keresahannya dalam aktivitas sehari-hari, bahkan bisa dibilang dia terlihat biasa-biasa saja seperti manusia pada umumnya.

Namun, satu hal yang menjadi keresahan saya dari orang ini adalah sikap 'mendung'-nya yang berlebihan. Contoh yang lebih kongkrit lagi dari si Fuck: setiap kali dia (tim kami) kalah dalam permainan futsal/main bola, dia selalu muram. Itu nampak jelas dari gerak-geriknya. Bahkan tidak jarang ini juga membuat kami merasa tidak nyaman. 

This is about mentality, mate. Saya bukan melarang untuk berduka, karena menurut saya itu hal yang lumrah. Poin yang mau saya sampaikan di sini bukanlah "mengapa seseorang bisa kecewa?", "kapan seseorang bisa larut dari kekecewaannya?", atau "apa efek yang ditimbulkan dari rasa kecewa ini?" Tidak, itu semua tidak penting. Yang mau saya garis bawahi yaitu "bagaimana seseorang bisa menghindar dari efek kegagalan?". Karena menurut saya, kita juga harus ‘pilih-pilih’ dalam berduka. Jangan asal nge-down saja. Selektif lah sedikit.

Hal yang saya takutkan nantinya adalah bukan efek bagi orang di sekitarnya, melainkan efek bagi dirinya sendiri. Saya takut mental dia kedepannya akan rapuh. Saya takut dia akan jadi orang yang mundur, ketika tahu bahwa impiannya mustahil, padahal tidak se-mustahil itu.

Kesimpulan yang saya ambil dari si Fuck ini adalah: memang bagus jika seseorang nyadar diri dan kecewa dengan kapasitasnya di masa lalu atau masa sekarang. Tapi, jangan pernah itu menghantui kepala dan menjadikanmu nantinya terlihat lemah bagi orang lain maupun bagi diri sendiri.

Seperti dicetuskan Green Day dalam lagu Warning: "Hiduplah tanpa menghiraukan banyak peringatan dan instruksi."

Jadi, silakan komentar apa saja. Bebas...
EmoticonEmoticon